pelita.anak.amaine

-Ringkasan  Jurnal “Perilaku Agresif pada Polisi Lalu Lintas di Terminal Blok M Jakarta-

Subjek yang disorot dalam jurnal ini adalah Polisi Lalu Lintas yang sedang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat di Terminal Blok M, DKI Jakarta,  untuk menciptakan keamanan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas. Terminal Blok M letaknya strategis, yakni di daerah Jakarta Selatan, memiliki 2 jalur masuk, 6 jalur keluar bus dalam dan luar kota, 1 jalur Trans-Jakarta (Busway), dan juga dikelilingi oleh pusat perbelanjaan juga perkantoran.

Di tengah segala kondisi di terminal Blok M yang identik dengan kepadatan, keruwetan, dan kebisingan, sangat mungkin menyebabkan Polisi Lalu Lintas menjadi merasa mudah marah, kesal dan frustasi terhadap ketidaktertiban, ketidaklancaran yang terjadi, dimana hal ini merupakan salah satu sebab timbulnya perilaku agresi.

Tujuan penelitian ini agar lebih mendalami gambaran perilaku agresif  Polisi Lalu Lintas di terminal Blok M, dengan menggunakan pendekatan kualitatif (Creswell), yaitu suatu proses untuk memahami masalah-masalah manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran dan kompleks yang disajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan terinci dari pada sumber informasi, serta dilakukan dalam latar atau setting yang alamiah. Teknik pengumpulan data, yaitu wawancara terstruktur (dengan supir, pedagang, penumpang) dan observasi (pengamatan berstruktur).

Agresi adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti dan merugikan orang lain. Agresi terbagi 2: (1) Agresi Permusuhan (hostile aggression) semata – mata dilakukan dengan maksud menyakiti orang lain atau sebagai ungkapan kemarahan dan ditandai dengan emosi yang tinggi. (2) Agresi Instrumental (instrumental aggression) pada umumnya tak disertai emosi, hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan lain selain penderitaan korbannya.

Hasil Penelitian di lapangan menunjukkan, bentuk agresi yang dilakukan Polisi Lalu Lintas bisa berupa fisik, yaitu memukul dan menendang body bus pada saat bus sengaja memotong jalur sehingga membuat padat jalur sebelah kanan, memukul kaca mobil pada saat bus tidak segera berjalan. Agresi verbal, memaki pada saat supir bus tidak mau jalan sehingga menimbulkan kemacetan, berteriak kepada supir pada saat supir bus sengaja berlama – lama tidak mau jalan untuk menunggu penumpang. Agresi non-verbal, memasang wajah tak bersahabat/sinis ketika mengatur lalu lintas di siang hari, meniup pluit dengan keras jika supir mengangkut penumpang terlalu lama, berkacak pinggang pada saat mengatur lalu lintas, menghardik jika bus tidak segera berangkat saat lampu hijau sudah menyala di pintu keluar.

Faktor penyebab perilaku agresi yang dilakukan Polisi Lalu Lintas di Terminal Blok M disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: kondisi kemiskinan, kepadatan yang berlebihan, tindakan pemegang otoritas seperti polisi dan nilai kelompok kultural seseorang. Perilaku agresif juga dipicu dengan adanya kemacetan, kualitas udara(cuaca, polusi), dan faktor ketidaktertiban masyarakat (ketidaktertiban supir dalam berlalu lintas). Hal ini sesuai dengan (1) teori frustasi-agresi (frustration-agression hypothesis) berasumsi bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan, akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai  objek penyebab frustasi. (2) teori belajar sosial bandura lebih memperhatikan faktor tekanan dari luar. Dalam hal ini, keluarga, lingkungan budaya Polisi Lalu Lintas Terminal Blok M serta informasi dari media massa yang diterimanya.

Dampak perilaku agresif Polisi Lalu Lintas terhadap masyarakat sekitar:  berpandangan negatif dan timbul prasangka terhadap sosial, dan kesan yang tidak baik terhadap polisi. Kemudian dampak dari perilaku agresif Polisi Lalu Lintas terhadap ketertiban supir angkutan adalah kelancaran dan ketertiban lalu lintas di wilayah terminal Blok M namun pada saat Polisi Lalu Lintas bertugas

Dari penelitian ini diharapkan petugas lalu lintas dapat mencari solusi lain dalam menjaga ketertiban dan kelancaran lalu lintas, tanpa melakukan perilaku agresif terhadap supir. Peneliti juga menemukan hampir semua petugas lain seperti DLLAJ yang sedang bertugas di terminal blok M membawa tongkat kayu  untuk menertibkan kelancaran lalu lintas di terminal blok M.

Daftar isi

Cover Dalam………………………………………………………………………………………………….. i

Daftar isi………………………………………………………………………………………………………… ii

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………… iii

BAB  I    PENDAHULUAN……………………………………………………………………………… 1

BAB II    PEMBAHASAN………………………………………………………………………………… 3

2.1    Agresi……………………………………………………………………………….       3

2.1.1 Teori dan Konsep Agresi…………………………………………..       3

2.1.2 Proses Agresi……………………………………………………………       9

2.1.3 Faktor Perilaku Agresi……………………………………………….       9

2.1.4 Karakteristik Individu Mempengaruhi Agresi…………….     16

2.1.5 Bentuk – bentuk Agresi……………………………………………..     17

2.1.6 Evolusi Agresi…………………………………………………………..     18

2.2    Tayangan Televisi……………………………………………………………     18

2.2.1 Efek Televisi……………………………………………………………..     21

2.3    Analisis Ilustrasi Saat Anak Bermain……………………………….     23

2.4    Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura………………………….     25

2.4.1 Proses Kognitif Belajar……………………………………………..     26

2.4.2 Identifikasi…………………………………………………………………     27

2.4.3 Imitasi………………………………………………………………………..     28

2.4.4 Penelitian Bandura Tentang Efek Tontonan Kekerasan pada Perilaku Anak   ………………………………………………………………………………………… 29

2.5    Fenomena Lain Penyebab Perilaku Agresi pada Anak…..     34

2.5.1 Perilaku Agresif pada Anak Hobi Video Game…………     34

2.5.2 Kekerasan Game GTA………………………………………………     35

BAB III   Peran Orang Tua Dapat Meminimalisasi Efek Tontonan Kekerasan..… 39

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………. 40

1. Pengertian Agresi

Dalam psikologi dan ilmu sosial lainnya, pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Perilaku yang secara tidak sengaja menyebabkan bahaya atau sakit bukan merupakan agresi. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. Agresi tidak sama dengan ketegasan.

Agresi adalah fenomena kompleks yang terdiri dari sejumlah perilaku dari jenis yang lebih khusus. Segala bentuk perilaku yang disengaja terhadap makhluk lain dengan tujuan untuk melukainya dan orang yang dilukai tersebut berusaha untuk menghindarinya. (Baron & Byrne, 1984)

Empat masalah pokok  mencakup agresi:

    1. Agresi merupakan perilaku
    2. Ada unsur kesengajaan
    3. Sasaran makhluk hidup à manusia
    4. Ada usaha menghindar pada diri korban.

Menurut Buss, Agresi manusia tidak muncul sebagai adaptasi khusus untuk menangani masalah tertentu tetapi muncul sebuah adaptasi untuk menangani sejumlah masalah yang berkaitan untuk kelangsungan hidup manusia.

2. Bentuk-bentuk Agresi

Manusia akan cenderung melakukan perilaku agresi bila ada faktor-faktor eksternal ataupun internal yang membuat seseorang merasa terancam atau terusik ketenangannya. Setiap kondisi dan situasi, individu akan mengekspresikan perilaku agresifnya ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Buss dan Perry berpendapat bahwa ada empat bentuk pola agresi yang biasa dilakukan oleh individu, yaitu agresi fisik, verbal, kemarahan, dan kebencian.

1.Agresi fisik

Agresi yang dilakukan untuk melukai orang lain secara fisik, seperrti memukul, menendang dan lain-lain.

2.Agresi verbal

Agreesi yang dilakukan secara verbal kepada lawan, seperti mngumpat, menyebarkan cerita yang tidak menyenangkan tentang korban kepada orang lain, memaki, mengejek, membentak, dan berdebat.

3.Agresi Benci

Agresi yang semata-mata dilakukan sebagai pelampias keinginan untuk melukai, menyakiti atau agresi yang tanpa tujuan selain untuk menimbulkan efek kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.

4.Agresi instrumental

Agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu.

Moyer (1968)[1] menyajikan klasifikasi awal berupa tujuh bentuk agresi, dari sudut pandang biologis dan evolusi.

1. Agresi pemangsa: serangan terhadap mangsa oleh pemangsa.

2. Agresi antar jantan: kompetisi antara jantan dari spesies yang sama mengenai akses terhadap sumber tertentu seperti betina, dominansi, status, dsb.

3. Agresi akibat takut: agresi yang dihubungkan dengan upaya menghindari ancaman.

4. Agresi teritorial: mempertahankan suatu daerah teritorial dari para penyusup.

5. Agresi maternal: agresi dari perempuan/betina untuk melindungi anaknya dari ancaman. Ada juga agresi paternal.

6. Agresi instrumental: Agresi yang ditujukan untuk mencapai suatu tujuan. Agresi ini dianggap sebagai respon yang dipelajari terhadap suatu situasi.

3. Proses Agresi

Melalui pendekatan

1. Modelling

Hanya dengan melihat berbagai kejadian yang menstimulasi agresi, orang bisa menjadi agresif à modelling behavior (Bandura, 1973).

Proses modelling à ada hubungan emosional yang kuat antara model dengan peniru. Belajar sosial yang paling banyak berpengaruh adalah media televisi.

2. Belajar

Proses belajar untuk agresif melalui:

Reward

Kondisi                                              Penguat

Punishment

4. Jenis Agresi

Moyer (1976) mengidentifikasi setidaknya delapan berbagai jenis agresi pada hewan, yang semuanya dapat ditemukan, atau dalam bentuk lain, oleh perilaku manusia, antara lain :

1. Berkenaan dgn agresi

Contohnya pemburu untuk melacak dan membunuh binatang, seperti memburu rusa, rusa besar, rusa Amerika utara, beruang, pheasants, itik, dan geese. Lain-lain ikan untuk makanan atau olahraga.

2. Agresi Antar Jantan

Agresi yang secara tipikal dibangkitkan oleh kehadiran sesama jantan pada suatu species. Ancaman, menyerang, atau berkhidmat dengan perilaku laki-laki yang menanggapi laki-laki yang aneh. Di Amerika Serikat, 87% dari mereka ditangkap atas tuduhan pembunuhan dan aggravated penyerangan yang laki-laki.

3. Sesuatu yang Menimbulkan ketakutan bisa memunculkan agresi

Agresif perilaku yang terjadi ketika binatang adalah terkungkung. Menyerang perilaku biasanya didahului oleh upaya untuk melarikan diri. Untuk upaya penyelamatan, kriminal dan dihukum tawanan perang dalam biasanya sangat dibentengi rasa takut dan akhirnya akan muncul perilaku agresi

4. Agresi teritorial

Ancaman serangan atau perilaku bila penyusup yang ditemukan di rumah atau di wilayah pribadinya. Seorang pemilik yang menembak dan membunuh seorang penyusup kemungkinan tidak akan dikenakan biaya.
Usaha sering lebih memilih untuk membuat kesepakatan di wilayah mereka sendiri-mereka di kantor-karena mereka merasa ada di sebuah keuntungan. Negosiasi antara pihak berseteru biasanya dilakukan di wilayah netral. Ketika Reagan Presiden AS dan Uni Soviet Premier Gorbachev telah memutuskan untuk diskusi selama Perang Dingin, mereka ke Bali Islandia, dianggap sebagai sebuah negara netral oleh kedua belah pihak.

5. Agresi Ibu

Ibu akan menjaga anak-anaknya dari serangan dari luar. Bila seseorang menggoda untuk menyakiti anak-anaknya dalam bentuk apapun, ibu akan melakukan apa yang ada di kuasa untuk melindungi mereka.

6. Pemarah agresi

Perilaku Merusak diarahkan sebagai obyek dari hasil frustrasi, sakit, kerugian, atau lainnya yang termasuk bagian dari stressor. Untuk manusia, frustrasi hanya mengakibatkan agresi bila mereka yang besar dan tak terduga. Kami telah belajar untuk mengharapkan frustrations tertentu, seperti harus menunggu di baris atau duduk dalam kemacetan lalu lintas. Sakit dan kerugian sangat menarik motivasi negara. Berkowitz (1993) telah menyatakan bahwa bila perasaan negatif yang evoked, mereka sering mengakibatkan agresi mengamuk dan bahkan pada manusia. manusia harus perlu belajar lebih cepat beradaptasi reaksi.

7. Seks yang berhubungan dengan agresi

Agresif elicited oleh perilaku yang sama yang mengeluarkan stimulus seksual. Seseorang yang secara seksual excites juga dapat membuat merasa cemburu dan agresif jika, misalnya, kita melihat bahwa orang yang cintai bersama dengan orang lain. Kecemburuan terkait dengan keinginan untuk melestarikan kami di masa mendatang Genera ¬ HTI (Buss, 1994).. Verbal dapat menyertai agresi fisik seperti perasaan.

8. Agresi instrumental

Agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu.

5. Hubungan Struktur Otak, Hormon dengan Agresi

Laki-laki dan hormon Agresi Salah satu hormon utama terkait dengan agresi adalah testosterone. Dua penelitian desain telah digunakan untuk menentukan apakah testosterone menyebabkan agresi:

Karena itu akan tidak etis untuk mengurus testosteron untuk tujuan percobaan, peneliti telah mencoba untuk mengidentifikasi individu yang diberi obat-steroids-yang mengakibatkan kenaikan tingkat testosterone. Sebuah perbandingan antara berat lifters yang menggunakan steroids dengan nonsteroid pengguna berdasarkan pada Buss-Durkee permusuhan Inventarisasi menemukan bahwa pengguna steroid telah lebih tinggi dari permusuhan (Yates, Perry, & Murray, 1992).

Penelitian tentang dampak pemberian obat memberikan bukti yang lebih lanjut testosterone memainkan peranan penting dalam agresi. Reaksi agresif itu, menurut Prof. Soemarmo Markam, ahli saraf dan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dihasilkan oleh Amicdala. Ini salah satu bagian dalam system limbik pada otak manusia, yang berfungsi sebagai pusat perasaan. Bagian samping Amicdala memuat perasaan agresif, sedangkan bagian tengahnya memuat perasaan jinak. Bila seseorang mengalami tekanan psikologis terus-menerus, maka yang sering muncul adalah Amicdala bagian samping. Bagian ini menjadi dominan, sehingga orang itu bertindak agresif dan destruktif, Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan. Sebab, , sifat itu menurun hingga tiga generasi. Dan yang paling banyak mengalami adalah kalangan masyarakat strata bawah. “Hidup mereka penuh kekerasan untuk mempertahankan hidup, sehingga keturunannya menjadi agresif pula.

Sebaliknya, menurut Bruce Perry, kekerasan juga menyebabkan sistem kerja otak jadi mogok. Hormon stres tak lagi responsif, sehingga perasaan bocah itu tak lagi sensitif. Kasus ini bisa dilihat pada anak-anak yang suka menyakiti binatang. Misalnya yang dilakukan Luke Woodham. Sebelum menembak mati tiga temannya di SMU Pearl, Mississippi, Amerika Serikat, remaja ini memukuli anjingnya sampai mati. Ia kemudian membakar anjing piaraannya itu. Pendapat para ahli tersebut tak menafikan anggapan bahwa lingkungan yang buruk mempengaruhi perilaku bocah. Sebab, menurut Prof. Dadang Hawari, hal itu tak terlepas dari proses imitasi dan identifikasi yang muncul dalam perkembangan anak. “Kalau yang ditiru adalah tindak kekerasan, maka perangainya menjadi keras dan buruk.

6. Faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi pemicu perilaku agresi

Faktor yang berkaitan dengan agresi aktual:

  1. Provokasi

Seringkali agresi terjadi sebagai usaha untuk membalas agresi (counter agression). Untuk menghindari agresi, justru berusaha dengan jalan memberi perlawanan. Hal ini didasari suatu pemikiran bahwa cara bertahan paling baik adalah dengan menyerang à ujudnya bisa fisik/verbal.

  1. Kondisi aversif

Adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang ingin dihindari oleh seseorang. Menurut Berkowitz (1982) keadaan yang tidak menyenangkan sebagai salah satu faktor penyebab agresi. Alasannya adalah orang akan selalu berusaha mencari keseimbangan dengan jalan berusaha menghilangkan/ mengubah situasinya.

  1. Isyarat Agresi

Stimulus yang diasosiasikan dengan sumber frustrasi yang menyebabkan agresi (benda atau orang). Contoh: weapon effect).

  1. Kehadiran Orang lain

Kehadiran orang, terutama orang yang diperkirakan agresif, potensial untuk menumbuhkan agresi. Diasumsikan bahwa kehadiran tersebut akan berpartisipasi ikut agresi. Di lain pihak, kehadiran orang lain justru sering menghambar agresi.

Sebenarnya ada beberapa penyebab dari perilaku agresi, yaitu diantaranya sebagai berikut:

1. Amarah

Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak (Davidoff, Psikologi suatu pengantar 1991). Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi.

Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi. Ejekan, hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota seringkali saling mengejek pada saat bermain, begitu juga dengan remaja biasanya mereka mulai saling mengejek dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang diejek ikut membalas ejekan tersebut, lama kelamaan ejekan yang dilakukan semakin panjang dan terus-menerus dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi bahkan seringkali disertai kata-kata kotor dan cabul. Ejekan ini semakin lama-semakin seru karena rekan-rekan yang menjadi penonton juga ikut-ikutan memanasi situasi. Pada akhirnya bila salah satu tidak dapat menahan amarahnya maka ia mulai berupaya menyerang lawannya. Dia berusaha meraih apa saja untuk melukai lawannya. Dengan demikian berarti isyarat tindak kekerasan mulai terjadi. Bahkan pada akhirnya penontonpun tidak jarang ikut-ikutan terlibat dalam perkelahian.

2. Faktor Biologis

Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff, 1991):

a. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.

b. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.

c. Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.

3. Kesenjangan Generasi

Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak. permasalahan generation gap ini harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain agresi, masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan narkotik, kehamilan diluar nikah, seks bebas, dll.

4. Lingkungan

a. Kemiskinan. Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal ini dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di ibukota Jakarta, di perempatan jalan dalam antrian lampu merah (Traffic Light) anda biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih dari satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap di serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan resikonya anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang berani memukul pintu mobil anda jika anda tidak memberi uang, terlebih bila mereka tahu jumlah uang yang diberikan pada temannya cukup besar. Mereka juga bahkan tidak segan-segan menyerang temannya yang telah diberi uang dan berusaha merebutnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang seolah-olah biasa saja.

Bila terjadi perkelahian dipemukiman kumuh, misalnya ada pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang untuk beli minuman, maka pada saat itu anak-anak dengan mudah dapat melihat model agresi secara langsung. Model agresi ini seringkali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi-situasi yang dirasakan sangat kritis bagi pertahanan hidupnya dan ditambah dengan nalar yang belum berkembang optimal, anak-anak seringkali dengan gampang bertindak agresi misalnya dengan cara memukul, berteriak, dan mendorong orang lain sehingga terjatuh dan tersingkir dalam kompetisi sementara ia akan berhasil mencapai tujuannya. Hal yang sangat menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonomi & moneter menyebabkan pembengkakan kemiskinan yang semakin tidak terkendali. Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar dan kesulitan mengatasinya lebih kompleks.

b. Anonimitas. Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut.

Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.

c. Suhu udara yang panas. Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tapi bila musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga menjadi sepi.

Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992

5. Peran Belajar Model Kekerasan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga “games” atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan yang diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.

Model pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal ini sudah barang tentu membuat penonton akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang menyenangka dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model kekerasan dan hal ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku agresi.

Dalam suatu penelitian Aletha Stein (Davidoff, 1991) dikemukakan bahwa anak-anak yang memiliki kadar aagresi diatas normal akan lebih cenderung berlaku agresif, mereka akan bertindak keras terhadap sesama anak lain setelah menyaksikan adegan kekerasan dan meningkatkan agresi dalam kehidupan sehari-hari, dan ada kemungkinan efek ini sifatnya menetap.

Selain model dari yang di saksikan di televisi belajar model juga dapat berlangsung secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bila seorang yang sering menyaksiksikan tawuran di jalan, mereka secara langsung menyaksikan kebanggaan orang yang melakukan agresi secara langsung. Atau dalam kehidupan bila terbiasa di lingkungan rumah menyaksikan peristiwa perkelahian antar orang tua dilingkungan rumah, ayah dan ibu yang sering cekcok dan peristiwa sejenisnya , semua itu dapat memperkuat perilaku agresi yang ternyata sangat efektif bagi dirinya.

Model kekerasan juga seringkali ditampilkan dalam bentuk mainan yang dijual di toko-toko. Seringkali orang tua tidak terlalu perduli mainan apa yang di minta anak, yang penting anaknya senang dan tidak nangis lagi. Sebenarnya permainan-permainan sangat efektif dalam memperkuat perilaku agresif anak dimasa mendatang. Permainan-permainan yang mengandung unsur kekerasan yang dapat kita temui di pasaran misalnya pistol-pistolan, pedang, model mainan perang-perangan, bahkan ada mainan yang dengan model Goilotine (alat penggal kepala sebagai hukuman mati di Perancis jaman dulu). Mainan kekerasan ini bisa mempengaruhi anak karena memberikan informasi bahwa kekerasan (agresi) adalah sesuatu yang menyenangkan. Permainan lain yang sama efektifnya adalah permainan dalam video game atau play station yang juga banyak menyajikan bentuk-bentuk kekerasan sebagai suatu permainan yang mengasikkan.

6. Frustrasi

Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustrasi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi.
Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya, beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu. Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya.

Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.

7. Proses Pendisiplinan yang Keliru

Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membeci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (cth: dilarang untuk keluar main, tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka).

Dengan mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan diatas diharapkan dapat diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik dan terutama para remaja sendiri dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun agresi fisik dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Mungkin masih banyak faktor penyebab lainnya yang belum kami bahsa disini, namun setidaknya faktor-faktor diatas patut diwaspadai dan diberikan perhatian demi menciptakan rasa aman dalam masyarakat kita. Bukankah Damai Itu Indah.

7. Karakteristik Individu Mempengaruhi Agresi

Lepas dari pengamatan perilaku manusia menunjukkan bahwa manusia berbeda dalam kecenderungan mereka untuk bertindak secara agresif. Untuk menentukan apakah beberapa individu cenderung lebih terlibat dalam tindakan agresi atau mempunyai lebih banyak perasaan marah dan permusuhan. Buss dan Perry (1992) telah mengidentifikasi empat faktor atau komponen agresi yaitu agresi fisik, agresi verbal, marah, atau permusuhan. Agresi fisik dan verbal, yang melibatkan menyusahkan orang lain, mewakili instrumental komponen. Marah, yang melibatkan fisiologis terbangun, mewakili atau affec emosional. Permusuhan, yang melibatkan perasaan sakit dan akan ketidak adilan, merupakan komponen kognitif agresi (Buss & Perry, 1992).

1. Jenis Kelamin

Penelitian MacCoby & Jacklin (1974) menyimpulkan bahwa pria lebih banyak melakukan tindakan agresi yang bersifat fisik. Sedangkan menurut Watson, deBortali-Tregerthen, dan Frank (1984), wanita lebih banyak membutuhkan provokasi agar menjadi agresif. Wanita juga lebih empati terhadap korban agresi, sehingga menghambat berlaku agresif. Ternyata wanita juga lebih bisa meminimalkan perasaan jengkel.

2. Kondisi Fisik

Proses dalam tubuh mempengaruhi agresi. Dalam keadaan tidak enak kondisi tubuhnya misalnya karena kebisingan ternyata dapat memancing agresivitas (Donnerstein & Wilson, 1976).

3. Atribusi Penyebab

Individu yang sadar bahwa kemarahannya disebabkan oleh frustrasi di masa lalu, ia akan lebih rendah agresinya dibanding apabila penyebabnya adalah faktor luar saat itu. Perbedaan seperti ini antara lain mendasarkan pada hukum yang berlaku bahwa kesengajaan meminta pertanggungjawaban yang lebih tinggi.

4. Perhitungan Cost Agresi

Orang yang sadar harus mempertanggungjawabkan perbuatannya akan lebih berhati-hati dalam berbuat agresif. Dengan kata lain ia menjadi kurang agresif. Hal ini disebabkan terutama oleh adanya perhitungan berat ringannya tanggung jawab yang harus dipikul.

5. Deindividuasi

Apabila seseorang merasa identitasnya kabur atau menjadi anonimus, perasaan takutnya terhadap hukuman menjadi kecil. Dalam keadaan demikian ia menjadi lebih berani berperilaku agresi karena perhitungan cost baginya menjadi rendah.

6. Alkohol dan Obat Terlarang

Kriminalitas memang akrab dengan alkohol, demikian juga agresivitas. Menurut Moyer (1976) alkohol mempertinggi potensi agresif karena diperkirakan menekan mekanisme dalam syaraf pusat yang biasanya menghambat emosi untuk berperilaku agresif. Ada kecenderungan bahwa dengan minum alkohol orang bisa menjadi bebas, termasuk berbuat agresif, sehingga ia menjadi benar-benar agresif.

7. Media Masa

Televisi sebagai media masa seringkali menyajikan film kekerasan yang secara potensial sebagai objel modeling. Penonton usia muda lebih mudah terstimulasi oleh persoalan agresivitas daripada kelompok tua.

8. Evolusi agresi

Seperti kebanyakan perilaku lainnya, agresi dapat dilihat sebagai kemampuan yang bisa membantu binatang untuk selamat dan bereproduksi. Binatang menggunakan agresi untuk memperluas dan mempertahankan teritorial, termasuk berbagai sumber kehidupan lainnya seperti makanan, air, dan pasangan hidup. Peneliti telah berteori bahwa agresi dan kemampuan membunuh adalah hasil dari evolusi kita di masa lalu.

9. Cara-cara Mengurangi Agresi

Dalam suatu analisis mengenai perilaku agresif terdapat beberapa cara dalam mengurangi perilaku agresif dalam situasi tertentu, atau dapat belajar untuk menekan agresivitas pada dirinya. Oleh karena itu akan dijelaskan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mereduksi perilaku agresif. Adapun cara yang dapat digunakan untuk dpat mengurangi perilaku agresif, antara lain:

1.Menghukum Keadilan

Menghukum keadilan merujuk kepada kepercayaan bahwa perilaku tercela harus dihukum. Menurut menghukum keadilan, orang yang deviates perilaku dari norma (melanggar norma) harus dihukum untuk membawa perasaan jera.

2.Mengurangi frustasi

Dengan cara berfikir positif bahwa setiap permasalahan bahwa dapat diselesaikan dan tetap optimis.

3.Hambatan yang dipelajari

Dengan cara belajar mengendalikan perilaku agresif dan tidak peduli apakah diancam akan dihukum atau tidak.

4.Pengalihan

Mengekspresikan agresi terhadap sarana pengganti

5.Katarsis

Pelepasan energi dengan mengurangi rasa marah melalui pengungkapan agresi. Klasifikasi dan deskripsi gangguan kepribadian beserta tritmen-nya.

10. Berbagai Perspektif tentang penyebab perilaku agresi

1. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Bawaan

Freud (Barbara, 2005) dengan teorinya berpandangan bahwa perilaku individu didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sifat kemanusiaan, yaitu perilaku agresif itu berasal dari insting mahluk hidup yang pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam insting, yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos). Insting kehidupan terdiri atas insting reproduksi atau insting seksual dan insting- insting yang ditujukan untuk pemeliharaan hidup, sedangkan insting kematian memiliki tujuan untuk menghancurkan hidup individu (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003). Dalam teori ini perilaku agresif merupakan ekspresi dari adanya insting kematian. Insting inilah yang menjadi patokan untuk menjelaskan adanya beberapa bentuk tingkah laku agresif seperti peperangan ataupun bunuh diri. Freud (Baron dan Byrne, 2000) beranggapan bahwa insting mati yang dapat menjelaskan perilaku agresif mempunyai sifat katarsis atau pelepasan ketegangan yang dapat merugikan masyarakat.

Senada dengan pendapat di atas Ardrey (dalam Hudaniyah dan Dayakisni, 2003) mendasarkan pada teori evolusi Darwin dalam penelitiannya tentang perilaku agresif, berpendapat manusia sejak kelahirannya telah membawa killing imperativ dan dengan killing imperative ini manusia dihinggapi obsesi untuk menciptakan senjata dan menggunakan senjatanya itu untuk membunuh apabila perlu. Tetapi manusia memiliki mekanisme pengendalian kognitif yang mengimbangi “keharusan” membunuh salah satunya yaitu nurani yang memainkan peranan dalam menghambat agresi. Manusia telah diprogram (melalui evolusi) untuk mengancam, berkelahi, bahkan membunuh jika perlu untuk mempertahankan teritorialnya. Oleh karena itu terdapat keccenderungan manusia bersifat damai hanya terhadap orang lain dalam kelompoknya saja. Sebaliknya memusuhi orang di luar kelompoknya dan ingin menghancurkannya untuk mempertahankan eksistensi kelompoknya.

2. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar

Menurut teori belajar, kondisi dan tingkah laku agresif terhadap individu lain bukan bersifat instingtif, tetapi diperoleh melalui belajar. Sears, dkk (1995) menyatakan mekanisme utama yang menentukan perilaku agresif manusia adalah proses balajar masa lampau. Bayi yang baru lahir menunjukkan perasaan agresif yang sangat impulsif. Bila keinginannya tidak terpenuhi dia akan menangis keras, memukul- mukul, menghantam apa saja yang dijangkau. Pada kehidupan bayi tidak menyadari kehadiran orang lain sehingga tidak akan dapat mengganggu mereka secara sengaja. Bila bayi ini menyadari kehadiran orang lain, dia akan terus menerus melepaskan amarahnya dan mungkin mengarahkan kepada mereka. Tetapi pada masa dewasa ia akan mengendalikan dorongan impuls agresifnya secara kuat dan hanya melakukan agresi dalam keadaan tertentu.

Perkembangan ini disebabkan oleh proses belajar. Belajar melalui pengalaman coba-coba, pengajaran moral, instruksi khusus, pengalaman diri sendiri melalui pengamatan terhadap orang lain akan membantu mengajarkan cara merespon pada individu. Individu juga mempelajari bermacam- macam bentuk tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat melalui cara mempelajari akibat penampilan dari respon tersebut (Sears, dkk, 1995).

Salah seorang tokoh dalam teori belajar adalah Skinner, yang terkenal dengan teori operan conditioningnya. Menurut pendekatan pengkondisian operan ini bahwa perilaku apabila memberikan efek positif yang cenderung diulang dan sebaliknya jika memberikan efek negatif ditinggalkan (Sears, dkk, 1995). Salah satu mekanisme utama untuk memunculkan proses belajar adalah penguatan (reinforcement). Bila suatu perilaku tertentu diberi ganjaran atau hadiah (reward), kemungkinan besar individu akan cenderung mengulangi suatu perilaku tersebut di masa mendatang, tetapi jika perilaku tersebut mandapatkan hukuman (punishment) maka kecil kemungkinan akan mengulangi perilaku tersebut. Tindakan agresif biasanya merupakan reaksi yang dipelajari dan penguatan atau hadiah meningkatkan kemungkinan hal tersebut akan diulang kembali (Sears, dkk, 1995).

3. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar Sosial

Teori belajar sosial menekankan kondisi lingkungan yang membuat seseorang memperoleh dan memelihara respon-respon agresif. Asumsi dasar teori ini adalah sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas perilaku yang ditampilkan oleh individu-individu lain yang menjadi model (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003).

Motivasi individu untuk mengamati dan mengungkapkan atau mencontoh tingkah laku model akan kuat apabila model memiliki daya tarik dan memiliki efek yang menyenangkan atau mendatangkan penguatan (reinforcement). Sebaliknya, individu pengamat kurang termotivasi untuk mencontoh perilaku agresi itu tidak memiliki daya tarik dan dengan agresi yang dilakukannya si model tidak menyenangkan, efeknya negatif atau hukuman (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003).

Proses modeling menjelaskan bahwa anak mempunyai kecenderungan kuat untuk berimitasi (meniru), mudah berimitasi terhadap figur tertentu, misalnya tokoh yang terkenal, orang-orang sukses dan orang yang sangat akrab serta sering mereka temui. Figur yang paling mungkin menjadi model bagi anak adalah orangtuanya sendiri, oleh sebab itu perilaku agresif anak sangat tergantung pada cara orangtua atau orang dekat dalam memperlakukan mereka, karena perilaku orang disekitarnya dapat dipakai sebagai model yang ditirunya.

Menurut Bandura (dalam Berkowitz, 1995) dalam belajar obsevasional terdapat empat proses hubungan antara satu dengan yang lain saling berkaitan, yaitu:

Proses atensi yaitu proses individu tertarik untuk memperhatikan dan mengamati tingkahlaku model. Proses ini dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran model dan karakteristik yang dimilikinya. Model yang sering tampil dan memiliki karakteristik yang menarik akan lebih mudah mengundang perhatian dibandingkan model yang jarang tampil dan tidak menarik.

Proses retensi yaitu proses seseorang pengamat dalam menyimpan tingkahlaku yang telah diamati di dalam ingatannya.

Proses reproduksi yaitu proses seseorang pengamat menangkap ulang tingkahlaku model yang disimpan.

Proses motivasional dan penguatan yaitu tingkahlaku yang telah diamati tidak akan dilakukan apabila pengamat kurang termotivasi. Bandura percaya bahwa penguatan positif dapat memotivasi individu untuk mengungkapkan tingkahlaku tertentu. Probabilitas peniruan perilaku agresi akan semakin tinggi dengan adanya penguatan. Motivasi pengamat untuk meniru tingkahlaku agresi yang ditampilkan oleh model akan kuat apabila si model memiliki daya tarik yang kuat dan agresi yang dilakukan oleh model memperoleh akibat yang menyenangkan (efek positif), sebaliknya pengamat tidak termotivasi meniru agresi yang dilakukan apabila memperoleh akibat yang tidak menyenangkan atau hukuman.

4. Perilaku Agresif sebagai Dorongan yang Berasal dari Luar

Pandangan tentang perilaku agresif tidak berhubungan dengan insting, namun ditentukan oleh kejadian-kejadian eksternal, di mana kondisi tersebut akan menimbulkan dorongan yang kuat pada seseorang untuk memicu kemunculan perilaku agresif. Salah satu teori dari kelompok ini adalah teori frustrasi-agresi yang dipelopori oleh Dollard dkk (dalam Baron & Byrne, 2000). Teori ini menyatakan bahwa frustrasi menyebabkan berbagai kecenderungan, yang salah satunya adalah kecenderungan agresi, dan agresi timbul karena adanya frustrasi Apabila frustrasi meningkat, maka kecenderungan perilaku agresifpun akan meningkat. Kekuatan dorongan agresi yang disebabkan oleh frustrasi, tergantung besarnya kepuasan yang 1) diharapkan dan 2) tidak dapat diperoleh. Tepatnya jika orang tiba-tiba dihalangi untuk mencapai tujuannya, akan meningkatlah kecenderungannya untuk menyakiti orang lain, tergantung:

1. Tingkat kepuasan yang diharapkan

2. Seberapa jauh gagal memperoleh kepuasan

3. Seberapa sering terhalang untuk mencapai tujuan (Berkowitz, 1995).

Sears, dkk (1995) mengemukakan bahwa frustrasi adalah suatu gangguan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan, selanjutnya dikatakan bahwa salah satu prinsip dasar dalam psikologi adalah frustrasi cenderung membangkitkan perasaan agresi. Agresi selalu merupakan akibat dari frustasi dan frustasi selalu mengarah keberbagai bentuk agresi, berdasarkan teori ini dorongan untuk melakukan agresi meningkat bersamaan dengan meningkatnya frustrasi.

Dalam pandangan yang direvisi, agresi bukan satu-satunya, tetapi merupakan salah satu respon terhadap frustrasi. Individu yang frustrasi mungkin akan menarik diri dari situasi itu atau menjadi depresi. Sejauh tindakan agresif mengurangi kekuatan dorongan yang mendasarinya, tindakan itu akan bersifat menguatkan diri: kemungkinan respon agresif akan timbul mengikuti frustrasi yang dialami sebelumnya akan meningkat (Barbara, 2005)

5. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Katarsis

Tujuan perilaku agresif menurut teori ini adalah dalam rangka katarsis (pelepasan ketegangan) terhadap kompleks-kompleks terdesak dalam artian perasaan marah dapat dikurangi melalui pengungkapan agresi. Inti dari dari gagasan katarsis adalah bila seseorang merasa agresif, tindakan agresi yang dilakukannya akan mengurangi intensitas perasaannya. Hal ini pada gilirannya akan mengurangi kemungkinannya untuk bertindak agresif (Sears, 1995).

Samuel (dalam Hudaniyah dan Dayakisni, 2003) menambahkan bahwa ketegangan akan meningkat dan timbul berbagai respon dari dalam individu yaitu dengan:

Reinterpretasi, individu berusaha untuk menggunakan akal sehat atau pikirannya dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Timbul rasa marah, dimana kemarahan tersebut dapat berbentuk; upresi, individu melakukan penekanan terhadap rasa marah yang dialami. Penekanan ini dilakukan mungkin karena norma-norma masyarakat setempat atau norma keluarganya yang tidak mengijinkan untuk mengekspresikan kemarahan secara terang-terangan sehingga dapat mengakibatkan psikosomatis. Sublimasi, suatu bentuk penyaluran perasaan tegang atau kemarahan yang dapat diterima oleh masyarakat. Penyaluran ini dapat terwujud aktivitas-aktivitas kesenian, olah raga ataupun aktivitas bisnis yang mengandung  persaingan. Agresi, yaitu bentuk penyaluran yang dapat merugikan orang lain maupun diri sendiri, karena penyaluran ini bersifat mengganggu atau merusak.

Sebagai contoh yaitu  ketika seorang tiba-tiba mengklakson kita ketika mobilnya berada dibelakang kita maka kita akan marah dan pada gilirannya mobil tersebut berada di depan mobil kita, kita mengklakson balik maka kita akan merasa lega dan amarah kita akan berkurang.

11. Peran Orangtua Dapat Meminimalisasi Efek Tayangan Kekerasan

Pada gilirannya tayangan sinetron di televisi kita suatu saat akan menjadi sebuah “model” yang akan ditiru, baik oleh anak-anak maupun remaja. Tanpa adanya penjelasan yang logis kepada anak-anak, terutama anak di bawah usia, cerita dalam sinetron akan menjadi sebuah “pemodelan” yang akan ditiru dan digugu.

Dalam kondisi seperti itulah, kehadiran orangtua yang mendampingi putra-putrinya saat menonton dan turut menjelaskan logika cerita dalam sinetron merupakan sebuah langkah yang sangat bijak. Sebab, selain televisi, orangtua juga merupakan salah satu model yang menarik untuk ditiru. Orangtua merupakan model utama bagi seorang anak pada masa awal kehidupannya. Orangtua merupakan sumber penguatan dan obyek imitatif utama. Perilaku anak di masa datang sangat tergantung pada cara orangtua memperlakukan anak dan pada perilaku orangtua sendiri.

Mungkin kita-para orangtua-akan merasa kaget ketika mengetahui sebuah hasil studi yang dilakukan Michigan State University. Studi itu menunjukkan, kepada anak berusia empat dan lima tahun ditawarkan dua pilihan, yaitu berhenti menonton televisi atau tanpa bersama ayah mereka. Ternyata sepertiga dari anak-anak itu memilih lebih baik tanpa bersama ayah. Sebuah studi lain juga menunjukkan bahwa rata-rata anak umur lima tahun menghabiskan waktu hanya 25 menit dalam seminggu untuk bercengkerama dengan ayah mereka. Namun, ternyata mereka menghabiskan hampir 25 jam dalam seminggu untuk berinteraksi dan bercengkerama dengan televisi (Welch, 1987).

Mendampingi anak-anak ketika mereka berada di depan pesawat televisi, termasuk ketika menyaksikan adegan demi adegan dalam sinetron, merupakan tindakan yang bijaksana dan sebagai bentuk kasih sayang kita terhadap mereka.

12. Analisis Filsafat Mengenai Perilaku Agresi

Saya akan mengambil analaisis dari contoh kasus agresi Israel dan palestina. Aplikasi ini begitu nyata di dalam kehidupan kita, dan marak di dalam pemberitaan sehari – hari, dan entah sampai kapan akan selesai.

Dalam tatapan historis, agresi Israel dan Palestina bukanlah peristiwa yang baru melainkan sebuah peristiwa konflik lama yang belum terselesaikan. Namun peristiwa yang lama akan tetap menggurita, bahkan menjadi perbincangan publik, ketika peristiwa tersebut menjadi sebuah wacana,yang diproduk oleh pelbagai kelompok dan orang-orang muslim.

Dengan demikian tulisan ini akan difokuskan pada diskursus agresi Israel, yang cenderung memandang tindakan Israel sebagai tindakan hina, tidak manusiawi, bahkan menyebutnya sebagai laknatullah alaih. Sementara mereka mendukung Palestina bahkan berani membuka sukarelawan untuk menjadi pahlawan penyelamat atau mujahid kontemporer berperang menumpaskan Israel. Wacana inilah,yang menggelitik penulis untuk menjelajahi lautan muatan- muatan ideologis yang bersemayam di balik interpretasi kebencian terhadap agresi Israel.

Fenomena ideologis

Dalam paradigma strukturalisme, ada dua struktur yang melekat pada sebuah peristiwa agresi Israel, Palestina, yaitu surface structure yang kerapkali dipahami sebagai dasariah peristiwa,yang dalam konteks agresi dipahami sebagai pertentangan fisik,atau peperangan fisik. Struktur luar ini menampakkan bagaimana bunyi senjata saling berkumandang,rudal rudal saling memakan korban.namun dibalik itu semua ada deep structure yang melekat pada peristiwa tersebut yaitu makna ideologis yang menggerakkan terjadinya agresi yang berkepanjangan.

Dalam tatapan sejarah, agresi Israel Palestina berawal dari tahun1882 M melalui gerakan Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina sebagai keberhasilan kampanye Inggris dan Zionis yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu. Gerakan tersebut kemudian direspon oleh tokoh pribumi Palestina di yarusssalem pada tahun 1891 dengan,mengirimkan petisi kepada pemerintah Ottoman di Konstantinopel (Istambul), menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Pertentangan antara dassolen dan dassein yang dimilik oleh orang yahudi dan pribumi Palestina,bertambah dahsyat ketika peristiwa ini diperlebar kedalam wilayah kenegaraan,yang diperkuat oleh imperialisme inggris,yang mendukung gerakan Israel untuk menduduki Palestina. Singkat cerita, ternyata pertentangan kedua kubu negara tersebut masih sama sama mempertahankan luapan emosi gerakannya,yang berdampak pada peperangan dahsyat hingga saat ini.

Usaha Palestina dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya,ternyata di dorong dan didukung oleh HAMAS sebagai sebuah gerakan ideologis yang berbasis agama. Dari deskripsi sejarah di atas, dapat dikatakan bahwa agresi tersebut merupakan gerakan ideologis, yang dipelopori oleh dua aktor yaitu imperialis barat sebagai sutradara Israel, dan HAMAS sebagai sutradara Palestina. Dengan demikian, peperangan yang berkelanjutan ini bukanlah peperangan agama, melainkan perang ideologis yang saling memperebutkan kepentingan dan kekuasaan ideologinya.

Penabur Bibit Ideologi

Wacana Agresi Israel yang sampai saat ini masih berkecamuk,ternyata mengundang perhatian umat muslim untuk meresepsi wacana tersebut dan kembali untuk mewacanakannya dengan ideologi yang baru. Stuart Hall, dalam encoding dan decoding, memetakkan dua proses resepsi masyarakat terhadap sebuah wacana atau pesan-pesan ideologis yang terkandung di dalam wacana. a) conform, yaitu sebuah sikap penerimaan pesan yang dilakukan oleh masyarakat secara taken for granted. Artinya masyarakat tidak lagi berpikir tentang pesan tersebut yang penting dia mengikuti dan menerima apa adanya. Masyarakat ketika menerima wacana agresi Israel, baik dari media elektronik maupun media cetak, tidak melakukan proses berpikir mendalam, melainkan langsung mengklaim,dan berasumsi bahwa Israel telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi, karena agresi Israel banyak memakan korban. Sehingga, asumsi tersebut mengendap dalam memori dan mebuahkan kebencian terhadap Israel. b) opposited, yaitu sebuah penerimaan dan penggunaan pesan yang dilakukan untuk melakukan perlawanan terhadap pesan tersebut. Model ini kerapkali dilakukan oleh para elit, tokoh agama, kolompok keagamaan, yang memiliki kepentingan, dan bertentangan dengan wacana agresi tersebut.

Bentuk perlawanan ini, sangat bercorak ideologis dan kerapkali membawa citra citra agama,dengan imbauan imbauan emosi(emotional appeal). Model ini akan melahirkan tafsir ideologis. Misalnya bahasa jihad, untuk menjebak emosi masyarakat membenci Israel, dan tergugah untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Sehingga, berangkat dari tafsir kebencian inilah, banyak, SMS yang masuk pada penulis, baik dari kelompok keagamaan fundamentalis,bahkan akdemisi, dan ormas ormas islam yang lain, untuk mengintruksikan membaca qunut nazilah dengan harapan Allah memberikan kehinaan kepada Israel laknatullah alaih

. Berdasar pada model resepsi wacana agresi Israel yang terjadi saat ini, penulis berasumsi bahwa, wacana agresi Israel yang kembali diwacanakan oleh pelbagai umat muslim dan kelompok keagamaan yang berbasis kebencian, tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah dengan memperbanyak jumlah korban yang akan terjadi pada mujahid mujahid baru. Di sisi lain, sikap yang berdasar asumsi dan tafsir kebencian, akan membentuk bangunan emosi yang justru akan melahirkan agresi agresi baru dan berkelanjutan. Dikatakan demikian, karena agresi muncul dari luapan libido,yang kemudian didorong dan dikompori oleh realitas di luar dirinya,termasuk yang berupa citra-citra ideologis.

Untuk itu, harapan saya, hindari tafsir kebencian,dan tafsir ideologis, terhadap Israel, berikan dukungan moral terhadap kedua kontestan tersebut antara Israel dan Palestina, agar proses pertentangan tersebut bisa segera diselesaikan. Dikatakan demikan, karena penulis yakin bahwa antara Israel dan Palestina sama sama memiliki tujuan prioritas yaitu cinta akan nilai-nilai kemanusiaan. Akhir kata, bacalah sholawat agar syafaat rasul mengalir pada Israel dan Palestina,sehingga diberikan cahaya-cahaya kemanusiaan, dan kelembutan hati dan sikap,dalam menyelesaikan konflik yang semakin menggurita.

Daftar Pustaka

Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. 2007. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Baron, A. Robert dan Byrne. Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 1. 2003. Jakarta: Erlangga.

Rijal, Syamsul. Studi Filsafat Umum, dkk. Fakultas Usluhuddin, Institut Negeri Ar-Raniry: Banda Aceh

Soetardjo, Alfin Fadila Helmi. Jurnal dan Artikel Beberapa Perspektif Perilaku Agresif.

http://www.google.co.id

Laporan Kunjungan Tanggal 26 Juni 2009

Pada kunjungan kedua dari mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran. Hadir separuh dari mahasiswa psikologi angkatan 2008. Dari nomor urut 1 sampai 37 didampingi 2 Asisten Dosen, Ibu winda dan Ibu Uskur. Dan tepat pukul setengah sepuluh pagi itu sudah berkumpul di depan terminal lama, Setui. Tepat pukul sepuluh pula kami semua tiba di tempat yang kami tuju, yaitu Rehabilitasi Narkotika milik Yayasan Permata Hati Kita, belakang terminal Setui, Banda Aceh.

Setiba disana, kami dipandu oleh seorang psikolog, yang kami disapa Ka’ Ayu, yang didampingi beberapa staf, yang dulunya mantan pecandu narkoba, tetapi kini sudah bekerja dan mengabdi sebagai staff training.

Kemudian kami dipandu untuk masuk dan dipersilahkan duduk di sebuah ruangan. Dan kami duduk bersama 9 pecandu yang 7 diantaranya masih dalam tahap pengobatan, dan 2 dari mereka sedang menjalani tahap menjadi seorang staff training.

Rumoh Geutanyoe Tempat Rehabilitasi Milik Yayasan Permata Hati Kita berdiri tahun 2007. Dan sekarang sudah dihuni 49 orang pecandu yang berasal dari berbagai tempat dari penjuru Nanggroe Aceh Darussalam.

Jadwal yang telah diatur oleh staff Pembina pecandu di Rumoh Geutanyoe adalah sebagai berikut:

Bangun pagi pukul 5.30 pagi, kemudian melaksanakan sholat subuh. Pukul 07.30 setiap pecandu membuat jurnal pagi, yaitu tentang kegiatan yang akan dilakukan dan telah dilakukan kemarin, serta perasaan yang mereka rasakan pada saat bangun pagi ini, kegiatan ini disebut juga membuat jurnal pagi.  Kemudian sarapan. Dan mereka diwajibkan untuk membersihkan kamar, serta tempat tinggal hunian mereka. Setelah itu, kemudian masuk tahap terapi yang dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama pukul 10.00 sampai 11.30. Sesi kedua pukul 14.00 sampai pukul 15.30. Kedua sesi itu untuk melihat perspektif – perspektif penanganan psikologis untuk pecandu. Sesi ini disebut juga treatment, treatment yang dilakukan di Rumoh Geutanyoe, Pure Psikologis, tidak menggunakan obat – obatan dalam pemulihan dan pencegahan narkotika para pecandu.Pada sore harinya mereka dibiasakan untuk berolahraga.

Saat awal pecandu datang ke pusat rehab ini, mereka ditempatkan di ruang isolasi yang terletak di Lantai 2 gedung rehabalitasi, yang bertujuan untuk detoxsifikasi obat, yaitu selama seminggu, paling lama satu setengah minggu pecandu ditempatkan di sana, tergantung kondisi candu, dan jenis obat yang mereka candukan. Biasanya, saat masa detoxsifkasi obat, tidak ada nafsu makan, dan keringat keluar bercucuran karena menahan rasa sakit, yang 7x rasa sakitnya dari sakit gigi dicampur sakit kepala, canda yang diungkapkan oleh mantan pecandu yang sudah menjadi staff training di Rumah Geutanyoe dan menjadi Voluenteer di yayasan AYOMI, Ateuk Pahlawan.

Setelah dinyatakan aman kemudian mereka dipindahkan ke rumah yang sudah disiapkan kamar rapi untuk ditempati. Dan keadaan kamar para pecandu di sana, sangatlah ditata rapih, ruang makan, kamar mandi dan dapur bersih terawat. Satu kamar dihuni 4 orang. Ada 2 tempat tidur bertingkat. 2 lemari. Dan dilengkapi tempat kain kotor dan kain bersih untuk masing – masing orang. Serta tidak lupa dilengkapi pengharum ruangan di tiap – tiap kamar. Suasana di kamar di tata senyaman dan seindah mungkin. Semua itu bertujuan agar para pecandu yang sedang menjalani masa pemulihan dan pengobatan di Rumoh Geutanyoe betah, dan merasa seperti di rumah sendiri.

Asal usul kedatangan para pecandu ke pusat rehabilitasi ini berbeda – beda. Dari 9 orang pecandu yang bersedia berbagi pengalaman dengan kami. Hanya 2 orang diantara mereka yang datang ke pusat rehab karena keinginan untuk sembuh dari diri sendiri. Ada seorang pecandu yang terpaksa harus dibohongi dulu saat di bawa ke pusat rehab. Dengan alasan diajak lari pagi, pecandu satunya lagi dengan alasan orang tua sakit di Banda Aceh oleh keluarganya. Dan tiba – tiba saja diajak ke pusat rehab di bawa ke Lantai 2. Dan di kunci di ruang isolasi. Tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.

Ada 1 pasien yang sudah sempat di RSJ-kan, dan dirawat beberapa lama disana, dan diberi suntikan serta obat – obatan untuk orang penderita gangguan jiwa, sehingga keadaan pecandu tersebut sekarang sangat memprihatinkan. Bicaranya tersendat – sendat, suaranya kecil, dan mengalami kesulitan dalam berpikir dan berbicara.

Di pusat rehabilitasi ini, mereka ditekankan untuk menjalani pola hidup sehat, yaitu pola hidup orang normal, awalnya memang sulit, tetapi dari pengalaman yang diceritakan para pecandu, mereka akhirnya terbiasa, dan merasa nyaman tinggal di pusat rehab. Mereka saling mendukung satu sama lain, begitu juga dengan para staff dan psikolog yang menangani mereka, yang kebetulan satu – satunya psikolog perempuan di rumah rehab tersebut, yang kami temui. Rumoh Geutanyoe hanya menampung para pecandu laki – laki. Karena tidak memungkinkan bila digabung dengan pecandu wanita, karena juga sarana tempat tidak tersedia.

Para pecandu diberi rokok 6 batang/hari. Pemberian rokok mengingat mereka langsung putus obat sejak datang ke pusat rehab, maka rokok bisa membantu sedikit dalam rasa ketersiksaan mereka terhadap putus obat. Tetapi rokok tidak diberikan saat pasien sakau pada awal masa detoksifikasi di ruang isolasi.

Asal mula para pecandu beralih ke narkoba karena mereka tidak mempunyai konsep dan pola hidup yang jelas, orang tua kurang peduli dengan perkembangan mereka. Ada juga yang menggunakan narkoba pada saat masa konflik di Aceh, GAM-RI. Mereka mengenal narkoba sebagian besar pada masa remaja, yaitu SMP sampai menginjak umur 20 an. Mereka mengenal narkoba yaitu dari teman – teman mereka, teman sekolah maupun teman biasa bermain di lingkungan rumah, ada juga dari hanya sekedar coba – coba, sampai mengajak orang lain untuk menggunakan narkoba. Ada 1 dari mantan pecandu yang sekarang sudah menjadi staff training, yang dia mengetahui narkoba dari keluarganya sendiri, saudara – saudaranya banyak menggunakan narkoba, bahkan saat dia sudah tidak menggunakan narkoba lagi, sepupunya malah OD (over dosis) akibat narkoba.

Dari yang diceritakan teman – teman pecandu, sebagian besar dari mereka menggunakan ganja, karena alasan mudah di dapat. Jenis lain seperti pil koplo, minuman keras, minuman steb, bahkan ada pecandu yang sudah mencoba berbagai jenis obat – obatan psikotropika. Hal itu ia lakukan karena sulit mencari jenis obat yang biasa dikonsumsi, jadi kalau sudah sakau, obat apapun yang ia temukan, asal bisa menjadi pengganjal sementara, juga ia konsumsi. Ada juga yang menghirup lem cap kambing. Karena sudah tidak bisa menemukan lagi jenis narkoba apapun disekitarnya.

Uang untuk membeli narkoba, awalnya dari uang jajan sekolah, meminta paksa dari orang tua, saudara, teman dan pacar, sampai menjual barang – barang milik pribadi seperti pakaian, peralatan musik, peralatan sekolah, motor, sampai peralatan milik keluarga. Dan ada juga yang sampai mencuri uang di lemari pakaian orang tua. Apa saja dilakukan demi bisa menebus narkoba dengan sejumlah uang.

Saat seorang sudah menjadi pecandu, mereka sudah tidak peduli lagi dengan keadaan keluarga mereka, menarik diri dari sekolah. Berteriak – teriak sendiri di kamar, bermasalah dengan teman dan keluarga. Mereka hanya fokus dengan narkoba. Tujuan mereka menggunakan narkoba, yaitu awalnya karena ingin melupakan segala masalah yang mereka hadapi, tetapi saat mereka sudah sangat – sangat tergantung dengan narkoba. Dan tidak tau harus menjual apalagi untuk mendapatkan narkoba. Di saat itulah mereka menyesali perbuatan mereka selama ini. Dan menyadari bahwa narkoba tidak menyelesaikan masalah mereka, malah menimbun masalah, dan membuat mereka terpuruk tidak berdaya.

Memang ada usaha untuk berhenti dari ketergantungan terhadap narkoba, dengan mengurangi masa pemakaian, dan kadar pemakaian. Tetapi keadaan lingkungan yang tidak mendukung, bisa memicu penggunaan lagi, kata salah seorang pecandu.

Kesan para pecandu terhadap kehadiran kami disana, mereka sangat senang dan menyambut hangat, mereka pun sangat ingin berbagi dan di dengar. Kehadiran mereka masih dianggap dan kehadiran mereka masih bisa diterima. Bukan menjadi sosok yang disisihkan, tetapi sosok yang dirangkul dan perlu perlakuan khusus. Untuk bisa bergabung dan diterima lagi di masyarakat awam.

Keakraban terjalin diantara kami dengan para pecandu, pecandu yang sedang diobati. Ini terlihat di salah satunya pada pada saat sesi pertanyaan berlangsung. Di akhir pertemuan. Kami berdoa bersama – sama dan dipandu oleh staff training dengan saling bergenggaman tangan satu sama lain. Diakhir kunjungan, kami dipersilahkan untuk melihat – lihat rumah dan ruang – ruang yang ada di pusat rehab itu satu persatu, dan dipandu oleh seorang staff training mantan pecandu dulunya. Tidak lupa acara foto bersama, mahasiswa, asisten dosen, psikolog, dan staff training, dan pecandu. ^_^

1. Jelaskan tentang farmakokinetik (absorbsi, distribusi, biotransformasi (metabolisme) dan ekskresi)) !

Penjelasan:

Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari proses yang dilalui obat atau tahapan perjalanan obat di dalam tubuh.

Farmakokinetik dalam arti luas membahas tentang perubahan – perubahan sepanjang waktu jumlah obat dan metabolit yang tinggal di dalam berbagai komponen tubuh.

Meliputi tahap, absorbsi, distribusi, biotransformasi(metabolisme) dan ekskresi obat (eliminasi), baik pada manusia atau hewan.

Tujuannya meramalkan efek perubahan-perubahan dalam takaran, rejimen takaran, rute pemberian, dan keadaan fisiologis pada penimbunan dan disposisi obat.

2 pokok parameter farmakokinetik:

1. Bersihan (clearance)

Bersihan (clearance) yaitu ukuran kemampuan tubuh untuk menghilangkan obat (eliminasi). Terbagi:

a) Eliminasi dengan kapasitas terbatas (Capacity Limited Elimination)

Obat yang menunjukkan eliminasi dengan kemampuan terbatas. Bersihan bervariasi tergantung konsentrasi obat yang dicapai.

Misalnya: fenitoin, etanol.

b) Eliminasi tergantung aliran darah (Flow Dependent Elimination)

Eliminasi obat tergantung besarnya aliran darah yang masuk ke organ eliminasi, obatnya disebut high extraction(seluruhnya dihilangkan dari darah oleh organ eliminasi).

2. volum distribusi

Volum distribusi adalah ukuran dari ruangan dalam tubuh yang tersedia untuk diisi obat.

Efek obat menurut perjalanan waktu

1) efek segera (immediate effects)

Umunya efek obat berhubungan langsung dengan konsentrasi plasma. Obat yang memiliki waktu paruh pendek dapat diberikan satu kali sehari saja dan masih dapat mempertahankan efeknya selama satu hari.

2) efek lambat (delayed effect)

Efek obat yang tertunda lebih lama khususnya obat yang memerlukan waktu beberapa jam atau beberapa hari sebelum efek terlihat karena pembalikan yang lambat daripada suatu subtansi fisiologik yang diperlukan untuk ekspresi efek obat tersebut.

3) efek kumulatif

Toksinitas ginjal dari antibiotik aminoglikosida lebih besar dibandingkan dengan dosis intermiten.

Tahap Farkamakonitik

1. Absorbsi Obat

Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian ke dalam aliran darah, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses, pemberian obat harus mencapai bioavaibilitas yang menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik, karena beberapa jenis obat dimetabolisme oleh enzim didinding usus pada pemberian oral atau dihati pada lintasan pertamanya. Ada beberapa obat yang berikatan kuat dengan protein sehingga menunda lewatnya ke jaringan sekitarnya.

Faktor terkait-pasien yang mempengaruhi absorbsi obat

a. Faktor Biologis:

  • pH saluran cerna,
  • sekresi cairan lambung,
  • gerakan saluran cerna (gerakan peristaltik dari duodenum),
  • waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus,
  • serta aliran (perfusi) darah dan banyaknya pembuluh darah pada tempat absorpsi.
  1. Faktor fisiologik lain
  • Umur,
  • Makanan,
  • Adanya interaksi obat dengan senyawa lain,
  • Adanya penyakit tertentu,
  • Adanya pori – pori,
  • Jumlah luas permukaan absorbsi, karena banyaknya vili dan mikrovili yang ada di daerah duodenum dan usus halus, maka usus mempunyai luas permukaan kira-kira 1000 kali luas permukaan lambung, sehingga absorbsi obat melalui usus lebih efisien, dan sifat kapiler membran sel juga mempengaruhi.

Bioavailabilitas suatu obat mempengaruhi daya terapetik, aktivitas klinik, dan aktivitas toksik obat.

Efek biovaliabilitas obat dipengaruhi oleh:

  1. kuantitatif,
  2. data kinetika obat,
  3. hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh dengan intensitas efek yang ditimbulkannya,
  4. daerah kerja efektif obat (therapeutic window) dapat ditentukan

Kecepatan dan efisiensi absorbsi tergantung pada cara pemberian.

Faktor-faktor terkait-obat yang mempengaruhi absorbsi, melalui transpor obat dari saluran cerna:

a. Bentuk sediaan

Secara tidak langsung mempengaruhi intensitas respon biologis obat.

b. Sifat Kimia dan Fisika Obat

  • Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi kekuatan dan proses absorpsi obat.
  • Bentuk kristal atau polimorfi.
  • Kelarutan dalam lemak atau air,
  • Derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi.
  • Absorpsi lebih mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.

c. Sifat fisiokimia obat

  • Ukuran partikel,
  • Luas permukaan efektif obat,
  • Bentuk geometrik,
  • Bentuk kima obat, yaitu garam, asam, atau basa, serta bentuk anhidrous,
  • Polimorf obat,
  • Konstanta disasosiasi,
  • Kelarutan (lipofilisitas),
  • Stabilitas obat,
  • Keadaan ionisasi,
  • Berat molekul,
  • Formulasi (larutan atau tablet).
  • Obat – obatan yang kecil, tak terionisasi, larut dalam lemak menembus membran plasma paling mudah.

Kerugian pemberian melalui oral adalah ada obat yang dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien koma.

Adapun faktor- faktor yang dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat pada pemberian oral, antara lain :

a. Faktor Obat

  • Sifat- sifat fisikokimia seperti stabilitas pH lambung, stabilitas terhadap enzim pencernaan serta stabilitas terhadap flora usus.
  • Formulasi obat seperti keadaan fisik obat baik ukuran partikel maupun bentuk kristsl/ bubuk dll.

b. Faktor Penderita

  • pH saluran cerna
  • Fungsi empedu
  • Kecepatan pengosongan lambung dari mulai motilitas usus
  • Adanya sisa makanan
  • Bentuk tubuh
  • Aktivitas fisik sampai
  • Stress yang dialami pasien.
  • Perubahan perfusi saluran cerna
  • Adanya gangguan pada fungsi normal mukosa usus

Untuk intravena, absorbsi sempurna yaitu dosis total obat seluruhnya mencapai sirkulasi sistemik (biovaliabilitas).

Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus halus pada pemberian oral atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ tersebut (Metabolisme/eliminasi lintas pertama/eliminasi parasistemik). Eliminasi lintas pertama dapat dihindari dengan cara pemberian parenteral, seublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan.

Keuntungan pemberian intravena (IV):

Tidak mengalami absorpsi tetapi langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara capat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita.

Kerugiannya adalah mudah tercapai efek toksik karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, dan obat tidak dapat ditarik kembali.

Keuntungan pemberian obat secara parenteral, yaitu:

(1) efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral;

(2) dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah;

(3) sangat berguna dalam keadaan darurat.

Kerugiannya antara lain dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, sulit dilakukan oleh pasien sendiri, dan kurang ekonomis.

Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama.

Injeksi intramuskular (IM) atau suntikkan melalui otot, kecepatan dan kelengkapan absorpsinya dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air. Absorpsi lebih cepat terjadi di deltoid atau vastus lateralis daripada di gluteus maksimus.

Injeksi intraperitoneal atau injeksi pada rongga perut tidak dilakukan untuk manusia karena ada bahaya infeksi dan adesi yang terlalu besar.

Pemberian secara injeksi intravena menghasilkan efek yang tercepat, karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Efek lebih lambat diperoleh dengan injeksi intramuskular, dan lebih lambat lagi dengan injeksi subkutan karena obat harus melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah.

Transpor obat dari saluran cerna

1. Difusi pasif

Tenaga penggerak difusi pasif dari suatu obat adalah perbedaan konsentrasi yang melewati suatu membran yang memisahkan dua kompartemen tubuh, obat bergerak dari konsentrasi tinggi, ke konsetrasi rendah.

Tidak melibatkan suatu karier, karena tidak ada titik jenuh, dan kurang menunjukkan spesifikasi struktural.

Sebagian besar obat masuk ke dalam tubuh dengan mekanisme seperti ini.

Obat yang larut dalam lemak mudah bergerak menembus kebanyakan membran biologi, sedangkan obat yamg larut dalam air menembus membran sel melalui saluran aqua.

2. Difusi/transpor Aktif

Cara masuk obat ini melibatkan protein karier terutama yang terentang pada membran sel.

Sejumlah kecil obat yang strukturnya mirip, di transpor secara aktif melewati membran sel.

Transpor aktif tergantung energi dan dijalankan oleh hidrolisis adenosin trifosfat, yang mampu melawan concentration-gradient, yaitu dari bagian konsentrasi rendah, ke konsentrasi lebih tinggi, yang menunjukkan proses titik jenuh suatu kecepatan maksimum pada kadar substrat yang tinggi ketika ikatan enzim tersebut sudah  maksimal.

3. Kanal Aqueus(Aqueus Channel)

Obat – obat hidrolifik kecil (<200 mw) berdifusi sesuai gradien konsentrasi melalui kanal-kanal aqueus(pori-pori).

4. Difusi Fasilitasi

Obat terikat dengan pembawa melalui mekanisme nonkovalen.

Obat – obat yang secara kimiawi bersaing mengikat pembawa.

Ketersediaan hayati

Ketersediaan hayati adalah fraksi obat yang diberikan mencapai sirkulasi sistemik dalam suatu bentuk yang secara kimiawi berubah.

Misalnya, jika 100 mg obat diberikan per oral dan 70 mg dari obat ini diabsorbsi dalam bentuk tidak berubah, maka ketersediaan hayatinya 70%.

Faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati:

1. metabolisme first pass pada hati,

2. kelarutan obat,

3. tidak stabil secara kimiawi,

4. sifat formulasi obat.

Bioekuivalen: menunjukkan ketersedian hayati yang sebanding dan mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam waktu yang sama.

Bio-inkuvalen: dua obat terkait dengan perbedaan ketersediaan hayati yang signifikan.

Ekuivalen terapeutik: dua obat yang sama mempunyai efikasi dan keamanan yang sebanding (efektivitas klinis sering tergantung pada konsentrasi maksimum obat dalam serum dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai konsentrasi puncak setelah pemberian obat tersebut, oleh karena itu, dua obat yang bioekuivalen bisa juga tidak ekuivalen secara terapeutik).

B. Distribusi Obat

Setelah diabsorpsi obat akan didistribusi secara reversible keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah dan masuk ke intersitium (cairan ekstrasel) dan sel – sel jaringan, karena selain tergantung dari aliran darah, permeabilitas kapiler, derajat ikatan obat tersebut dengan protein plasma atau jaringan, dan hidrofobisitas.

Distribusi obat dapat dibedakan menjadi 2 fase berdasarkan penyebaran didalam tubuh, yaitu :

1. Distribusi fase pertama

Terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik, seperti jantung, hati, ginjal dan otak.

2. Distribusi fase kedua

Mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ pada fase pertama, misalnya pada otot, visera, kulit dan jaringan lemak.

Faktor yang mempengaruhi distribusi obat:

1. Aliran darah

Kecepatan kapiler jaringan sangat bervariasi, akibat distribusi output jantung yang tidak sama ke berbagai organ. Aliran darah ke otak, hati dan ginjal lebih besar daripada aliran ke otot rangka, jaringan adiposa tetap aliran darahnya lebih sedikit.

2. Permeabilitas Kapiler

a) struktur kapiler

Struktur kapiler bersifat kontinu dan tidak ada celah sempit antara sel – sel endhotel. Berlawanan dengan hati dan limpa, bagian besar dari membrane basalis terlihat disebabkan oleh kapiler yang terputus – putus dan protein plasma yang besar dapat melewati celah tersebut.

Sawar darah otak (blood-brain barrier): untuk masuk ke otak, obat harus melewati sel endhotel kapiler sistem saraf pusat (CNS) atau di transport secara aktif.

Obat yang larut dalam lipid mempenetrasi ke dalam SSP, karena dapat melarut dalam membran dari sel endhotel, obat – obat yang terionisasi atau yang polar umumnya tidak dapat masuk ke otak, yang tidak memiliki celah sempit. Sel – sel endhotel kapiler di otak yang tersusun rapat ini membentuk sawar darah otak.

b) Struktur obat

Sifat kimia obat sangat mempengaruhi kemampuannya untuk menembus membran sel.

Obat hidrofobik punya distribusi electron uniform dan tidak bermuatan mudah bergerak melewati kebanyakan membrane biologik. Obat dapat larut dalam membrane lipid dan karena itu menembus permukaan sel.

Obat hidrolifik yang punya distribusi electron non-uniform atau muatan positif atau negatif tidak mudah menembus membran sel dan harus pergi melalui celah sempit.

3. Pengikatan Obat – obat Pada Protein

Albumin plasma adalah protein pengikat obat yang utama dan bisa bertindak sebagai reservoir obat, misalnya ketika konsentrasi obat bebas berkurang disebabkan eliminasi oleh metabolisme atau ekskresi obat terikat akan berdiasosiasi dari pritein tersebut. Ini mempertahankan konsentrasi obat bebas sebagai suatu fraksi tetap dari seluruh obat di dalam plasma.

4. Depot penyimpanan

obat-obatan lipofilik, seperti tiopental yang bersifat sedatif, berakumulasi dalam lemak. Obat ini dibebaskan secara perlahan dari penyimpanan lemak. Jadi, orang gemuk dapat sedasi lebih lama dari pada orang kurus yang diberikan dosis tipental yang sama.

Obat pengikat kalsium, seperti antibiotik tetrasiklin, berakumulasi dalam tulang dan gigi.

C. Biotransformasi (metabolisme) Obat

Biotransformasi atau lebih dikenal dengan metabolisme obat, adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim.

Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar atau lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak, sehigga lebih mudah diekskresi melalui ginjal.

Hati adalah tempat metabolisme obat, tetapi obat tertentu bisa mengalami biotransformasi di dalam jaringan lain (beberapa obat diberikan dalam bentuk senyawa tidak aktif (pro-drug) dan harus dimetabolisme menjadi senyawa aktifnya).

Kinetik dari metabolisme terbagi 2:

1. Kinetik First-Order

Sebagian besar transformasi obat di katalisis oleh enzim.

Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dibedakan berdasar letak dalam sel, yaitu Enzim Mikrosom terdapat dalam reticulum endoplasma halus dan Enzim Non Mikrosom.

Kedua Enzim Mikrosom dan Enzim Non Mikrosom, aktifitasnya ditentukan oleh faktor genetik, sehingga kecepatan metabolisme obat antar individu bervariasi.

2. Kinetik zero-order

Enzim mengalami kejenuhan oleh suatu konsentrasi obat bebas yang tinggi dan kecepatan metabolisme tetap konstan sepanjang waktu.

Reaksi Metabolisme Obat: ginjal tidak dapat mengeliminasi obat yang lipofilik karena obat tersebut menembus membran sel dan diabsorbsi kembali dalam tubulus distal. Obat yang larut dalam lipid pertama-tama harus di metabolisme dalam hati yang menggunakan dua set reaksi, disebut fase I dan fase II.

Reaksi metabolik dapat mengubah: obat yang aktig menjadi kurang aktif atau tidak aktif, dan prodrug.

D. Ekskresi Obat

Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar lebih cepat diekskresi daripada obat larut lemak, kecuali yang melalui paru.

Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting dan ekskresi disini resultante dari 3 proses:

1. Filtrasi di glomerulus

Semua zat yang lebih kecil dari albumin melalui celah antarsel endotelnya sehingga semua obat yang tidak terikat protein plasma mengalami filtrasi.

2. Sekresi aktif di tubuli proksimal

Asam dan basa organik, disekresi aktif melalui sistem transport.

Asam organik seperti: penisilin, probenesid, salisilat, konyugat, glukeronid, dan asam urat.

Basa organik seperti: neostigmin, kolin, histamine.

Untuk zat-zat endogen seperti asam urat, sistem transportnya berlangsung dua arah, sekresi dan reabsorbsi).

3. Reabsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal

Untuk membentuk ion-ion, untuk obat elektrolit lemah, proses reabsorbsi bergantung pH lumen tubuli yang menentukan derajat ionisasi.

Mekanisme ekskresi obat rentan terhadap gangguan dalam ginjal seperti:

  • toksin
  • obat-obat lain
  • keadaan penyakit
  • terjadinya toksisitas yang diinduksi oleh zat – zat kimia.

Ekskresi obat juga terjadi melalui:

  • keringat,
  • liur (dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu),
  • air mata,
  • air susu, dan
  • rambut (dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik).

Aplikasi Farmakokinetika:

1. Bidang farmakologi

Farmakokinetika dapat  menerangkan mekanisme kerja suatu obat dalam tubuh, khususnya untuk mengetahui senyawa yang mana yang sebenarnya bekerja dalam tubuh; apakah senyawa asalnya, metabolitnya atau kedua-duanya. Data kinetika obat dalam tubuh sangat penting untuk menentukan hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh dengan intensitas efek yang ditimbulkannya. Dengan demikian daerah kerja efektif obat (therapeutic window) dapat ditentukan.

2. Bidang farmasi klinik

a)       Untuk memilih route pemberian obat yang paling tepat.

b)       Dengan cara identifikasi farmakokinetika dapat dihitung aturan dosis yang tepat untuk setiap individu (dosage regimen individualization).

c)       Data farmakokiketika suatu obat diperlukan dalam penyusunan aturan dosis yang rasional.

d)       Dapat membantu menerangkan mekanisme interaksi obat, baik antara obat dengan obat maupun antara obat dengan makanan atau minuman.

3. Bidang toksikologi

Farmakokinetika dapat membantu menemukan sebab-sebab terjadinya efek toksik dari pemakaian suatu obat.

2. Jelaskan tentang Farmakodinamik !

Jawaban:

Pengertian Farmakodinamik

Farmakodinamik adalah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya.

Tujuan mempelajari, meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spectrum efek dan respon yang terjadi.

Mekanisme kerja obat, efek obat timbul karena interaksi obat dengan respetor pada suatu sel organisme, yang mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon khas untuk obat tersebut.

Obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh.

Obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada.

Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai ligan endogen (hormon, neurotransmiter). Subtansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tudak punya aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis disebut antagonis. Contoh obat/zat agonis kuat: morfin, meperidin, fentanil, heroin. Agonis sedang: propoksifen, kodein. Campuran agonis-antagonis: pentasozin, buprenorfin. Agonis: nalokson dan naltrekson.

Reseptor obat

1. konsep reseptor

a) reseptor lebih menentukan hubungan kuantitatif antara dosis atau konsentrasi obat dan efek-efek farmakologi,

b) reseptor bertanggung jawab terhadap selektivitas kerja obat,

c) reseptor merupakan tempat kerja antagonis farmakologik.

2. Fungsi reseptor obat menurut urutan kekompleksannya

a) Fungsinya sebagai faktor penentu (determinasi) terhadap hubungan kuantitatif antara konsentrasi obat dan respon farmakologik,

b) fungsinya sebagai protein regulator dan chemical signaling mechanism, yang memberikan target untuk obat-obat penting,

c) fungsi sebagai elemen utama dalam terapeutik dan efek toksik obat pada penderita.

3. Sifat kimia

Komponen yang paling penting dalam reseptor obat ialah protein (mis: asetilkolinestrase, Na+, K + -ATPase, tubulin). Asam nukleat merupakan reseptor obat yang penting, misalnya untuk sitostatika.

4. Hubungan struktur-aktivitas

Perubahan dalam molekul obat, misal: sitostatika, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru.

Transmisi Sinyal Biologis: Proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler  fisiologis yang spesifik.

Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah  katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.

Interaksi Obat-Reseptor: Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah  (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan kovalen.

Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor : Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke komponen sel.

3. Jelaskan tentang penyalahgunaan obat (drug abuse), dan penanganannya!

Penjelasan:

Definisi penyalahgunaan obat

Di Amerika Serikat, istilah medis drug abuse (penyalahgunaan obat) diartikan sebagai penyelewengan fungsi dan maladaptasi, bukan ketergantungan yang disebabkan oleh penggunaan obat.

Dalam bahasa sehari-hari, penyalahgunaan obat (drug abuse) sering diartikan sebagai penggunaan obat ilegal untuk coba-coba dan untuk kesenangan penggunaan obat-obatan resmi untuk mengatasi masalah atau gejala tanpa resep dari dokter,dan penggunaan obat yang berakibat ketergantungan.

Penyalahgunaan zat atau bahan lainnya (NAPZA) yaitu penggunaan zat/obat yang dapat menyebabkan ketergantungan dan efek non-terapeutik atau non-medis pada individu sendiri sehingga menimbulkan masalah pada kesehatan fisik / mental, atau kesejahteraan orang lain. NAPZA adalah bahan/zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan /psikologi seseorang (pikiran,perasaan, perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.  Intoksikasi obat adalah perubahan fungsi-fungsi fisiologis, psikologis, emosi, kecerdasan, dan lain-lain akibat penggunaan dosis obat yang berlebihan.

Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu pola penggunaan yang bersifat patologis, yang menyebabkan remaja mengalami sakit yang cukup berat dan berbagai macam kesulitan, tetapi tidak mampu menghentikannya. Ketergantungan zat adiktif adalah suatu kondisi cukup berat ditandai dengan adanya ketergantungn fisik yaitu toleransi dan sindroma putus zat.

Gangguan penggunaan zat adiktif adalah suatu penyimpangan perilaku yang disebabkan oleh penggunaan zat adiktif yang bekerja pada susunan saraf pusat yang mempengaruhi tingkah laku, memori alam perasaan, proses pikir anak dan remaja sehingga mengganggu fungsi social dan pendidikannya. Gangguan penggunaan zat ini terdiri dari : penyalahgunaan dan ketergantungan zat.

Klasifikasi Zat yang disalahgunakan

Klasifikasi Zat yang disalahgunakan dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :

  1. Narkotik

Menurut UU RI No 22 / 1997 yang disebut narkotika adalah: Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan

  • Golongan I : Heroin / putauw, ganja atau kanabis,       marijuana, kokain
    • Golongan II : Morfin, petidin
    • Golongan III : Kodein
  1. Psikotropika

Psikotropika adalah merupakan suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Menurut UU RI No 5 / 1997 adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada SSP yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

  • Golongan I : Ektasi
  • Golongan II : Amfetamin, metilfenidat atau ritalin
  • Golongan III : Fentobarbital, flunitrazepam
  • Golongan IV : Diazepam, klordiazepoxide, nitrazepam ( pil BK, pil koplo)

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindromaketergantungan digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Psikotropika golongan I : yaitu psikotropika yang tidak digunakan untuk tujuan pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat
2. Psikotropika golongan II : yaitu psikotropika yang berkhasiat terapi tetapi dapat menimbulkan ketergantungan.

3. Psikotropika golongan III : yaitu psikotropika dengan efek ketergantungannya sedang dari kelompok hipnotik sedatif.

4. Psikotropika golongan IV : yaitu psikotropika yang efek ketergantungannya ringan.

  1. Zat adiktif

Bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika.

  • Minuman beralkohol
  • Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap
    • Tembakau/rokok

Proses terjadinya ketergantungan obat

  • Proses ini dipengaruhi oleh zat kimia yang terkandung dalam obat, efek obat,
  • Kepribadian pengguna obat dan kondisi lainnya, seperti faktor keturunan dan tekanan sosial.
  • Perkembangan dari pemakaian coba-coba menjadi penggunaan yang sekali-sekali dan kemudian menjadi toleransi dan ketergantungan

Faktor Risiko Penyebab Penyalahgunaan Zat

Beberapa faktor yang menyebabkan penyalahgunaan zat di kalangan remaja antara lain:

1. Faktor risiko genetik

Apabila orang tua atau saudara kembar laki-laki pengguna obat terlarang,

2. Faktor kepribadian dan perilaku

Beberapa keadaan psikopatologik misalnya ansietas, perilaku menyimpang, kepribadian antisosial, gangguan afektif atau attention deficit  disorders/hyperactivity telah diketahui merupakan faktor risiko. Penyandang kelainan ini seringkali menggunakan obat untuk mengurangi gejala psikiatrik (self medication hypothesis). Kurangnya rasa percaya diri dan perilaku mencari risiko juga berpengaruh,

3. Faktor lingkungan.

Lingkungan rumah dan sekolah merupakan lingkungan terdekat dari remaja. Anak yang mempunyai orang tua dengan kepribadian antisosial lebih berisiko. Kemampuan orang tua untuk mengasuh anak juga menentukan faktor risiko, terutama pada masa adolesen, saat anak mencari jati dirinya. Keluarga yang terlalu kaya, terlalu miskin, atau keluarga yang tidak mempunyai norma yang jelas juga berpengaruh. Anak tidak menyukai sekolahnya, tidak mempunyai teman banyak atau berkawan dengan pengguna, tidak aktif mengikuti aktivitas ekstrakurikulum, sering membolos, dan lain-lain,

4. Faktor kawan

Misalnya berkawan dengan perokok, pengguna narkotika, dengan kelompok yang menganggap bahwa penggunaan narkotika adalah hal biasa, berkawan dengan teman yang mempunyai kepribadian dan perilaku buruk sehingga sering melakukan kekerasan dan melawan hukum,

5. Faktor protektif

Membuat seseorang cenderung tidak menggunakan obat, misalnya intelegensi yang tinggi, adanya penilaian untuk kesehatan dan pencapaian tujuan, sekolah yang baik, hubungan antar keluarga yang erat, dan orang tua yang sangat berminat membantu anak.

Faktor pendukung Penyalahgunaan Zat

1. Faktor biologis
a. Genetic: tendensi keluarga
b. Infeksi pada organ otak
c. Penyakit kronis

2. Faktor psikologis
a. Gangguan kepribadian: anti sosial (resiko relatif 19,9%)
b. Harga diri rendah: depresi (resiko relatif: 18,8%), faktor social, ekonomi.
c. Disfungsi keluarga
d. Orang/ remaja yang memiliki perasaan tidak aman
e. Orang/ remaja yang memiliki ketrampilan pemecahan masalah yang menyimpang
f. Orang/ remaja yang mengalami gangguan idetitas diri, kecenderungan homoseksual, krisis identitas, menggunakan zat untuk menyatakan kejantanannya.
g. Rasa bermusuhan dengan orang tua

3. Faktor social cultural
a. Masyarakat yang ambivalensi tentang penggunaan dan penyalahgunaan zatadiktif: ganja, alkohol
b. Norma kebudayaan
c. Adiktif untuk upacara adat
d. Lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah yang terdapat banyak pengedar (mudah didapat: resiko relatif 80 %)
e. Persepsi masyarakat terhadap pengunaan zat
f. Remaja yang lari dari rumah
g. Remaja dengan perilaku penyimpangan seksual dini
h. Orang/ remaja yang terkait dengan tindakan kriminal

4. Stressor presipitasi
1. Pernyataan untuk mandiri dan dan membutuhkan teman sebaya sebagai pengakuan ( resiko relatif untuk terlibat NAZA: 81,3%)
2. Sebagai prinsip kesenangan, menghindari sakit/stress
3. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang berarti
4. Diasingkan oleh lingkungan: rumah, teman-teman
5. Kompleksitas dari kehidupan modern

3. Faktor kontribusi ( resiko relatif 7,9% terlibat penyalah gunaan NAZA)

Seseorang yang berada dalam disfungsi keluarga akan tertekan, dan ketertekanan itu dapat merupakan faktor penyerta bagi dirinya terlibat dalam penyalahgunaan / ketergantungan NAZA, kondisi keluarga yang tidak baik itu adalah :
1. Keluarga yang tidak utuh : orang tua meninggal, orang tua cerai, dll
2. Kesibukan orang tua
3. Hubungan interpersonal dalam keluarga tidak baik

Motivasi melakukan penyalahgunaan obat-obatan

Motivasi:

(1) Ada orang-orang yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan rasa tertekan (stres dan ketegangan hidup).

(2) Ada orang-orang yang bertujuan untuk sekadar mendapatkan perasaan nyaman, menyenangkan.

(3) Ada orang-orang yang memakainya untuk lari dari realita dan tanggung jawab kehidupan.

Sebab-sebabnya:

(1) Faktor-faktor Sosial dan Kebudayaan: Sikap masyarakat dan lingkungan terhadap obat-obatan sangat menentukan gejala ini

(2) Faktor-faktor Pendidikan dan Lingkungan: memanjakan, melindungi mereka secara berlebih-lebihan, tidak mengizinkan mereka untuk mandiri, tidak pernah melatih mereka menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan mereka sendiri dan memberi contoh bahwa obat-obatan dapat diminum dengan penuh kebebasan, apa saja yang kita mau tanpa resep dokter.

Akibat:

(1) Habituation: kebiasaan buruk yang menggantungkan diri pada jenis obat-obatan tertentu dalam bentuk ketergantungan secara psikis. Dalam hal ini penyetopan akan menimbulkan efek-efek kejiwaan seperti misalnya, merasa seolah-olah tidak pernah sembuh. Sehingga akhirnya, ia akan memakai obat itu lagi meskipun dosisnya tidak pernah bertambah besar.

(2) Addiction (kecanduan), Pemakaian heroin, morfin, dsb., biasanya mengakibatkan kecanduan. Kecanduan itu ditandai dengan beberapa gejala seperti: Tolerance (toleransi), yaitu kebutuhan akan dosis yang semakin lama semakin besar. Withdrawal (reaksi kemerosotan kondisi fisik), karena pengurangan dosis atau penyetopan pemakaian obat-obatan pada orang-orang yang sudah kecanduan akan mengakibatkan munculnya gejala-gejala withdrawal, yaitu seperti misalnya keringat dingin, sakit kepala, gemetaran, tidak bisa tidur, mau muntah, dsb.

Cara Pakai Narkotika

Narkotika dapat dipakai dengan berbagai cara. Beberapa dapat dimasukkan lewat mulut dan disuntik. Jenis lainnya dipakai dalam bentuk dihisap seperti rokok dan dihisap melalui hidung secara langsung.

Karakteristik pengguna narkoba

Karakteristik pengguna narkoba, berdasarkan hasil penelitian di AS: terhadap 69 responden pria:

(1) Karakteristik pasien persentase terbesar: berumur 16-25 tahun, belum menikah, pendidikan tamat SLP atau SLA dan berstatus pelajar/mahasiswa.

(2) Lingkungan keluarga pasien persentase terbesar: tinggal dengan orang tua, jumlah anak 3-5 orang, keadaan ekonominya tinggi, komunikasi dalam keluarga sedang atau buruk, keluarga tidak rukun, pelaksanaan ibadah sedang, dan kebiasaan merokok/minuman keras/menggunakan obat dalam keluarga sedang.

(3) Pasien persentase terbesar empunyai “konflik” dengan lingkungan keluarga, kemudian melarikan diri dari konflik tersebut dengan menyalahguna-0kan obat karena ingin tahu/mencoba, membeli obat dengan uang jajan dari orang tuanya dan orang tua baru mengetahui anaknya menyalahgunakan obat setelah 1-3 tahun.

(4) Lingkungan pemaparan obat persentase terbesar adalah lingkungan informal di kota besar (ibukota propinsi).

(5) Obat yang disalahgunakan persentase terbesar psikotropik dan ganja serta penggunaannya tidak terpisahkan dari minuman keras, karena Peraturan Menteri Kesehatan tentang minuman keras belum terlaksana sebagaimana mestinya.

(6) Pasien persentase terbesar datang ke tempat rehabilitasi atas inisiatif orang tuanya dan belum pernah berobat sebelumnya (pasien baru).

(7) Ada perbedaan pada diagnosis, konsep pengobatan dan kriteria sembuh pasien ketergan-tungan obat secara medik dan spiritual. Secara medik, diagnosis pasien diperkuat pemeriksaan laboratorium, konsep pengobatan bersifat “suportif” jiwa, dan kriteria sembuh mempunyai ciri kepribadian matang. Secara spiritual, diagnosis berdasarkan pengakuan pasien dan “pengamatan” pembina, konsep pengobatan bersifat “rekonstruktif” jiwa dan kriteria sembuh antara lain timbulnya kesadaran untuk menjalankan ibadah dan bersikap anti terhadap obat.

(8) Metoda dan kurikulum untuk rehabilitasi pasien di setiap inabah telah dibakukan dan bersumber dari ajaran Islam dengan pendekataan tasauf.

Karakter Seorang Pecandu

  • Merasa rendah diri,
  • tidak dewasa,
  • mudah frustasi
  • kesulitan dalam menyelesaikan masalah pribadi
  • kesulitan dalam berhubungan dengan lawan jenisnya
  • mencoba untuk lari dari kenyataan yang digambarkan sebagai ketakutan, penarikan diri dan depresi
  • Beberapa pecandu memiliki riwayat percobaan bunuh diri atau melukai dirinya sendiri
  • digambarkan sebagai pribadi yang tergantung
  • memerlukan dukungan dalam membina hubungan
  • memiliki kesulitan menjaga diri mereka sendiri
  • ekspresi seksual yang tak terkendali

Tanda-tanda dini anak yang telah menggunakan narkotika

Tanda-tanda dini anak yang telah menggunakan narkotika dapat dilihat dari beberapa hal antara lain :

1. anak menjadi pemurung dan penyendiri
2. wajah anak pucat dan kuyu
3. terdapat bau aneh yang tidak biasa di kamar anak
4. matanya berair dan tangannya gemetar
5. nafasnya tersengal dan susah tidur
6. badannya lesu dan selalu gelisah
7. anak menjadi mudah tersinggung, marah, suka menantang orang tua
8. suka membolos sekolah dengan alasan tidak jelas

Tingkah laku
1. Tingkah laku klien pengguna zat sedatif hipnotik
a. Menurunnya sifat menahan diri
b. Jalan tidak stabil, koordinasi motorik kurang
c. Bicara cadel, bertele-tele
d. Sering datang ke dokter untuk minta resep
e. Kurang perhatian
f. Sangat gembira, berdiam, (depresi), dan kadang bersikap bermusuhan
g. Gangguan dalam daya pertimbangan
h. Dalam keadaan yang over dosis, kesadaran menurun, koma dan dapat menimbulkan kematian.
i. Meningkatkan rasa percaya diri
2. Tingkah laku klien pengguna ganja
a. Kontrol didi menurun bahkan hilang
b. Menurunnya motivasi perubahan diri
c. Ephoria ringan
3. Tingkah laku klien pengguna alcohol
a. Sikap bermusuhan
b. Kadang bersikap murung, berdiam
c. Kontrol diri menurun
d. Suara keras, bicara cadel,dan kacau
e. Agresi
f. Minum alcohol pagi hari atau tidak kenal waktu
g. Partisipasi di lingkungan social kurang
h. Daya pertimbangan menurun
i. Koordinasi motorik terganggu, akibat cenerung mendapat kecelakaan
j. Dalam keadaan over dosis, kesadaran menurun bahkan sampai koma.
4. Tingkah laku klien pengguna opioda
a. Terkantuk-kantuk
b. Bicara cadel
c. Koordinasi motorik terganggu
d. Acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian
e. Perilaku manipulatif, untuk mendapatkan zat adiktif
f. Kontrol diri kurang
5. Tingkah laku klien pengguna kokain
a. Hiperaktif
b. Euphoria, agitasi, dan sampai agitasi
c. Iritabilitas
d. Halusinasi dan waham
e. Kewaspadaan yang berlebihan
f. Sangat tegang
g. Gelisah, insomnia
h. Tampak membesar –besarkan sesuatu
i. Dalam keadaan over dosis: kejang, delirium, dan paranoid
6. Tingkah laku klien pengguna halusinogen
a. tingkah laku tidak dapat diramalkan
b. Tingkah laku merusak diri sendiri
c. Halusinasi, ilusi
d. Distorsi (gangguan dalam penilaian, waktu dan jarak)
e. Sikap merasa diri benar
f. Kewaspadaan meningkat
g. Depersonalisasi
h. Pengalaman yang gaib/ ajaib

Efek pemakaian psikotropika

Zat atau obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku,

1. timbulnya halusinasi (mengkhayal),

2. ilusi,

3. gangguan cara berpikir,

4. perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.

5. Pemakaian Psikotropika yang berlangsung lama menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai macam penyakit serta kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang bahkan menimbulkan kematian.

Efek Pemakaian Narkoba

Efek narkoba itu sangat banyak sekali. Beberapa diantaranya adalah, Orang yang menggunakan narkoba dapat kecanduan atau ketagihan. Orang tersebut akan berusaha bagaimana caranya agar dapat memperoleh narkoba kembali, meskipun melalui cara-cara kriminal. Mata orang tersebut akan merah. Bibir mereka menjadi kecoklatan, bahkan daya tahan tubuh mereka akan turun. Ketika daya tahan tubuh mereka turun, mereka mudah sekali terserang poenyakit. Tubuh mereka akan menjadi kurus kering, dan kurang semangat.

Diluar bahaya yang ditimbulkan karena kecerobohan atau penggunaan berlebihan, narkotika juga dapat menimbulkan bahaya infeksi, tertular penyakit dan overdosis. Komplikasi ditimbulkan karena pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Hepatitis dan AIDS adalah penyakit yang umum ditularkan melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril sesama pengguna narkotika.

Rentang respon penggunaan zat adiktif

1. Penggunaan zat adiktif secara eksperimental ialah:
Kondisi penggunaan pada taraf awal, disebabkan rasa ingin tahu, ingin memiliki pengalaman yang baru, atau sering dikatakan taraf coba- coba.

2. Penggunaan zat adiktif secara rekreasional ialah:
Menguunakan zat od saat berkumpul bersama-sama dengan teman sebaya, yang bertujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya.

3. Penggunaan zat adiktif secara situasional ialah:
Orang yang menggunakan zat mempunyai tujuan tertentu secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri, seringkali penggunaan zat ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapinya. Biasanya digunakan pada saat sedang konflik, stress, frustasi.

4. Penyalahgunaan zat adiktif ialah: Penggunaan zat yang sudah bersifat patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan, dan terjadi penyimpangan perilaku dan mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan social dan pendidikan.

5. Ketergantungan zat adiktif ialah: Penggunaan zat yang cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma putus zat. Yang dimaksud sindroma putus zat adalah suatu kondisi dimana orang yang biasa menggunakan secara rutin, pada dosis tertentu berhenti menggunakan atau menurunkan jumlah zat yang biasa digunakan, sehingga menimbulkan gejala pemutusan zat.

Peran orang lain dalam penyalahgunaan obat

  • Anggota keluarga atau teman-teman bisa berkelakukan seakan-akan mengijinkan sang pecandu melanjutkan penyalahgunan obatnya atau alkohol; orang-orang ini disebut kodipenden (juga disebut pemberi ijin).
  • Pecandu yang hamil seringkali tidak mengakui pada dokter atau perawatnya bahwa ia menggunakan alkohol dan obat-obatan. Janin tersebut bisa mengalami ketergantungan secara fisik. Bayi yang selamat dari gejala putus obat bisa mendapat banyak masalah lainnya.

Gejala Klinis

Gejala Klinis: gejala klinis yang dapat terjadi pada pengguna substance abuse sangat tergantung dari golongan zat yang dipakai yaitu:

(1) Golongan Depresan (Downer)

Berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.

(2) Golongan Stimulan (Upper)

Merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi lebih aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain

(3) Golongan Halusinogen

Menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis, misal:  (Kanabis /ganja), LSD, Mescalin.

Secara umum gejala klinis yang akan nampak:

(1) Perubahan Fisik, Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo, apatis, mengantuk, agresif, curiga. Bila kelebihan dosis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal. Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang, kesadaran menurun. Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terdapat bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik).

(2) Perubahan Sikap dan Perilaku, misalnya : Prestasi sekolah menurun, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk dikelas atau tempat kerja. Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, mengompas, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup dan penuh rahasia.

Adiksi obat adalah gangguan kronis yang ditandai dengan peningkatan penggunaan obat meskipun terjadi kerusakan fisik, psikologis maupun sosial pada pengguna. Ketergantungan psikologis adalah keinginan untuk mengkonsumsi obat untuk memperoleh efek positif atau menghindari efek negatif akibat tidak mengkonsumsinya.

Contoh: Alkohol, Narkotik, Hipnotik (obat tidur), Benzodiazepin
(obat anti-cemas), Amfetamin, Metamfetamin, Metilelendioksimetamfetamin
(MDMA, ekstasi, Adam), Kokain, 2,5-dimetoksi-4-metilamfetamin (DOM,STP), Fensiklidin (PCP, debu malaikat).

Ketergantungan fisik adalah adaptasi fisiologis terhadap obat yang ditandai dengan timbulnya toleransi terhadap efek obat dan sindroma putus obat bila dihentikan. Contohnya: Inhalan

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang sebagian besar pemeriksaan laboratorium tergantung dari kemungkinan target organ yang terkena efek dari zat/obat yang dipakai (contoh: gangguan fungsi liver, kelainan hematologi). Pemeriksaan rambut, saliva, urin , dan darah dapat dilakukan untuk mengetahui apakah remaja tersebut menggunakan obat/zat tersebut tetapi pemeriksaan urin untuk penyalahgunaan zat lebih dapat membatu karena lebih cepat hasilnya walaupun false positif atau negatif kadang terjadi.

Pencegahan Drug Abuse

Populasi yang berbeda memerlukan tindakan pencegahan yang berbeda pula. Pembagian metode pencegahan  adalah sebagai berikut:

(1) Pencegahan universal, ditujukan untuk populasi umum baik untuk keluarga maupun anak.

(2) Pencegahan selektif, ditujukan bagi keluarga dan anak dengan risiko tinggi. Risiko tersebut  dapat  berupa risiko demografis, lingkungan psiko-sosial dan biologis.

(3)Pencegahan terindikasi, ditujukan terhadap kasus yang mengalami berbagai faktor risiko dalam suatu keluarga yang disfungsional.

Dengan menggunakan alat Skrining penyalahgunaan zat pada remaja dalam bentuk kuesener seperti CRAFFT screening test yang cukup sederhana dan relevan dapat untuk mengenali risiko terjadinya penyalahgunaan zat/obat.

Diagnosis

Berdasarkan DSM IV dibedakan antara substance abuse dengan Substance dependent.

Substance abuse / penyalahgunaan zat: suatu pola maladaptasi dari penggunaan zat yang membawa kearah gangguan klinis yang bermakna sebagai akibat dari satu atau lebih dari hal dibawah ini yang timbul dalam periode 12 bulan, yaitu: Penggunaan obat secara berkala yang menyebabkan orang tersebut gagal melaksanaan tugas di lingkungan pekerjaan, sekolah atau di rumah, Pada situasi dimana hal tersebut dapat membahayakan fisiknya, Yang berkaitan dengan masalah legalsasi, Terus menerus dan orang tersebut mempunyai masalah interpersonal dan social sementara atau menetap, yang dicetuskan kembali efek zat tersebut.

Substance dependent/ketergantungan zat: suatu pola maladaptasi  dari penyalahgunaan zat yang membawa kepada gangguan klinis yang bermakna ,  sebagai  akibat dari tiga atau lebih hal dibawah ini yang terjadi kapan saja dalam periode 12 bulan yang sama, yaitu:

(1)Toleransi

Peningkatan kebutuhan yang bermakna untuk mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan, Tidak adanya reaksi yang bermakna dengan penggunaan berkelanjutan dalam jumlah yang sama.

(2) Withdrawal

Adanya karakteristik sindroma ketergantungan, Zat yang sama atau berkaita digunakan untuk menghilangkan atau mencegah gejala yang timbul.

(3) Zat yang sering digunakan dalam jumlah lebih besar atau over dosis dalam jangka waktu yang lebih singkat.

(4) Terdapat keinginan untuk memutus atau mengontrol substance abuse tetapi usaha itu gagal.

(5) Jangka waktu yang lama dibutuhkan dalam usaha untuk sembuh dari efek substance abuse.

(6) Aktivitas social, pekerjaan atau rekreasi menjadi terhenti atau berkurang karena pemakaian zat itu.

(7) Pemakaian zat tersebut tetap dilanjutkan walaupun terdapat masalah fisik sementara atau menetap, atau masalah psikologis yang disebabkan zat tersebut.

Penanganan Drug Abuse dalam masyarakat

(1) Melihat kompleknya penyebab penyalahgunaan obat, maka penanganannya memerlukan langkah-langkah preventif, kuratif, represif dan rehabilitasi secara serempak, dimana tanggung jawab usaha preventif lebih dititik beratkan kepada orang tuanya.

(2) Penyuluhan untuk pencegahan penyalahgunaan obat perlu melibatkan unsur agama, karena ternyata penyalahguna obat umumnya orang yang tidak melaksanakan ibadah ritual.

(3) Ditjen POM dan Kanwil Depkes meningkatkan pengawasan distribusi dan penjualan obat-obat psikotropik di PBF, apotek dan toko obat, serta melaksanakan Permenkes tentang minuman keras.

(4) Dalam upaya rehabilitasi pasien, RSKO hendaknya meningkatkan kegiatan keagamaan dan Inabah meningkatkan variasi olahraga.

(5) Dalam upaya rehabilitasi pasien, Inabah perlu bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk pengobatan komplikasi medik yang menyertai ketergantungan obat.

(6) Perlu penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efektifitas/efisiensi perawatan pasien ketergantungan obat antara RSKO dengan Inabah, serta efektifitas dan efisiensi pasien gangguan kejiwaan antara RSJ dengan Inabah.

Tata Laksana Terapi dan rehabilitasi

Dengan tujuan:

(1) Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA. Tujuan ini tergolong sangat ideal, namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan ini. Rehabilitasi ini diberikan terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal.

(2) Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah “clean” maka ia disebut “slip”. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan ia memang telah dibekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programe, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps.

(3) Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini,abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.

Tahap penanganan secara umum:

  • Penanganan kegawatan : tatalaksana ABC  (airway, brathing, circulation),
  • Pemberian antidotum,
  • Detoksifikasi: pemutusan segera (abrupt withdrawal) ,
  • Simptomatik, dan substitusi,
  • Terapi rumatan penyalahgunaan: Psikoterapi individu dan Psikoterapi kelompok,
  • Rehabilitasi: di rumah / keluarga  dan di institusi/lembaga

Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan diri yang biasa digunakan:
1. denial dari masalah
2. proyeksi merupakan tingkah laku untuk melepaskan diri dari tanggung jawab
3. Disosiasi merupakan proses dari penggunaan zat adiktif

Berbagai Pendekatan dalam Penanganan Penggunaan Zat dan Penanganan Ketergantungan Zat

1. Pendekatan Biologis

a. Detoksifikasi adalah menuju hidup bersih, yang biasa dilakukan dalam ringkup rumah sakit untuk memberikan dukungan kepada orang yang putus obat zat adiktif secara aman. Detoksifikasi dilakukan dengan konseling perilaku dan kemungkinan penggunaan obat terapeutik. Obat yang sering digunakan seperti: Disulfram (nama merek antabuse), Antidepresan.

b. Terapi Pengganti Rokok, menggunakan obat anti perokok tanpa dasar nikotin, sebuah antidepresan yang disebut bupropion (nama dagang zyban).

c. Program pemantapan metadon, mengurangi ketagihan heroin dan membantu mencegah gejala tidak menyenangkan yang menyertai putus obat. Obat lain yang digunakan, buprenorfin, yang menghasilkan lebih sedikit sedatif. Untuk hasil terbaik, obat – obatan dapat dikombinasikan penggunaannya dengan konseling psikologis dan rehabilitasi psikososial.

d. Nalokson dan Naltrekson, Nalokson adalah obat yang mencegah rasa melayang yang dihasilkan heroin dan opioid lainnya, membantu menghindari kambuh setelah putus obat. Natrelkeson, memblokir rasa melayang dari alkohol juga dari opioid.

2. Penanganan Peka Budaya Budaya untuk Alkoholisme

Program yang memperhatikan semua sisi kehidupan manusia, termasuk ras, identitas, dan budaya, yang menghargai kebanggaan etnik dan membantu orang bertahan terhadap godaan untuk mengatasi tekanan dengan bahan kimia.

3. Kelompok Pendukung Nonprofesional

Orang awam yang biasa menangani ketergantungan zat, orang seperti ini sering memiliki atau pernah memiliki masalah yang sama. Sebagai contoh, pertemuan kelompok self-help, Alcoholic Anonymous, Narcotics Anonymous, dan Cocaine Anonymous. Kelompok ini menyerukan absitenensi dan memberi kesempatan bagi anggota untuk mendiskusikan perasaan dan pengalaman mereka dalam lingkup kelompok pendukung. Anggota kelompok yang lebih berpengalaman membantu dan mendukung anggota baru selama periode krisis atau masa potensial untuk kambuh.

4. pendekatan Residential

Pendeketan melibatkan perawatan di rumah sakit atau tempat terapi.

5. Pendekatan Psikodinamika

Terapi yang berfokus pada penyalahgunaan atau ketergantungan zat dinilai sebagai tipe terapi tidak mendalam. Diasumsikan jika konflik pada masa lalu dapat diatasi, perilaku penyalahgunaan juga akan digantikan oleh bentuk yang lebih matang dari pemenuhan kepuasan yang dicari.

6. Pendekatan Behavioral, fokus pada modifikasi perilaku penyalahguna dan dependen, penyalahguna dapat belajar untuk mengubah perilaku mereka saat dihadapkan dengan godaan. Terapi self control yang sering digunakan, ada 3 komponen:

1. isyarat antesden, atau stimuli (A) yang memicu penyalahgunaan

2. Perilaku penyalahgunaan (B) itu sendiri, dan

3. Konsekuensi hukuman atau penguatan (C) yang mempertahankan atau mencegah penyalahgunaan.

Aversive Conditioning, stimulus yang menyakitkan atau menolak (aversive) dipasangkan dengan penyalahgunaan zat atau stimulus yang berhubungan dengan penyalahgunaan untuk membuat penyalahgunaan kurang menarik. Dalam kasus masalah minum, rasa minuman beralkohol yang berbeda biasanya dipasangkan dengan zat kimia yang menyebabkan mual dan muntah atau dengan kejutan listrik.

7. Pelatihan ketrampilan sosial, pelatihan ketrampilan sosial membantu orang mengembangkan respons interpersonal yang efektif dalam situasi sosial yang memicu penyalahgunaan zat.

8. Pelatihan Pencegahan Kambuh, membantu orang dengan masalah penyalahgunaan zat mengatasi situasi beresiko tinggi dan mencegah tergelincir untuk menjadi kambuh total.
4. sebutkan penggolongan obat psikofarmaka (psikotropik)!

Jawaban:

Menurut Depkes (2000), jenis obat psikofarmaka adalah :
1) Clorpromazine (CPZ, Largactile)

2) Haloperidol (Haldol, Serenace)

3) Trihexiphenidyl (THP, Artane, Tremin)

Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang pemberantasan peredaran narkotika dan psikotropika, tahun 1988 tersebut maka psikotropika dapat digolongkan sebagai berikut : (didahului dengan nama International dan nama kimia diletakkan dalam tanda kurung)

Psikotropika golongan I
* Broloamfetamine atau DOB ((±)-4-bromo-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine)
* Cathinone ((x)-(S)-2-aminopropiophenone)
* DET (3-[2-(diethylamino)ethyl]indole)
* DMA ( (±)-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine )
* DMHP ( 3-(1,2-dimethylheptyl)-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-olo )
* DMT ( 3-[2-(dimethylamino)ethyl]indole)
* DOET ( (±)-4-ethyl-2,5-dimethoxy-alpha-phenethylamine)
* Eticyclidine – PCE ( N-ethyl-1-phenylcyclohexylamine )
* Etrytamine ( 3-(2-aminobutyl)indole )
* Lysergide – LSD, LSD-25 (9,10-didehydro-N,N-diethyl-6-methylergoline-8beta-carboxamide)
* MDMA ((±)-N,alpha-dimethyl-3,4-(methylene-dioxy)phenethylamine)
* Mescaline (3,4,5-trimethoxyphenethylamine)
* Methcathinone ( 2-(methylamino)-1-phenylpropan-1-one )
* 4-methylaminorex ( (±)-cis-2-amino-4-methyl-5-phenyl-2-oxazoline )
* MMDA (2-methoxy-alpha-methyl-4,5-(methylenedioxy)phenethylamine)
* N-ethyl MDA ((±)-N-ethyl-alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethylamine)
* N-hydroxy MDA ((±)-N-[alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethyl]hydroxylamine)
* Parahexyl (3-hexyl-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H-dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
* PMA (p-methoxy-alpha-methylphenethylamine)
* Psilocine, psilotsin (3-[2-(dimethylamino)ethyl] indol-4-ol)
* Psilocybine (3-[2-(dimethylamino)ethyl]indol-4-yl dihydrogen phosphate)
* Rolicyclidine – PHP,PCPY ( 1-(1-phenylcyclohexyl)pyrrolidine )
* STP, DOM (2,5-dimethoxy-alpha,4-dimethylphenethylamine)
* Tenamfetamine – MDA (alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethylamine)
* Tenocyclidine – TCP (1-[1-(2-thienyl)cyclohexyl]piperidine)
* Tetrahydrocannabinol
* TMA ((±)-3,4,5-trimethoxy-alpha-methylphenethylamine)

Psikotropika golongan II
* Amphetamine ((±)-alpha-methylphenethylamine)
* Dexamphetamine ((+)-alpha-methylphenethylamine)
* Fenetylline (7-[2-[(alpha-methylphenethyl)amino] ethyl]theophylline)
* Levamphetamine ((x)-(R)-alpha-methylphenethylamine)
* Levomethampheta-mine ((x)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Mecloqualone (3-(o-chlorophenyl)-2-methyl-4(3H)- quinazolinone)
* Methamphetamine ((+)-(S)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Methamphetamineracemate ((±)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Methaqualone (2-methyl-3-o-tolyl-4(3H)-quinazolinone)
* Methylphenidate (Methyl alpha-phenyl-2-piperidineacetate)
* Phencyclidine – PCP (1-(1-phenylcyclohexyl)piperidine)
* Phenmetrazine (3-methyl-2-phenylmorpholine)
* Secobarbital (5-allyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)
* Dronabinol atau delta-9-tetrahydro-cannabinol ((6aR,10aR)-6a,7,8,10a-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-3-pentyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
* Zipeprol (alpha-(alpha-methoxybenzyl)-4-(beta-methoxyphenethyl)-1-piperazineethanol)

Psikotropika golongan III
* Amobarbital (5-ethyl-5-isopentylbarbituric acid)
* Buprenorphine (2l-cyclopropyl-7-alpha-[(S)-1-hydroxy-1,2,2-trimethylpropyl]-6,14- endo-ethano-6,7,8,14-tetrahydrooripavine)
* Butalbital (5-allyl-5-isobutylbarbituric acid)
* Cathine / norpseudo-ephedrine ((+)-(R)-alpha-[(R)-1-aminoethyl]benzyl alcohol)
* Cyclobarbital (5-(1-cyclohexen-1-yl)-5-ethylbarbituric acid)
* Flunitrazepam (5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-7-nitro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Glutethimide (2-ethyl-2-phenylglutarimide)
* Pentazocine ((2R*,6R*,11R*)-1,2,3,4,5,6-hexahydro-6,11-dimethyl-3-(3-methyl-2-butenyl)-2,6-methano-3-benzazocin-8-ol)
* Pentobarbital (5-ethyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)

Psikotropika golongan IV
* Allobarbital (5,5-diallylbarbituric acid)
* Alprazolam (8-chloro-1-methyl-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
* Amfepramone (diethylpropion 2-(diethylamino)propiophenone)
* Aminorex (2-amino-5-phenyl-2-oxazoline)
* Barbital (5,5-diethylbarbituric acid)
* Benzfetamine (N-benzyl-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Bromazepam (7-bromo-1,3-dihydro-5-(2-pyridyl)-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Butobarbital (5-butyl-5-ethylbarbituric acid)
* Brotizolam (2-bromo-4-(o-chlorophenyl)-9-methyl-6H-thieno[3,2-f]-s-triazolo[4,3-a][1,4]diazepine)
* Camazepam (7-chloro-1,3-dihydro-3-hydroxy-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4 benzodiazepin-2-one dimethylcarbamate (ester))
* Chlordiazepoxide (7-chloro-2-(methylamino)-5-phenyl-3H-1,4-benzodiazepine-4-oxide)
* Clobazam (7-chloro-1-methyl-5-phenyl-1H-1,5-benzodiazepine-2,4(3H,5H)-dione)
* Clonazepam (5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-7-nitro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Clorazepate (7-chloro-2,3-dihydro-2-oxo-5-phenyl-1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylic acid)
* Clotiazepam (5-(o-chlorophenyl)-7-ethyl-1,3-dihydro-1-methyl-2H-thieno [2,3-e] -1,4-diazepin-2-one)
* Cloxazolam (10-chloro-11o-chlorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydro-oxazolo- [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
* Delorazepam (7-chloro-5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Diazepam (7-chloro-1,3-dihydro-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Estazolam (8-chloro-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
* Ethchlorvynol (1-chloro-3-ethyl-1-penten-4-yn-3-ol)
* Ethinamate (1-ethynylcyclohexanolcarbamate)
* Ethyl loflazepate (ethyl 7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-2,3-dihydro-2-oxo-1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylate)
* Etil Amfetamine / N-ethylampetamine (N-ethyl-alpha-methylphenethylamine)
* Fencamfamin (N-ethyl-3-phenyl-2-norborananamine)
* Fenproporex ((±)-3-[(alpha-methylphenylethyl)amino]propionitrile)
* Fludiazepam (7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Flurazepam (7-chloro-1-[2-(diethylamino)ethyl]-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Halazepam (7-chloro-1,3-dihydro-5-phenyl-1-(2,2,2-trifluoroethyl)-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Haloxazolam (10-bromo-11o-fluorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydrooxazolo [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
* Ketazolam (11-chloro-8,12b-dihydro-2,8-dimethyl-12b-phenyl-4H-[1,3]oxazino[3,2-d][1,4]benzodiazepine-4,7(6H)-dione)
* Lefetamine – SPA ((x)-N,N-dimethyl-1,2-diphenylethylamine)

Penggolongan berdasarkan rumus kimiawi:

  1. kelompok fenotiazine
  2. kelompok buspiron
  3. kelompok trisiklik/tetrasiklik/SSRI

Penggolongan berdasarkan efek yang diharapkan

  1. anti psikotik

Konvensional (lama): fenotiazine (chlorpromazine), piperazine (trifluoperazine), definibutylpiperidine (pimezode), piperidine (thioridazine), butyrophenone (haloperidol).

Novel (modern): benzisoxadole (resperidone), dibenzodiazepine (clozapine), dibenzothiazepine (quetiapine) dan thienobenzodiazepine (olanzapine).

Antipsikosis Tipikal (FGA): low potency > klorpromazine, tioridazine, mesoridazine, high potency > perfenazine, thiotixene, loxapin, molindon, haloperidol, flufenazine, trifuloperazine.

Antipsikosis Atipikal (SGA), antagonis reseptor 5-HT, blokade dopamine rendah: klozapin, olanzapin, quetiapine, ziprasidon, aripiprazol, risperidon.

Fenotiazine: Klorpromazine, trifulopromazine, tioridazine, flufenazine, plokroperazine, trifuoloperazine.

Thioxantine: Klorprotiksen, thiotiksen.

Dihidroindolon: Molindon

Dibenzoksazepin: loksapin (loxitane).

Dibenzodiazepine: Klozapin (Clozaril).

Butirofenon: Haloperidol (Haldol).

Difenibutilfiferidin: Pimozid (orap)

  1. anti cemas (anti ansietas dan hipnotik)
    1. barbiturat: fenobarbital, alprazolam
    2. benzodiazepine: klordiazepoksid, oksazepam, diazepam, untuk hipnotik (lorazepam dan temazepam).
    3. Non benzodiazepine: meprobomate, buspirone.
    4. Beta adrenergic blocker: propanolol dan atenolol.
    5. anti depresi
      1. Antidepresi trisiklik: imipramin, amitripilin, doksepin, klmipramin, desipramin, nortriptilin, amoksapin, proptriptilin, klomipramin.
      2. Antidepresi Tetrasiklik: maproptiline, mianserin, amozapine.
      3. Antidepresi generasi II: desimipramin, trazodone, bupropion, amoksapin, maprotilin
      4. Antidepresi generasi III: venlafaxine, nefazodone (duloxetine, mirtazepine
      5. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs): fluoksetin, fluvoksamin, paroksetin, sertralin.
      6. MAOI: Moklobamid.
      7. Penghambat Monoamin Oksidase dan anti depresan lain: tranilisipromin, feneizin, isokarboksazid, selegilin. Lain-lain: mianserin, maproptilin, alprazolam, dan bupropion.
      8. Anti depresi Atypical: trazodone.
      9. anti obsesi
      10. anti panik
      11. anti mania:

Mania akut: haloperidol (haldol, serenace), carbamazepin (tegretol)

Profilaksis mania: lithium carbonate (teralithe)

  1. anti insomnia:

benzodiazepine: nitrazepam, flurazepam, triazolam, estazolam

Non benzodiazepine: chloral hydrate, phenobarbital

Penggolongan berdasarkan diagnostik

  1. obat untuk delirium
  2. obat untuk demensia
  3. obat untuk skizofrenia
  4. Obat untuk Gangguan Bipolar: Litium, olanzepine, karbamazepine, valproal
  5. obat untuk gangguan cemas menyeluruh
  6. obat untuk obsesi kompulsi
  7. obat untuk gangguan somatoform
  8. obat untuk gangguan insomnia

Penggolongan berdasarkan kategori lama/baru

  1. kelompok konvensional (lama)

Contoh: chlorpromazine, trifluoperazine, amitrypiline, maproptilin, diazepam, dan clonazepam

  1. kelompok novel (baru)

Contoh: risperidone, quetiapine, kelompok selective cerotonin inhibitor, dan sertralin.

  1. Jelaskan tentang hipnotik-sedative !

Jawaban:

Hipnotik Sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung kepada dosis.
Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas, menurunkan respon terhadap rangsangan emosi dan menenangkan. Obat Hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.

Obat hipnotika dan sedatif biasanya merupakan turunan Benzodiazepin. Beberapa obat Hipnotik Sedatif dari golongan Benzodiazepin digunakan juga untuk indikasi lain, yaitu sebagai pelemas otot, antiepilepsi, antiansietas dan sebagai penginduksi anestesis.

Gb. Cara kerja obat golongan Benzodiazepine

Obat-obat Hipnotik Sedatif yang beredar di Indonesia :

  1. Flurazepam
    Flurazepam diindikasikan sebagai obat untuk mengatasi insomnia. Hasil dari uji klinik terkontrol telah menunjukkan bahwa Flurazepam menguarangi secara bermakna waktu induksi tidur, jumlah dan lama terbangun selama tidur , maupun lamanya tidur. Mula efek hipnotik rata-rata 17 menit setelah pemberian obat secara oral dan berakhir hingga 8 jam.
    Efek residu sedasi di siang hari terjadi pada sebagian besar penderita,oleh metabolit aktifnya yang masa kerjanya panjang, karena itu obat Fluarazepam cocok untuk pengobatan insomia jangka panjang dan insomnia jangka pendek yang disertai gejala ansietas di siang hari.
  2. Midazolam
    Midazolam digunakan agar pemakai menjadi mengantuk atau tidur dan  menghilangkan kecemasan sebelum pasien melakukan operasi atau untuk tujuan lainnya Midazolam kadang-kadang digunakan pada pasien di ruang ICU agar pasien menjadi pingsan. Hal ini dilakukan agar pasien yang stres menjadi kooperatif dan mempermudahkan kerja alat medis yang membantu pernafasan.
  3. Nitrazepam
    Nitrazepam bekerja dengan meningkatkan aktivitas GABA, sehingga mengurangi fungsi otak pada area tertentu. Dimana menimbulkan rasa kantuk, menghilangka rasa cemas, dan membuat otot relaksasi.Nitrazepam biasanya digunakan untuk mengobati insomnia. Nitrazepam mengurangi waktu terjaga sebelum tidur dan terbangun di malam hari, juga meningkatkan panjangnnya waktu tidur. Seperti Nitrazepam ada dalam tubuh beberapa jam, rasa kantuk bisa tetap terjadi sehari kemudian.
  4. Estazolam
    Estazolam digunakan jangka pendek untuk membantu agar mudah tidur dan tetap tidur sepanjang malam. Estazolam tersedia dalam bentuk tablet digunakan secara oral diminum sebelum atau sesudah makan. Estazolam biasanya digunakan sebelum tidur bila diperlukan.

5. Zolpidem Tartrate
Zolpidem Tartrate bukan Hipnotika dari golongan Benzodiazepin tetapi merupakan turunan dari Imidazopyridine. Zolpidem disetujui untuk penggunaan jangka pendek (biasanya dua minggu) untuk mengobati insomnia.

6. Jelaskan tentang amphetamin !

Jawaban:

Amfetamin menunjukkan efek neurologi dan klinik yang amat mirip dengan yang terjadi pada kokain.

Mekanisme kerja

Efek amfetamin secara tidak langsung pada SSP dan SSP (perifer), tergantung peningkatan kadar transmiter pada ruang sinap. Amfetamin memberikan efek ini melepaskan depot intraselular katekolamin. Karena amfetamin menghambat monoamine oksidase (MAO).

Efek pada SSP: memacu sumbu serebrospinalis keseluruhan korteks, batang otak, sambungan otak dan medula. Ini meningkatkan kesiagaan, berkurangnya keletihan, menekan nafsu makan dan insomnia. Pada dosis tinggi menyebabkan kejang.

Efek pada Saraf Simpatik: mempengaruhi sistem adrenergik, memacu respetor secara tidak langsung melalui pelepasan norepinefrin.

Penggunaan dalam terapi: bisa menimbulkan toleransi sampai efek euforia dan anoreksia dengan penggunaan kronis.

a. sindrom kurang atensi: menghilangkan beberapa masalah tingkah laku pada sinrdrom ADHD.

b. Narkolepsi: suatu penyakit dengan keinginan tidur yang luar biasa.

Farmakokinetik: diabsorbsi sempurna dalam saluran pencernaan, dimetabolisme di hati dan dikeluarkan melalui urine. Penyalahgunaan biasa digunakan melalui suntikan intravena atau merokok. Euforia berlangsung 4-6 jam atau 4-8 kali lebih lama dari efek kokain. Amfetamine menimbulkan adiksi ketergantungan dan keinginan mendapatkan obat.

Efek samping:

a. efek pusat: yang tidak diinginkan, insomnia, iritabel, lemah, pusing, gemetar, dan refleks hiperaktif. Dapat menyebabkan: konfusi, delirium, panik dan tendensi bunuh diri terutama pada pasien sakit mental. Dapat menimbulkan adiksi dan toleransi.

b. efek kadiovaskular: palpitasi, aritmia jantung, hipertensi, sakit angina, kolaps kambuh, sakit kepala, menggigil, keringat ngucur.

c. efek pada pencernaan: anoreksia, mual, muntah, kram perut dan diare.

Pengertian Amfetamin

Amfetamin adalah kelompok narkoba  yang dibuat secara sintetis dan akhir-akhir ini menjadi populer di Asia Tenggara. Amfetamin biasanya berbentuk bubuk putih, kuning atau coklat dan kristal kecil berwarna putih. Cara memakai amfetamin yang paling umum adalah dengan menghirup asapnya. Nama-nama lain: Shabu, SS, Ubas, Ice dll.Stimulan-stimulan seperti amfetamin mempengaruhi sistem saraf pusat dengan mempercepat kegiatan bahan-bahan kimia tertentu di dalam otak. Contoh stimulan lain misalnya kafein dan kokain.

Obat-obat Amphetamin

Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan amfetamin adalah:
- Amfetamin
- Metamfetamin
- Metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstasy atau Adam).

Penggunaan Amphetamin

Amfetamin bisa disalahgunakan selama bertahun-tahun atau digunakan sewaktu-waktu. Bisa terjadi ketergantungan fisik maupun ketergantungan psikis.

Beberapa amfetamin tidak digunakan untuk keperluan medis dan beberapa lainnya dibuat dan digunakan secara ilegal. Misalnya penyalahgunaan MDMA sebelumnya tersebar luas di Eropa. MDMA mempengaruhi penyerapan ulang serotonin (salah satu penghantar saraf tubuh) di otak dan diduga menjadi racun bagi sistim saraf.

Amfetamin meningkatkan kesiagaan (mengurangi kelelahan), menambah daya konsentrasi, menurunkan nafsu makan dan memperkuat penampilan fisik.
Obat ini menimbulkan perasaan nyaman atau euforia (perasaan senang yang berlebihan).

Beberapa pecandu amfetamin adalah penderita depresi dan mereka menggunakan efek peningkat-suasana hati dari amfetamin untuk mengurangi depresinya sementara waktu.

Pada atlet pelari, amfetamin bisa memperbaiki penampilan fisik, perbedaan sepersekian detik bisa menentukan siapa yang menjadi juara.
Para pengemudi truk jarak jauh menggunakan amfetamin supaya mereka tetap terjaga. Selain merangsang otak, amfetamin juga meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.

Kematian lebih mungkin terjadi jika:

- MDMA digunakan dalam ruangan hangat dengan ventilasi yang kurang
- pemakai sangat aktif secara fisik (misalnya menari dengan cepat)
- pemakai berkeringat banyak dan tidak minum sejumlah cairan yang cukup untuk menggantikan hilangnya cairan.

Orang yang memiliki kebiasaan menggunakan amfetamin beberapa kali sehari, dengan segera akan mengalami toleransi.
Jumlah yang digunakan pada akhirnya akan meningkat sampai beberapa ratus kali dosis awal.

Pada dosis tertentu, hampir semua pecandu menjadi psikostik, karena amfetamin dapat menyebabkan kecemasan hebat, paranoia dan gangguan pengertian terhadap kenyataan hidup. Reaksi psikotik meliputi halusinasi dengar dan lihat (melihat dan mendengar benda yang sebenarnya tidak ada) dan merasa sangat berkuasa. Efek tersebut bisa terjadi pada siapa saja, tetapi yang lebih rentan adalah pengguna dengan kelainan psikiatrik (misalnya skizofrenia).

Gejala yang berlawanan dengan efek amfetamin terjadi jika amfetamin secara tiba-tiba dihentikan penggunannya. Pengguna akan menjadi lelah atau mengantuk, yang bisa berlangsung selama 2-3 hari setelah penggunaan obat dihentikan. Beberapa pengguna sangat cemas dan gelisah.

Pengguna yang juga menderita depresi bisa menjadi lebih depresi jika obat ini berhenti digunakan.

Mereka menjadi cenderung ingin bunuh diri, tetapi selama beberapa hari mereka mengalami kekurangan tenaga untuk melakukan usaha bunuh diri.
Karena itu pengguna menahun perlu dirawat di rumah sakit selama timbulnya gejala putus obat.

Pada pengguna yang mengalami delusi dan halusinasi bisa diberikan obat anti-psikosa (misalnya klorpromazin), yang akan memberikan efek menenangkan dan mengurangi ketegangan. Tetapi obat anti-psikosa bisa sangat menurunkan tekanan darah.
Penyalahgunaan Amfetamin

Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan amfetamin adalah: – Amfetamin – Metamfetamin – Metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstasy atau Adam). Amfetamin bisa disalahgunakan selama bertahun-tahun atau digunakan sewaktu-waktu. Bisa terjadi ketergantungan fisik maupun ketergantungan psikis. Dulu ketergantungan terhadap amfetaamin timbul jika obat ini diresepkan untuk menurunkan berat badan, tetapi sekarang penyalahgunaan amfetamin terjadi karena penyaluran obat yang ilegal.

Amfetamin atau Amphetamine atau Alfa-Metil-Fenetilamin atau beta-fenil-isopropilamin, atau benzedrin, adalah obat golongan stimulansia (hanya dapat diperoleh dengan resep dokter) yang biasanya digunakan hanya untuk mengobati gangguan hiperaktif karena kurang perhatian atau Attention-deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada pasien dewasa dan anak-anak. Juga digunakan untuk mengobati gejala-gejala luka-luka traumatik pada otak dan gejala mengantuk pada siang hari pada kasus narkolepsi dan sindrom kelelahan kronis.

Pada awalnya, amfetamin sangat populer digunakan untuk mengurangi nafsu makan dan mengontrol berat badan. Merk dagang Amfetamin (di AS) antara lain Adderall, dan Dexedrine. Sementara di Indonesia dijual dalam kemasan injeksi dengan merk dagang generik. Obat ini juga digunakan secara ilegal sebagai obat untuk kesenangan (Recreational Club Drug) dan sebagai peningkat penampilan (menambah percaya diri atau PD). Istilah “Amftamin” sering digunakan pada campuran-campuran yang diturunkan dari Amfetamin.

pengaruh langsung pemakaian amfetamin

  • Nafsu makan berkurang.
  • Kecepatan pernafasan dan denyut jantung meningkat.
  • Pupil mata membesar.
  • Merasa nyaman; energi dan kepercayaan diri meningkat secara tidak normal.
  • Susah tidur.
  • Hiperaktif dan banyak bicara.
  • Mudah panik.
  • Mudah tersinggung, marah dan agresif.

pengaruh jangka panjang pemakaian amfetamin

  • Menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi dan penyakit.
  • Pemakai beresiko menderita kekurangan gizi.
  • Mengalami gangguan kejiwaan akibat amfetamin, termasuk diantaranya delusi, halusinasi, paranoid dan tingkah laku yang aneh.
  • Perlu meminum obat-obatan lain untuk menutupi pengaruh-pengaruh amfetamin.
  • Ketergantungan; tubuh pemakai menyesuaikan diri dengan amfetamin.

Bahaya dan akibat lain
Toleransi dan ketergantungan

Toleransi terhadap amfetamin berarti pengguna ampetamin akan tergantung dengan obat ini, dengan dosis yang semakin lama semakin tinggi untuk mendapatkan pengaruh yang sama. Narkoba ini juga menjadi kebutuhan yang utama, dalam pikiran, perasaan dan kegiatan pemakai, sehingga akan sulit untuk berhenti atau mengurangi pemakaian. Inilah yang disebut ketergantungan.

Kelebihan dosis amfetamin seringkali dicampur dengan bahan-bahan berbahaya lainnya, sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana tubuh akan bereaksi. Juga sukar untuk mengetahui dosis dari obat yang sedang dipakai. Hal ini dapat menyebabkan over dosis (OD).Over dosis amfetamin menyebabkan:

  • Denyut jantung yang tidak beraturan.
  • Serangan jantung.
  • Demam tinggi.
  • Pecahnya pembuluh-pembuluh darah di otak.
  • Kematian.

Tindak kejahatan

Pemakai seringkali terpaksa melakukan tindak kejahatan untuk menyokong ketagihan mereka pada amfetamin. Mereka mungkin mencuri uang dan barang-barang lain yang dapat mereka jual dari orangtua atau saudara-saudara mereka. Mereka juga mungkin terlibat dalam tindak kejahatan yang lebih berat yang dapat membuat mereka dipenjara atau menempatkan mereka ke dalam keadaan yang sangat berbahaya.Narkoba dan hukum
Memiliki, memakai atau menjual amfetamin secara bebas, di Indonesia merupakan pelanggaran hukum dan dapat dikenakan hukuman pidana berupa penjara dan/atau denda yang berat. Barangsiapa dihukum atas tuduhan yang berkenaan dengan narkoba akan memiliki catatan kriminal. Hal ini dapat menimbulkan masalah-masalah lain dalam hidup; dari kesulitan mendapatkan pekerjaan atau visa perjalanan sampai kesulitan mendapat kesempatan pendidikan, di dalam dan di luar negeri.

Gejala-gejala awal over dosis:

  • Kulit pucat atau membiru.
  • Hilang kesadaran.
  • Melemahnya denyut jantung.
  • Sawan.
  • Kesulitan bernapas.

Apabila Anda menemukan salah satu dari gejala  diatas, carilah pertolongan secepatnya. Meninggalkan seseorang dalam kondisi ini dapat berakibat fatal. Langkah-langkah yang dapat diambil sebelum adanya bantuan:

  • Bebaskan jalan pernafasannya (pada hidung dan mulut).
  • Baringkan dia pada sisi tubuhnya – jika terlentang, dia dapat tercekik bila muntah.
  • Periksa pernafasannya.
  • Periksa detak jantungnya.

Ciri ciri Gangguan Intoksikasi Amfetamin menurut DSM-IV-TR meliputi :

  • Perilaku tidak semestinya atau perubahan psikologis yang signifikan misalnya, euforia, hypervigilance (kewaspadaan yang berlebihan), penilaian yang terhambat, fungsi yang terhambat, selama atau tidak lama setelah menggunakan amfetamin.
  • Terdapat dua atau lebih dari tanda tanda berikut ini : detak jantung yang meningkat atau berkurang, dilatasi (pembesaran) pupil, mual, berat badan turun secara signifikan, agitasi atau perlambatan psikomotorik, kelemahan otot, kebingungan, kejang kejang atau koma.

Pada dosis rendah, amfetamin dapat menginduksi perasaan girang dan giat serta dapat mengurangi kelelahan. Anda secara harfiah merasa up (naik ke atas). Tetapi setelah periode elevasi, Anda kembali turun dan crash (jatuh), merasa depresi atau lelah. Dalam kuantitas yang cukup, stimulan dapat menimbulkan gangguan penggunaan afetamin (amphetamine use disorders).

Obat ini pada awalnya diresepkan untuk mengontrol berat badannya. Para pengemudi long haul truck, pilot dan sebagian mahasiswa yang berusaha begadang semalaman menggunakan amfetamin untuk mendapatkan energi ekstra dan agar tidak mengantuk. Amfetamin diresepkan untuk para penderita narcolepsy, gangguan tidur yang ditandai oleh perasaan mengantuk yang eksesif.

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk intoksikasi amfetamin termasuk gejala gejalah perilaku yang signifikan seperti euforia atau afeksi yang menumpul, perubahan dalam sosiabilitas, sensitivitas interpersonal, kecemasan, ketegangan, amarah, perilaku stereotipe, penilaian yang terhambat dan fungsi sosial atau pekerjaan yang terhambat.

Selain itu, gejala gejala fisiologis muncul selama atau tidak lama setelah amfetamin atau substansi substansi terkait dicerna dan dapat meliputi perubahan detak jantung atau tekanan darah, berkeringat atau menggigil kedinginan, mual atau muntah, kehilangan berat badan, kelemahan otot, depresi pernafasan, nyeri dada, kejang kejang atau koma.

Bahaya yang terkandung dalam penggunaan amfetamin dan stimulan lainnya adalah efek efek negatifnya. Intoksikasi berat atau overdosis dapat mengakibatkan halusinasi, panik, agitasi dan delusi paranoid (Mack dan kawan kawan, 2003). Toleransi terbangun dengan cepat, yang membuatnya dua kali lipat lebih berbahaya. Withdrawal substansi ini sering mengakibatkan apati, waktu tidur yang lebih panjang, iritabilitas dan depresi.

Sebuah amfetamin yang disebut methylene dioxymethamphetamine (MDMA) yang disintesiskan untuk pertama kalinya pada 1912 di Jerman, digunakan sebagai penekan nafsu makan (Grob dan Polan, 1997). Penggunaan rekreasional dari obat ini yang sekarang biasa disebut Ecstacy, melonjak tajam pada akhir 1980an. Setelah methamphetamine, MDMA adalah club drug yang paling sering menyeret orang keruang gawat darurat rumah sakit dan telah melampaui frekuensi penggunaan LSD (Substance Abuse and Mental Health Service Administration, 2003b).

Salah seorang penggunanya mendeskripsikan efek efeknya, sangat mirip dengan speed tetapi tanpa disertai kemunduran dan Anda merasa hangat dan trippy (ringan) seperti asam, tetapi tanpa kemungkinan mengalami freaked out (perilaku yang khas pada pemakai obat bius) berat (O Hagan, 1992, hlmn. 10).

Obat ini menimbulkan kecenderungan agresif yang nyata dan tetap tinggal dalam sistem hingga waktu yang lama, lebih lama dibanding kokain, yang membuatnya sangat berbahaya (Sten dan Ellinwood, 1993). Tetapi perasaan menyenangkan dalam jangka pendek yang ditimbulkan oleh amfetamin amfetamin baru ini membuat potensi penggunanya untuk menjadi tergantung kepadanya sangat tinggi, dengan resiko mengalami berbagai masalah jangka panjang yang lebih besar pula.

Nama generic: D-pseudo epinefrin. Nama jalanan: speed, meth, crystal, uppers, whiz, dan sulphate. Bentuk: bubuk warna putih dan keabu-abuan.

Ada dua jenis amphetamine

1. MDMA (Methylene Dioxy Methamphetamin), nama lain: fantacy pils, inex, cece, cein, tidak selalu berisi MDMA karena merupakan designer drug, dicampur zat lain untuk mendapatkan efek yang diharapkan. Dikemas dalam bentuk pil atau kapsul.

2. Methamfetamin, cara penggunaanya, dalam bentuk pil di minum peroral, dalam bentuk kristal dibakar dengan menggunakan kertas aluminium foil dan asapnya dihisap (intra nasal) atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus, dalam bentuk kristal yang dilarutkan, dapat juga melalui intravena.

TEORI BELAJAR SOSIAL

ALBERT BANDURA

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………..                         i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………..                         ii

BAB    I.  PENDAHULUAN……………………………………………………………………….                         1

1.1      Latar Belakang Teori……………………………………………………………                         1

1.2      Biografi………………………………………………………………………………..                         2

BAB   II.  LANDASAN TEORI…………………………………………………………………..                         5

2.1     Esensi teori

2.2     Struktrur kepribadian…………………………………………………………..                         5

2.3  Dinamika kepribadian …………………………………………..                          12

2.4   Perkembangan kepribadian………………………………………………….                         13

2.5   Psikopatologi………………………………………………………………………..                         20

2.6   Psikoterapi……………………………………………………………………………                         21

2.7   Metodologi……………………………………………………………………………                         23

2.8   Penerapan teori bandura………………………………………………………                         23

2.9   Kliping………………………………………………………………………………….                         29

BAB   V.  KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………….                         31

5.1  Evaluasi…………………………………………………………………………………                         31

5.2  Kesimpulan …………………………………………………………………………..                         32

5.3  Saran………………………………………………………………………………………                         34

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………                         36

LAMPIRAN (JURNAL)……………………………………………………………………………..                          37

BIOGRAFI

Tokoh ini dilahirkan pada tahun 1925 di Alberta, Canada. Albert  menempuh pendidikan kesarjanaannya di bidang psikologi klinis di Universitas Iowa dan mencapai gelar Ph.D setahun kemudian pada tahun 1952. Setelah menempuh pelatihan post-doktoral di bidang klinis selama satu tahun, pada tahun 1953 Bandura bekerja di Universitas Stanford, di mana kini ia menjadi Profesor David Starr dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Ia pernah bekerja sebagai Ketua Jurusan Psikologi Stanford dan pada tahun 1974 terpilih menjadi Ketua American Psychological Association.

Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972.

Pada bagian selanjutnya kelompok kami akan banyak membahas tentang teori kepribadian yang berprinsip pada belajar sosial (social learning). Teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura, didasarkan pada konsep saling menentukan (reciprocal determinism), tanpa penguatan (beyond reinforcement), dan pengaturan diri/berfikir (sel-regulation/cognition).

Pada makalah ini juga berisi jurnal dan beberapa kasus berhubungan dengan penerapan teori belajar sosial.

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG TEORI
Penelitian Bandura mencakup banyak masalah yang bersifat sentral untuk teori belajar sosial, dan lewat penelitian-penelitian itu teorinya dipertajam dan diperluas. Penelitian ini meliputi studi tentang imitasi dan identifikasi, Perkuatan Sosial, Perkuatan Diri dan Pemonitoran, serta Perubahan Tingkah Laku melalui pemodelan.

Bersama Richard Wakters sebagai penulis kedua, Bandura menulis Adolescent Aggression (1959), suatu laporan terinci tentang sebuah studi lapangan dimana prinsip-prinsip belajar sosial dipakai untuk menganalisis perkembangan kepribadian sekelompok remaja pria delinkuen dari kelas menengah, disusul dengan Social Learning and personality development (1963), sebuah buku dimana ia dan Walters memaparkan prinsip-prinsip belajar sosial yang telah mereka kembangkan beserta evidensi atau bukti yang menjadi dasar bagi teori tersebut. Pada tahun 1969, Bandura menerbitkan Principles of behavior modification, dimana ia menguraikan penerapan teknik-teknik behavioral berdasarkan prinsip-prinsip belajar dalam memodifikasi tingkah laku dan pada tahun 1973, ”Aggression: A social learning analysis”.

Dalam bukunya yang secara teoretis ambisius, Social Learning Theory (1977), ia telah “berusaha menyajikan suatu kerangka teoretis yang terpadu untuk menganalisis pikiran dan tingkah laku manusia”.

Sama seperti halnya kebanyakan pendekatan teori belajar terhadap kepribadian, teori belajar sosial berpangkal pada dalil bahwa tingkah laku manusia sebagian besar adalah hasil pemerolehan, dan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah cukup untuk menjelaskan bagaimana tingkah laku berkembang dan menetap. Akan tetapi, teori-teori sebelumnya selain kurang memberi perhatian pada konteks sosial dimana tingkah laku ini muncul, juga kurang menyadari fakta bahwa banyak peristiwa belajar yang penting terjadi dengan perantaraan orang lain. Artinya, sambil mengamati tingkah laku orang lain, individu-individu belajar mengimitasi atau meniru tingkah laku tersebut atau dalam hal tertentu menjadikan orang lain model bagi dirinya.

Dalam bukunya terbutan 1941, Social larning and imitation, Miller dan Dollard telah mengakui peranan penting proses-proses imitatif dalam perkembangan kepribadian dan telah berusaha menjelaskan beberapa jenis tingkah laku imitatif tertentu. Tetapi hanya sedikit pakar lain peneliti kepribadian mencoba memasukan gejala belajar lewat observasi ke dalam teori-teori belajar mereka, bahkan Miller dan Dollard pun jarang menyebut imitasi dalam tulisan-tulisan mereka yang kemudian. Bandura tidak hanya berusaha memperbaiki kelalaian tersebut, tetapi juga memperluas analisis terhadap belajar lewat observasi ini melampaui jenis-jenis situasi terbatas yang ditelaah oleh Miller dan Dollard.

BAB II

PEMBAHASAN


2.1 ESENSI TEORI

Bagi bandura, walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, prinsip itu harus memperthatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma behaviorisme.

Definisi Belajar sosial (social kognitif) adalah perilaku dibentuk melalui konteks sosial. Perilaku dapat dipelajari baik, sebagai hasil reinformecement maupun reiforcement.

Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri, sehingga mereka bukan semata – mata bidak yang menjadi objek pengaruh lingkungan. Sifat kausal bukan dimiliki sendirian oleh lingkungan, karena orang dan lingkungan saling mempengaruhi.

Kedua, Bandura menyatakan, banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi dengan orang lain. Dampaknya, teori kepribadian yang memadai harus memperhitungkan konteks sosial di mana tingkah laku itu diperoleh dan dipelihara.

Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai determinan resiprokal, beyond reinforcement, dan self regulation.

  1. 1. Determinis resiprokal

Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan. Orang menentukan / mempengaruhi tingkah lakunya dengan mengontrol lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu. Determenis resiprokal adalah konsep penting dalam teori belajar sosial Bandura, menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku. Teori belajar sosial memakai saling detirminis sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psiko-sosial di berbagai tingkat kompleksitas, dari perkembangan interpersonal sampai tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif sari organisasi dan sistem sosial.

Gambar berikut menunjukkan Nilai komperhensif dari determinis resiprokal Bandura dibandingkan dengan teori Behaviorisme lainnya.

Bandura: Hubungan antara Pribadi, Lingkungan dan Tingkah laku saling mempengaruhi

2. Tanpa reinforcement

Bandura memandang teori Skinner dan Hull terlalu bergantung pada reinforcement. Jika setiap unik respon sosial yang orang malah tidak belajar apapun. Menurutnya reinforcement penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan satu – satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar melalui observasi tanpa ada reinforsement yang terlibat, berarti tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori belajar sosial.

  1. 3. Kognisi dan Regulasi diri

Teori belajar  tradisional sering terhalang oleh ke-tidak-senangan atau ketidak mampuan mereka untuk menjelaskan proses kognitif. Konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya sendiri. Kemampuan kecerdasan untuk berfikir simbolik menjadi sarana yang kuat untuk menangani lingkungan, misalnya dengan  menyimpan pengalaman (dalam ingatan) dalam wujud verbal dan gambaran imajinasi untuk kepentingan tingkahlaku pada masa yang akan datang. Kemampuan untuk menggambarkan secara imajinatif hasil yang diinginkan pada masa yang akan datang mengembangkan strategi tingkah laku yang membimbing ke arah tujuan jangka panjang.

Bandura melukiskan :

Teori Belajar Sosial berusaha menjelaskan tingkahlaku manusia dari segi interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara faktor kognitif, tingkahlaku, dan faktor lingkungan. Dalam proses determinisme timbal-balik itulah terletak kesempatan bagi manusia untuk mempengaruhi nasibnya maupun batas-batas kemampuannya untuk memimpin diri sendiri (self-direction). Konsepsi tentang cara manusia berfungsi semacam ini tidak menempatkan orang semata-mata sebagai objek tak berdaya yang dikontrol oleh pengaruh-pengaruh lingkungan ataupun sebagai pelaku-pelaku bebas yang dapat menjadi apa yang dipilihnya. Manusia dan lingkungannya merupakan faktor-faktor yang saling menentukan secara timbal balik (Bandura, 1977)
2. 2 STRUKTUR KEPRIBADIAN

Sistem Self (Self System)

Tidak seperti Skinner yang teorinya tidak memiliki konstruk self, Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan.

Dengan kata lain, self diakui sebagai unsur struktur kepribadian. Saling determinis menempatkan semua hal saling berinteraksi di mana pusat atau pemula-nya adalah sistem self. Sistem self itu bukan unsur psikis yang mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu ke struktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungs – fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku. Pengaruh self tidak otomatis atau mengatur tingkah laku secara otonom, tetapi self menjadi bagian dari interaksi resiprokal.

Regulasi Diri

Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dan dengan kemampuan itu mereka memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan manusia. Balikannya dalam bentuk determinis resiprokal berarti orang dapat untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi diri. Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. Orang memotivasi dan membimbing tingkahlakunya sendiri melalui strategi proaktif, menciptakan ketidakseimbangan, agar dapat memobilisasi kemampuan dan usahanya berdasarkan antisipasi apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ada tiga proses yang dipakai untuk mengevaluasi tingkahlaku internal. Tingkahlaku manusia adalah hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan faktor internal.

a.) Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri

Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi tingkah laku. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh – pengaruh pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang. Melalui orang tua dan guru anak – anak belajar baik-buruk, tingkah laku yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dapat dipakai untuk menilai prestasi diri.

Kedua, faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). Hadiah intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan intensif yang berasal dari lingkungan eksternal. Standar tingkah laku dan penguatan biasanya kerja sama; ketika orang dapat mencapai standar tingkah laku tertentu, perlu penguatan agar tingkah laku semacam itu menjadi pilihan untuk dilakukan lagi.

b) Faktor Internal dalam Regulasi Diri

Faktor internal dalam regulasi diri dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk pengaruh internal.

Faktor Eksternal Faktor Internal
Self Observation Judgmental Process Sel Responses
Standar masyarakat Dimensi Performansi

Kualita

Keseringan

Kuantita

Orisinalitas

Kebenaran

bukti

Dampak

Penyimpangan

Etika

Standar Pribadi

Sumber model

Sumber penguat

Pedoman performasi

Norma standar

Perbandingan sosial

Perbandingan personal

Perbandingan kolektif

Menghargai Aktivitas

Sangat dihormati

Netral

Direndahkan

Atribusi Performansi

Lokus pribadi

Lokus eksternal

Reaksi evaluasi diri

Positif

Negatif

Dampak terhadap self

Dihadiahi

Dihukum

Tanpa respon self

Efikasi Diri (Self Effication)

Bagaimana orang bertingkahlaku dalam situasi tertentu tergantung kepada resiprokal antara lingkungan dengan kondisi kognitif, khususnya faktor kognitif yang berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak melakukan tindakan yang memuaskan. Bandura menyebut keyakinan atau harapan diri ini sebagai efiksasi diri,dan harapan hasilnya disebut ekspektasi hasil.

1. Efiksasi diri atau ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah “Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu”. Efikasi dari berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.

2. Ekspektasi hasil (outcome expectations) adalah perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.

Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita – cita), karena cita – cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai. Sedangkan efikasi menggambarkan ekspektasi efikasi yang tinggi, bahwa dirinya mampu melaksanakan operasi tumor sesuai dengan standar profesional. Namun ekspektasi hasilnya bisa rendah, karena hasil operasi itu sangat tergantung pada daya tahan jantung pasien, kemurnian obat antibiotik, sterilitas dan infeksi, dan sebagainya. Orang bisa memiliki ekspektasi hasil yang realistik (apa yang diharapkan sesuai dengan kenyataan hasilnya), atau sebaliknya, ekspektasi hasilnya tidak realistik (mengharap terlalu tinggi dari hasil nyata yang dipakai). Orang yang ekspektasinya tinggi (percaya bahwa dia dapat mengerjakan sesuai dengan tuntutan situasi) dan harapan hasilnya realistik (memperkirakan hasil sesuai dengan kemampuan diri). Orang itu akan bekerja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai selesai.

Sumber Efikasi Diri

Perubahan tingkah laku, dalam system Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarious experience), persuasi social (social persuation) dan pembangkitan emosi (Emotinal/Physiological states).

Pengalaman performansi

Adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber, performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan member dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya :

  1. Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.
  2. Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain.
  3. Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.
  4. Kegagalan dalam suasana emosional/stress, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
  5. Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.
  6. Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.

Pengalaman Vikarius

Diperoleh melalui model social. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figure yang diamati berbeda dengan diri sipengamat, pengaruh vikarius tidak  besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figure yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.

Tabel Strategi Pengubahan Sumber Ekspektasi Efikasi

Sumber Cara Induksi

Pengalaman Performansi

Participant modelling Meniru model yang berprestasi
Performance desenzation Menghilangkan pengaruh buruk prestasi masa lalu
Performance exposure Menonjolkan keberhasilan yang pernah diraih
Selfinstructed performance Melatih diri untuk melakukan yang terbaik
Pengalaman Vikarius Live modeling Mengamati model yang nyata
Symbolic modelling Mengamati model simbolik,film,komik,cerita.

Persuasi Verbal

Suggestion Mempengaruhi dengan kata-kata berdasar kepercayaan
Exhortation Nasihat,peringatan yang mendesak/memaksa.
Self-instruction Memerintah diri sendiri
Interpretive treatment Interpretasi baru memperbaiki interpretasi lama yang salah

Pembangkitan Emosi

Attribution Mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian emosional
Relaxation biofeedback Relaksasi
Symbolic desensitization Menghilangkan sikap emosional dengan modeling simbolik
Symbolic exposure Memunculkan emosi secara simbolik

Persuasi Sosial

Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi social. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.

Keadaan Emosi

Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri.

Perubahan tingkah laku akan terjadi kalau sumber ekspektasi efikasinya berubah. Pengubahan self-efficacy banyak dipakai untuk memperbaiki kesulitan dan adaptasi tingkah laku orang yang mengalami berbagai masalah behavioral. Keempat sumber itu diubah dengan berbagai strategi yang diringkas dalam Tabel 36.

Efikasi Diri sebagai Prediktor Tingkah laku

Menurut Bandura, sumber pengontrol tingkah laku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkah laku, dan pribadi. Efikasi diri merupakan variabel pribadi yang penting, yang kalau digabung dengan tujuan-tujuan spesifik dan pemahaman mengenai prestasi, akan menjadi penentu tingkah laku mendatang yang penting. Berbeda dengan konsep-diri (Rogers) yang bersifat kesatuan umum, efikasi diri bersifat fragmental. Setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda, tergantung kepada :

  1. Kemampuan yang dituntut oleh situasi yang berbeda itu.
  2. Kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi itu.
  3. Keadaan fisiologis dan emosional ; kelelahan, kecemasan, apatis, murung.

Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif, akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku (Tabel)

Table Kombinasi Efikasi dengan Lingkungan sebagai Prediktor Tingkahlaku

Efikasi Lingkungan Prediksi hasil tingkah laku
Tinggi Responsif Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya
Rendah Tidak responsif Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit
Tinggi Tidak responsif Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas social, bahkan memaksakan perubahan.
Rendah Responsif Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu

Efikasi Kolektif (Collective Efficacy)

Keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka secara bersama-sama dapat menghasilkan perubahan social tertentu, disebut efikasi kolektif. Ini bukan ‘jiwa kelompok’ tetapi lebih sebagai efikasi pribadi dari banyak orang yang bekerja bersama. Bandura berpendapat, orang berusaha mengontrol kehidupan dirinya bukan hanya melalui efikasi diri individual, tetapi juga melalui efikasi kolektif. Misalnya, dalam bidang kesehatan, orang memiliki efikasi diri yang tinggi untuk berhenti merokok atau melakukan diet, tetapi mungkin memiliki efikasi kolektif yang rendah dalam hal mengurangi polusi lingkungan, bahaya tempat kerja, dan penyakit infeksi. Efikasi diri dan efikasi kolektif bersama-sama saling melengkapi untuk mengubah gaya hidup manusia. Efikasi kolektif timbul berkaitan dengan masalah-masalah perusakan hutan, kebijakan perdagangan internasional, perusakan ozone, kemajuan teknologi, hukum dan kejahatan, birokrasi, perang, kelaparan, bencana alam, dan sebagainya.

Physicological arousal

Fisik yang baik meningkatkan kemampuan cope

2.3 DINAMIKA KEPRIBADIAN

Menurut Bandura, motivasi adalah konstruk kognitif yang mempunyai dua sumber, gambaran hasil pada masa yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini), dan harapan keberhasilan didasarkan pada pengalaman menetapkan dan mencapai tujuan-tujuan antara. Dengan kata lain, harapan mendapat reinforsemen pada masa yang akan datang memotivasi seseorang untuk bertingkah laku tertentu. Juga, dengan menetapkan tujuan atau tingkat performansi yang diinginkan, dan kemudian mengevaluasi performansi dirinya, orang temotivasi untuk bertindak pada tingkat tertentu. Anak yang lemah dalam matematik, tampak meningkat performansinya ketika mereka menetapkan dan berusaha mencapai serangkaian tujuan yang berurutan yang memungkinkan evaluasi diri segera daripada menetapkan tujuan yang jauh dan membutuhkan waktu lama mencapainya. Jadi, terus menerus mengamati,memikirkan, dan menilai tingkah laku diri, akan member intensif-diri sehingga bertahan dalam berusaha mencapai standar yang telah ditentukan.

Bandura setuju bahwa penguatan menjadi penyebab belajar. Namun orang juga dapat belajar dengan penguat yang diwakilkan (vicarious reinforcement), penguat yang ditunda(expectation reinforcement), atau bahkan tanpa penguat (beyond reinforcement):

  1. Penguatan Vikarius (vicarious reinforcement): mengamati orang lain yang mendapat penguatan, membuat orang ikut puas dan berusaha belajar gigih agar menjadi seperti orang itu.
  2. Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement): orang terus menerus berbuat tanpa mendapat penguatan, karena yakin akan mendapat penguatan yang sangat memuaskan pada masa yang akan datang.
  3. Tanpa penguatan (beyond reinforcement): belajar tanpa ada reinforsemen sama sekali, mirip dengan konsep otonomi fungsional dari Allport.

Ekspektasi penguatan dapat dikembangkan dengan mengenali dampak dari tingkah laku;pengamatan terhadap praktek mengganjar dan menghukum tingkah laku orang lain yang ada di lingkungan sosial, dan mengganjar dan menghukum tingkah laku orang lain yang ada dilingkungan sosial, dan mengganjar dan menghukum tingkah lakunya sendiri. Orang mengembangkan standar pribadi berdasarkan standar sosial melalui interaksinya dengan orang tua, guru, dan teman sebayanya. Orang dapat mengganjar dan menghukum tingkah laku sendiri dengan menerima diri atau mengkritik diri. Penerimaan dan kritik diri ini sangat besar perannya dalam membimbing tingkah laku, sehingga tingkah laku orang menjadi tetap (konsisten), tidak terus menerus berubah akibat adanya perubahan sosial.

Dalam penelitian ditemukan, anak-anak yang diganjar dan dipuji untuk pencapaian yang relatif rendah akan tumbuh dan mengembangkan self-reward yang murah dibanding anak yang standar pencapaiannya tinggi. Begitu pula anak yang mengamati model yang diganjar pada standar pencapaian yang rendah akan menjadi orang dewasa yang murah dalam mengganjar diri sendiri dibanding anak yang mengamati model dengan standar ganjaran tinggi.

2.4 PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Belajar Melalui Observasi

Menurut Bandura, kebanyakan belajar terjadi tanpa reinforsemen yang nyata. Dalam penelitiannya, ternyata orang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain, bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu, dan model yang diamatinya juga tidak mendapat reinforsemen dari tingkah lakunya. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung. Melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang tidak terhingga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan hubungan atau penguatan.

Peniruan (Modelling)

Inti dari belajar melalui observasi adalah modeling. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modeling, karena modeling bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan orang model (orang lain), tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tinkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif.

Penelitian terhadap tiga kelompok anak taman kanak-kanak: Kelompok pertama disuruh mengobservasi model orang dewasa yang bertingkah laku agresif, fisik dan verbal, terhadap boneka karet. Kelompok kedua diminta mengobservasi model orang dewasa yang duduk tenang tanpa menaruh perhatian terhadap boneka karet didekatnya. Kelompok ketiga menjadi kelompok control yang tidak ditugasi mengamati dua jenis model itu. Ketiga kelompok anak itu kemudian dibuat mengalami frustasi ringan, dan setiap anak sendirian ditempatkan di kamar yang ada boneka karet seperti yang dipakai penelitian. Ternyata tingkah laku setiap kelompok cenderung mirip dengan tingkah laku model yang diamatinya. Kelompok pertama bertingkah laku lebih agresif terhadap boneka dibanding kelompok lain. Kelompok kedua sedikit lebih agresif dibanding kelompok kontrol.

Contoh lain, berdasarkan social learnig theory menyatakan bahwa tingkah laku manusia bukan semata – mata bersifat refleks atau otomatis, melainkan juga merupakan akibat dari reaksi yang tombul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif. Menurut bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan (imitation) maupun penyajian contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak untuk menirukan perilaku membaca. Anggota keluarga yang sering dilihat oleh anak membaca atau memegang buku di rumah akan merangsang anak untuk mencoba mengenal buku.( Setianti, Fetiara dan Alfi Purnamasari, Efefektifitas Mendengarkan Pembacaan Cerita  Untuk Meningkatkan Minat Baca Anak Sekolah Dasar. Jurnal Humanistik Fakultas Psikologi Ahmad Dahlan, Vol 5, No.1 Januari 2008)

Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori belajar social dari Albert Bandura. Pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang dirancang untuk mengajarkan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang diajarkan setahap demi setahap. Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modeling, yaitu suatu fase di mana Dosen memodelkan atau mencontohkan melalui demonstrasi bagaimana suatu keterampilan itu dilakukan.
Pada saat Dosen melakukan modeling Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap keterampilan yang dimodelkan itu. Selanjutnya Mahasiswa diberi kesempatan untuk meniru model yang dilakukan oleh Dosen melalui kesempatan latihan di bawah bimbingan Dosen.

Modeling Tingkahlaku Baru

Melalui modeling orang dapat memperoleh tingkah laku baru. Ini dimungkinkan karena adanya kemampuan kognitif. Stimuli berbentuk tingkah laku model ditransformasi menjadi gambaran mental, dan yang lebih penting lagi ditransformasi menjadi symbol verbal yang dapat diingat kembali suatu saat nanti. Ketrampilan kognitif yang bersifat simbolik ini, membuat orang dapat mentransform apa yang dipelajarinya atau menggabung-gabung apa yang diamatinya dalam berbagai situasi menjadi pola tingkah laku baru.

Modeling Mengubah Tingkahlaku Lama

Di samping dampak mempelajari tingkah laku baru, modeling mempunyai dua macam dmpak terhadap tingkah laku lama. Pertama, tingkah laku model yang diterima secara sosial dapat memperkuat respon yang sudah dimiliki pengamat. Kedua, tingkah laku model yang tidak diterima secara sosial dapat memperkuat atau memperlemah pengamat untuk melakukan tingkah laku yang tidak diterima secara sosial, tergantung apakah tingkah laku model itu diganjar atau dihukum. Kalau tingkah laku yang tidak dikehendaki itu justru diganjar, pengamat cenderung meniru tingkah laku itu, sebaliknya kalau tingkah laku yang tidak dikehendaki itu dihukum, respon pengamat menjadi semakin lemah.

Modeling Simbolik

Dewasa ini sebagian besar modeling tingkah laku berbentuk simbolik. Film dan televisi menyajikan contoh tingkah laku yang tak terhitung yang mungkin mempengaruhi pengamatnya. Sajian itu berpotensi sebagai sumber model tingkah laku.

Modeling Kondisioning

Modeling dapat digabung dengan kondisioning klasik menjadi kondisioning klasik vikarius (vicarious classical conditioning). Modeling pon emosional. Pengamat mengobservasi model tingkah laku emosional yang mendapat penguatan. Muncul respon emosional yang sama di dalam diri pengamat, dan respon itu ditujukan ke obyek yang ada didekatnya (kondisioning klasik) saat dia mengamati model itu, atau yang dianggap mempunyai hubungan dengan obyek yang menjadi sasaran emosional model yang diamati. Emosi seksual yang timbul akibat menonton film cabul dilampiaskan ke obyek yang ada didekatnya saat itu (misalnya: menjadi kasus pelecehan dan perkosaan anak).

Motivasi Belajar dan Teori Perilaku (Bandura)

Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang  dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). Dalam kenyataannya, daripada membahas konsep motivasi belajar, penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura, 1986 dan Wielkeiwicks, 1995).

Mengapa sejumlah siswa tetap bertahan dalam menghadapi kegagalan sedang yang lain menyerah? Mengapa ada sejumlah siswa yang bekerja untuk menyenangkan guru, yang lain berupaya mendapatkan nilai yang baik, dan sementara itu ada yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran yang seharusnya mereka pelajari? Mengapa ada sejumlah siswa mencapai hasil belajar jauh lebih baik dari yang diperkirakan berdasarkan kemampuan mereka dan sementara itu ada sejumlah siswa mencapai hasil belajar jauh lebih jelek jika dilihat potensi kemampuan mereka? Mengkaji penguatan yang telah diterima dan kapan penguatan itu diperoleh dapat memberikan jawaban atas pertanyaan di atas, namun pada umumnya akan lebih mudah meninjaunya dari sudut motivasi untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement)

Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupakan penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. Terhadap manusia, meskipun ia lapar, kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat, karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional.

Penentuan Nilai dari Suatu Insentif

Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi  belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan, karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance, 1992). Pada saat guru mengatakan “Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu,” guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa, “Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat  mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!” Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku, tetapi pada saat yang lain, ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa.

Faktor-faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi

Tentu saja, mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa factor atau prakondisi.   Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar melalui obsevasi dapat terjadi, yakni:

  1. Perhatian (attention process): Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkah laku yang diamati bagi si pengamat.
  2. Representasi (representation process): Tingkah laku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar – benar melakukannya secara fisik.
  3. Peniruan tingkah laku model (behavior production process): sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkah  laku. Mengubah dari gambaran pikiran menjadi tingkah laku menimbulkan kebutuhan evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, hasil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respons dengan tingkah laku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pembelajaran.
  4. Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pembelajaran memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkah laku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkah laku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walaupun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.

Motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya. Ciri-ciri model seperti usia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan, pening dalam menentukan tingkat imitasi. Anak lebih senang meniru model sesusilanya daripada model dewasa. Anak juga cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya, alih-alih model yang standarnya di luar jangkauannya. Anak yang sangat dependen cenderung melimitasi model yang dependennya lebih ringan. Imitasi juga dipengaruhi oleh interaksi antara ciri model dengan observernya. Anak cenderung melimitasi orang tuanya yang hangat dan open (jw), gadis lebih melimitasi ibunya

Dampak Belajar

Setiap kali respons dibuat, akan diikuti dengan berbagai konsekuensi; ada yang konsekuensinya menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, ada yang tidak masuk kekesadaran sehingga dampaknya sangat kecil. Penguatan baik positif maupun negatif nampaknya tidak otomatis sejalan dengan konsekuensi respons. Konsekuensi dari suatu respons mempunyai tiga fungsi:

  1. Pemberi informasi: memberi informasi mengenai dampak dari tingkah laku informasi ini dapat disimpan untuk dipakai membimbing tingkah laku pada masa yang akan datang.
  2. Memotivasi tingkah laku yang akan datang: Menyajikan data sehingga orang dapat membayangkan secara simbolik hasil tingkah laku yang akan dilakukannya, dan bertingkah laku sesuai dengan peramalan-peramalan yang dilakukannya. Dengan kata lain, tingkah laku ditentukan atau dimotivasi oleh masa yang akan datang, di mana pemahaman mengenai apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang itu diperoleh dari pemahaman mengenai konsekuensi suatu tingkah laku.
  3. Penguat tingkah laku: Keberhasilan akan menjadi penguat sehingga tingkah laku menjadi diulangi, sebaliknya kegagalan akan membuat tingkah laku cenderung tidak diulang.

2.5 PSIKOPATOLOGI

Bandura sependapat dengan Eysenck dan Wolpe bahwa terapi tingkah laku dapat efektif mengurangi reaksi kecemasan. Dia tidak percaya bahwa tekanan emosional menjadi elemen kunci penyebab reaksi takut yang berlebihan, sehingga harus dihilangkan agar tingkah laku dapat berubah. Menurutnya, masalah pokoknya adalah orang percaya bahwa dirinya tidak dapat menangani situasi tertentu secara efektif. Karena itu perlu dikembangkan self-efficacy, agar terjadi perubahan tingkah laku. Konsep determinis resiprokal menganggap tingkah laku dipelajari sebagai akibat dari interaksi antara pribadi tingkah laku lingkungan, termasuk tingkah laku yang menyimpan. Tingkah laku patologis itu dipengaruhi oleh faktor kognitif, proses neurofisiologis, pengalaman masa lalu yang mendapat penguatan, dan nilai fasilitatif dan lingkungan.

  1. Reaksi Depresi: Standar pribadi dan penerapan tujuan yang terlalu tinggi, membuat orang rentan mengalami kegagalan, dan akan berakibat orang mengalami depresi. Sesudah dalam keadaan depresi, orang cenderung menilai rendah prestasi dirinya, sehingga “keberhasilan” tetap dipandang sebagai kegagalan. Akibatnya, terjadi kesengsaraan yang kronis, merasa tidak berharga, tidak mempunyai tujuan, dan depresi yang mendalam.

Penderita depresi melakukan regulasi diri pengamatan diri, proses sendiri, penderita depresi menilai salah performasinya, atau mengaburkan ingatan prestasinya yang telah lalu. Mereka meremehkan (underestimate) keberhasilannya sendiri, sebaliknya melebih-lebihkan (overestimate) kegagalan yang dilakukannya. Dalam proses penilaian, penderita depresi memasang standar yang sangat tinggi sehingga apapun pencapaian yang diperoleh dinilai sebagai kegagalan, bahkan ketika orang lain memandang dia sangat berhasil, dia tetap menghina prestasinya sendiri. Penderita menempatkan standar dan tujuan terlalu tinggi di atas kesadaran efikasi dirinya. Ketika melakukan reaksi diri, penderita depresi mengadili dirinya secara kasar, buruk, lebih-lebih terhadap kekurangan dirinya. Mereka menghukum diri sendiri secara berlebihan terhadap performasi diri yang kurang baik.

  1. Fobia: Perasaan takut yang sangat kuat dan mendalam, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-hari seseorang. Begitu mendalamnya perasaan takut itu, sehingga objek penyebabnya menjadi kabur, objek itu digeneralisasikan secara salah. Bandura mengemukan bahwa media, seperti televisi dan surat kabar tanpa sengaja menciptakan fobia. Cerita seram perkosaan, kekejaman perampok, pembunuhan berantai, meneror masyarakat sehingga mereka (yang sebagian besar tidak pernah mengalami hal itu) tetap merasa tidak aman walaupun pintu-pintu rumah telah terkunci rapat-rapat. Fobia yang dipelajari dari pengamatan lingkungan, menjadi eksis akibat efikasi diri yang rendah, orang merasa tidak mampu menangani suatu masalah yang mengancam sehingga muncul perasaan takut yang kronis.
  2. Agresi: Menurut Bandura, agresi diperoleh melalui pengamatan, pengalaman langsung dengan renforsemen positif dan negatif, latihan atau perintah, dan keyakinan yang ganjil (bandingkan dengan Freud dan kawan-kawannya yang menganggap agresi adalah dorongan bawaan). Agresi yang ekstrem menjadi disfungsi atau selahsuai psikologis. Dari penelitian yang dilakukan Bandura, observasi terhadap perilaku agresi akan menghasilkan respons peniruan yang berlebih. Pengamat akan bertingkah laku lebih agresif dibanding modelnya.

2.6 PSIKOTERAPI

Sama halnya dengan respons emosi yang dapat diperoleh secara langsung atau secara vicarious, menghilangkan tingkah laku (yang tidak dikehendaki) dapat dilakukan secara langsung atau secara vicarious pula. Penakut dapat mengubah rasa takutnya dengan melihat model yang tanpa rasa takut berinteraksi dengan hal yang ditakutkan itu.

Secara umum, terapi yang dilakukan Bandura adalah terapi kognitif sosial. Tujuannya untuk memperbaiki regulasi self, melalui pengubahan tingkah laku dan mempertahankan perubahan tingkah laku yang terjadi. Ada tiga tingkatan keefektifan suatu tritmen yakni; tingkah induksi perubahan, generalisasi, dan pemeliharaan.

  1. Tingkat induksi perubahan: tritmen dikatakan efektif kalau dapat mengubah tingkah laku. Misalnya terapi menghilangkan takut ketinggian penderi akrofobia, sehingga dia berani naik tangga yang tinggi.
  2. Tingkat Generalisasi: tritmen yang lebih tinggi, memungkinkan terjadinya generalisasi. Penderita akrofobia itu bukan hanya berani naik tangga, dia juga berani naik lift, naik kapal terbang, dan membersihkan kaca gedung bertingkat.
  3. Tingkat Pemeliharaan: Sering terjadi tingkah laku positif hasil terapi berubah kembali menjadi tingkah laku negatif (khususnya pada tingkah laku habit negatif, merokok, alkoholik, narkotik). Terapi mencapai tingkat efektif yang tertinggi kalau hasil induksi dan generaslisai dapat terpelihara, tidak berubah menjadi negatif.

Bandura mengusulkan tiga macam pendekatan tritmen, yakni; latihan penguasaan (desensitisasi modeling), modeling terbuka, dan modeling simbolik.

  1. Latihan penguasaan (desensitisasi modeling); mengajari klien untuk menguasai tingkah laku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnya karena takuti). Tritmen konseling dimulai dengan membantu klien mencapai relaksasi yang mendalam. Kemudian konselor meminta klien membayangkan hal yang menakutkannya secara bertahap. Misalnya, ular, dibayangkan melihat ular mainan di etalase toko. Kalau klien dapat membayangkan kejadian itu tanpa rasa takut, mereka diminta membayangkan bermain-main dengan ular mainan, kemudian melihat ular dikandang kebun binatang, kemudian menyentuh ular, sampai akhirnya menggendong ular. Ini adalah model desensitisasi sistematik yang pada paradigma behaviourisme desensitisasi sistematik dalam pikiran (karena itu teknik ini terkadang disebut: modeling kognitif) tanpa memakai penguatan yang nyata.
  2. Modeling terbuka (modeling partisipan); Klien melihat model nyata, biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh modelnya meniru tingkah laku yang dikehendaki, sampai akhirnya mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.
  3. Modeling simbolik; Klien melihat model dalam film, atau gambar/cerita. Kepuasan vikarious (melihat model mendapat penguatan) mendorong klien untuk mencoba/meniru tingkah laku modelnya.

Ketika hasilnya dibandingkan, desensitisasi modeling dan modeling simbolik relatif sama kekuatannya untuk menghilangkan rasa takut. Namun yang paling berhasil menghilangkan rasa takut adalah modeling partisipan.

2.7 METODOLOGI

Bandura banyak meneliti masalah dunia nyata dalam laboratorium, seperti masalah agresi, fobia, penyembuhan dari serangan jantung, perolehan kemampuan matematik pada anak. Tujuan pokoknya adalah untuk menyatukan kerangka konseptual yang dapat mencakup berbagai hal yang mempengaruhi perubahan tingkah laku. Dalam setiap kegiatan, keterampilan dan keyakinan diri yang menjamin pemakaian kemampuan secara optimal dibutuhkan agar diri dapat berfungsi sukses.

Bandura mengembangkan microanalytic approach: riset yang mementingkan asesmen yang ditil sepanjang waktu untuk mencapai keselarasan antara persepsi diri dengan tingkah laku pada setiap tahap performasi tugas. Teknik ini cocok untuk strategi penelitian yang melacak perubahan setiap saat, penelitian yang menganalisis proses, bukan hasil.

2.8 PENERAPAN TEORI BANDURA

Studi tentang Pendidikan moral

Pendidikan moral sendiri begitu penting dalam kehidupan manusia dan pada saat ini telah terjadi dekadensi moral (penurunan nilai-nilai moral) yang sangat parah dalam kehidupan sehari-hari.

Proses perkembangan sosial dan moral siswa menurut Albert Bandura selalu berkaitan dengan proses belajar sebab proses belajar tersebut sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, tradisi, hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan sehingga perkembangan sosial anak selalu dihubungkan dengan perkembangan perilaku moral yaitu perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Terorisme dan Persepsi Lama Barat

Pada dasarnya perilaku seseorang bersandar pada ukuran-ukuran moral yang dia yakini (Albert Bandura, 2003). Menurut Bandura, seseorang tidak merasa nyaman jika perbuatan yang dilakukannya menyalahi atau melanggar nilai-nilai kebaikan yang diyakininya. Perasaan tidak nyaman tersebut mencegah seseorang dari perbuatan yang diyakininya tidak baik. Lalu bagaimana kaitannya dengan pelaku teror?

Bandura menyebutkan bahwa perbuatan baik maupun jahat itu dapat diinterpretasi secara luwes. Perbuatan membunuh bagi seorang aktivis HAM adalah kejahatan besar, namun tidak demikian halnya bagi seorang prajurit yang sedang berada dalam medan peperangan. Contoh nyata digambarkan oleh Bandura pada kasus sersan York, salah seorang pejuang fenomenal dalam sejarah perang modern (Albert Bandura, 2003). Lantaran keyakinan agamanya yang kuat, sersan York tercatat sebagai penolak wajib militer, tetapi segala pembelaan dirinya ditolak. Di tansi tentara, komandan Batalionnya mengutip surat dan ayat dari Injil untuk meyakinkan dia bahwa dalam keadaan-keadaan yang tepat agama Kristen memerintahkan untuk membunuh orang lain. Setelah itu akhirnya sersan York menjadi seorang prajurit yang bersemangat untuk membunuh.

Penjelasan Bandura itu menerangkan bahwa pelaku teror memiliki landasan moral. Teror dinilai sebagai sebuah perbuatan baik bahkan mulia. Namun, jauh sebelum memasuki pandangan itu, pelaku teror mengalami pergulatan nilai. Proses transformasi tersebut tidak sederhana. Teror bom bunuh diri di Palestina dan Irak misalnya, adalah potret tentang pergulatan nilai yang sangat rumit. Mereka memilih bom bunuh diri setelah mengalami pergulatan panjang dengan kekerasan dan ketidakadilan. Jadi, perubahan interpretasi tentang aksi teror melibatkan pengalaman dan perspektif. Di sinilah terorisme menemukan kekuatan militansinya.

Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Albert Bandura (1969) menjelaskan sistem pengendalian perilaku Belajar adalah perubahan perilaku sebagai fungsi pengalaman. Didalamnya tercakup perubahan-perubahan afektif, motorik dan kognitif yang tidak dihasilkan oleh sebab-sebab lain.

Albert Bandura (1969) menjelaskan sistem pengendalian perilaku. Stimulus control. Perilaku yang muncul di bawah pengendalian stimulus eksternal, seperti bersin, bernafas dan mengedipkan mata. Outcome control. Perilaku yang dilakukan untuk mencapai hasilnya, berorientasi pada hasil yang akan dicapai. Symbolic control. Perilaku yang diarahkan oleh kata-kata yang dirumuskan, atau diarahkan oleh antisipasi yang diimajinasikan dari hasil yang akan dicapai.

Beberapa ide umum tentang pengalaman belajar:

  1. Keterlibatan dalam pengalaman belajar mempunyai pengaruh penting terhadap pembelajaran.
  2. Suasana yang bebas dan penuh kepercayaan akan menunjang kehendak peserta didik untuk mau melaksanakan tugas sekalipun mengandung risiko.
  3. Strategi yang mendalam dapat dipergunakan namun pengaruh penting terhadap beberapa aspek, seperti; usia, kematangan, kepercayaan dan penghargaan terhadap orang lain.
  4. Pada umumnya pembelajaran berpengaruh kepada hal-hal khusus seperti menghargai orang lain dan bersikap hati-hati kepada yang baru dikenal.
  5. Terdapat banyak pengaruh yang dapat dipelajari melalui model (orang tua dan guru) sedang peserta didik berusaha menirunya.

Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah dalam situasi-situasi antara pribadi. Kepada guru diharapkan untuk menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara yang tertentu untuk mempelajari informasi baru agar tercapai semaksimum mungkin. Pengalaman belajar seseorang sangat erat kaitannya dengan gaya belajar, cara belajarnya, yang dipengaruhi oleh berbagai variabel, yaitu faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis dan lingkungan.

Pada awal pengalaman belajar, langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas kita masing-masing yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah modalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat, apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar, apakah kinestetik, yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan.

Dalam mengajar, guru hendaknya mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai metode mengajar agar setiap anak dapat menyerap dan memahaminya untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan. Hal ini hanya dapat dicapai bila guru mengetahui karakteristik murid-muridnya yang visual, yang auditorial maupun yang kinestik.

Konsepsi pengajaran tradisional yang mementingkan perkembangan intelektual kemudian berubah. Sekolah yang modern lebih memperhatikan seluruh pribadi anak itu, baik mengenai segi emosi, sosial, jasmani maupun segi intelektualnya. Sekolah berusaha dengan sengaja mengembangkan semua aspek pribadi anak dengan memberikan bahan pelajaran yang sesuai dan dengan cara penyampaian yang bervariasi.

Sebenarnya pribadi anak itu tidak dapat dipecah-pecah beberapa bagian yang terpisah-pisah. Dalam segala tindakannya manusia itu bersikap sebagai suatu keseluruhan yang utuh.

Penyebaran Tv Kekerasan Melalui Modeling

Bandura punya alasan utama bahwa kita dapat belajar mengamati oleh orang lain. Dia menganggap pengalaman yang menjadi cara yang khas manusia berubah. Dia menggunakan istilah pemodelan untuk menjelaskan Campbell dari dua midrange proses akuisisi Tanggapan (pengamatan pihak lain respon dan pemodelan), dan ia mengklaim bahwa pemodelan dapat memiliki banyak dampak langsung sebagai pengalaman.

Teori belajar sosial adalah teori umum dari perilaku manusia, tetapi Bandura dan orang-orang yang berkaitan dengan komunikasi massa telah menggunakannya secara khusus untuk menjelaskan efek media. Bandura peringatan bahwa “anak-anak dan orang dewasa mendapatkan sikap, emosi tanggapan, dan gaya baru yang melakukan melalui televisi modeling dan film.

Penelitian Bandura mengenai boneka Bobo merupakan demonstrasi dari belajar observasional dan ditunjukkan bahwa anak cenderung terlibat dalam perlakuan yang bengis terhadap boneka setelah melihat orang dewasa di televisi melakukan hal tersebut pada boneka yang sama. Bagimanapun, anak mungkin akan melakukan peniruan bila perilaku model mendapat penguatan. Permasalahannya, seperti diteliti oleh Otto Larson (1968), bahwa 56% karakter dalam acara televisi anak mencapai tujuannya melalui tindakan kekerasan.

Gambar perampas, pidana atau menggunakan kekuatan untuk mendapatkan cara sendiri. Sosial belajar teori postulates tiga tahapan penting dalam hubungan antara sebab-musabab televisi dan kekerasan fisik sebenarnya berbahaya lain: perhatian, ingatan, dan motivasi.

Mereduksi Kecemasan Menurut Bandura

Bandura mengatakan bahwa perkiraan individu terhadap kemampuan sendiri dalam mengatasi situasi merupakan salah satu faktor yang berguna dalam mereduksi kecemasan. Bandura menegaskan perkiraan yang positif terhadap kemampuan diri sendiri dalam mengatasi situasi dan perkiraan individu yang positif terhadap kemungkinan terjadinya akibat – akibat tertentu pada situasi yang akan dihadapi akan berpengaruh menurunkan kecemasan. Lebih lanjut Bandura menjelaskan bahwa disfungsi dan penderitaan termasuk kecemasan yang dialami manusia disebabkan karena masalah cara berpikirnya hal ini disebabkan karena dalam berpikirnya sering mengingat pengalaman yang menyakitkan dan masa depan yang tidak pasti, yang diciptakan sendiri sehingga manusia meragukan diri sendiri dan mempunyai ide menyalahkan diri sendiri. (Rahayu, Iin Tri dkk (Fakultas Psikologi UIN Malang). Hubungan Pola Pikir Positif Dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum. Jurnal Psikologi UNDIP, V0l.1, No.2, Desember 2004)

Teori Bandura Dalam Penerapannya Dalam Bidang Computer Anxiety Dan Keahlian User Computing  Dalam Penggunaan  Teknologi Informasi

Teori kognitif sosial oleh Bandura dikembangkan dalam dua set ekspektasi kekuatan kognitif utama yang menjadi guide perilaku. Pada seting pertama,  ekspektasi dihubungkan dengan outcome. Para individu yang dapat lebih memahami aspek perilaku, akan percaya bahwa  outcome yang lebih

bernilai bila dibandingkan dengan individu yang tidak mampu memahami konsekuensi yang menguntungkan.  Kedua, oleh Bandura  (dalam Compeau dan Higgins, 1995) ekspektasi ini disebut sebagai self efficacy yang merupakan kepercayaan individu mengenai kemampuan untuk membentuk suatu perilaku tertentu. Adapun definisi  self efficacy menurut Bandura (1986 dalam Campeau dan Higgins, 1995) adalah “People’s judgmentsof their capabilities to organize and executee courses of acion requird to attain designated types of performances. It is concernednot with the skills  one has but with judgements of what one can do with whatever skills one possesses.” Dari definisi tersebut menunjukan karakteristik kunci dari konstrak  self efficacy yakni komponen  skill/keahlian dan  ability/kemampuan dalam hal mengorganisir dan melaksanakan suatu tindakan.

Dalam konteks komputer, computer self efficacy menggambarkan persepsi individu tentang kemampuannya menggunakan komputer untuk menyelesaikan tugas-tugas seperti menggunakan paket-paket  software untuk analisis data, menulis surat  mail merge  dengan menggunakan  word processor lebih dari pada sekedar keahlian yang sederhana seperti memformat disket atau booting ulang komputer.

Istilah  self efficacy telah merupakan suatu konstrak penting dalam psikologi telah banyak digunakan para peneliti seperti  yang dikutip oleh Compeau dan Higgins (1995) yang dikaitkan dengan variabel-variabel lain seperti untuk mempengaruhi keputusan perihal perilaku yang dilakukan (Bandura, dkk,1977; Betz dan Hackett,1981), tanggapan emosional (termasuk stres dan  anxiety) dalam membentuk perilaku (Bandura, dkk1977; Stumpf,dkk, 1987), serta pencapaian kinerja aktual individu yang dihubungkan dengan perilaku (collins, 1985;Locke, dkk, 1984;Wood dan bandura, 1989).

BAB III

PENUTUP

3.1 Evaluasi

Teori kognitif sosial Bandura mengembangkan hipotesis dan riset yang paling banyak jumlahnya, dibanding teori kepribadian lainnya. Di antara ratusan penelitian yang menguji asumsi-asumsi Bandura, topik yang paling luas diteliti adalah efikasi diri dan modeling kekerasan. Ranah pendidikan dan dunia kerja memanfaatkan efikasi diri untuk meramalkan taraf sukses seseorang pada masa yang akan datang. Penelitian modeling yang paling penting dan banyak dikutip orang adalah menguji dampak kekerasan dan agresi film televisi dan film bioskop. Memang hanya 10 % dari penonton film kekerasan yang terpengaruh oleh film kekerasan, di mana mereka menjadi lebih agresif dibandingkan kalau mereka tidak menonton film itu. Jumlah prosentase itu kalau dikalikan dengan populasi, memberi angka yang sangat besar. Belum tentu yang 10 % itu menjadi “Jahat” namun paling tidak mereka mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengekspresikan agresi yang salahsuai.

Teori kognitif sosial dikelompokkan ke dalam paradigma behavioristik, karena hanya membahas aspek kepribadian yang ada di permukaan, tingkah laku yang tampak. Penekanan pada tingkah laku yang dapat diamati (observable) itu, berakibat Bandura melupakan atau mengabaikan aspek perbedaan manusia, kekuatan motivasi yang disadari dan tidak disadari. Fungsi kognitif sebagai wakil nilai-nilai kemanusiaan, penentu tingkah laku. Teori kognitif sosial mempelajari ekspektasi, kontrol, penguatan diri, kecemasan dan pertahanan, dan variabel yang terlibat dengan belajar melalui pengamatan. Namun semuanya dibiarkan dalam potongan-potongan dan tidak disatukan dalam satu sintesa yang komprehensif. Fungsi kognitif yang menjadi sentral dari variabel pribadi, tidak mendapat elaborasi yang cukup, sehingga cakupan proses kognitif bisa menjadi sangat luas semua atribut pribadi.

3.2 KESIMPULAN

Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking).

Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku. Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal. Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan. Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.

Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
Tingkah laku dihadirkan oleh model. Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model). Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar). Pemrosesan kode-kode simbolik

Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976).

Skema Proses Kognitif Pembelajar

Pembelajar mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku Performance/unjuk kerja

Motivasi pembelajar mengolah tingkah laku

Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting.
Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.

Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.

Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.

2. komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar.
3. hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel).

4. dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan “sense of efficacy” dan self regulatory” pembelajar.
5. dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu.

3.3 SARAN

Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut :

Strategi Proses

1) Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri :

a. Apakah karakter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?

b. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?

c. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2) Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.

a. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)

b. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting?

c. Apakah model harus hidup atau simbol?

Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.

d. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?

3) Pengembangan sekuen instruksional

a. Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan

pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this” dan bukannya “not this”.
Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan
4) Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi.
a. motor skill

1) hadirkan model

2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual

b. proses kognitif

1) Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh

2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif

4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.

Alwisol, Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. 2008.UPT Penerbitan Universitaas Muhammadiyah:Malang

Davindoff. Linda L. 1981. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Hall, Calvis S. & Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta.: Penerbit Kanisius.
Rahayu, Iin Tri dkk (Fakultas Psikologi UIN Malang). Hubungan Pola Pikir Positif Dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum. Jurnal Psikologi UNDIP, V0l.1, No.2, Desember 2004, Hal 131-143

Rakhmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi- Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rustiana, computer anxiety dan keahlian user computing  dalam penggunaan  teknologi informasi. Jurnal  KINERJA, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Volume 9, No. 1, Th. 2005: Hal. 42-53

Setianti, Fetiara dan Alfi Purnamasari, Efefektifitas Mendengarkan Pembacaan Cerita  Untuk Meningkatkan Minat Baca Anak Sekolah Dasar. Jurnal Humanistik Fakultas Psikologi Ahmad Dahlan, Vol 5, No.1 Januari 2008, Hal 15-26

Soetardjo, Alfin Fadila Helmi. Jurnal dan Artikel Beberapa Perspektif Perilaku Agresif

I. PENDEKATAN KUALITATIF dan PENDEKATAN KUANTITATIF

Kuantitatif: positivism, tradisional  model, dengan angka, numeric, penyederhanaan, asumsi, eksperimen, survai. Kualitatif: post positivism, modern, non angka, non numeric, lebih verbal, majemuk, plural, rumit, etnografi, grounded research, case studies, phenomenological studies.

Pengaruh paradigma ilmu terhadap hasil penelitian kualitatif dan kuantitatif:

Kuantitatif: mengukur fakta objektif, fokus pada variabel, kunci : reliabilitas, bebas nilai, bebas dari konteks, banyak kasus, subjek, analisis statistic, peneliti terpisah. Kualitatif:Mengkonstruk realita sosial, makna budaya, fokus pada interaksi proses kejadian, kunci : keautentikan, nilai : ada dan eksplisit, terikat situasi, sedikit kasus, subjek, analisis tema, peneliti terlibat.

Beda Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif:

No Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
1. Kejelasan Unsur :

Tujuan, pendekatan, subjek, sampel,

Sumber data sudah mantap, rinci sejak awal

Subjek sampel, sumber data tidak mantap

Dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan

2. Langkah penelitian :

Segala sesuatu direncanakan sampai

Matang ketika persiapan disusun

Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai

3. Hipotesis:

a.Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;

b.Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan (a priori)

Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung (tentatif)

Hasil penelitian terbuka, dan terus mencari makna

4. Desain :

Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan

Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya;

5. Pengumpulan data :

Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan

Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.

6. Analisis data :

Dilakukan sesudah semua data terkumpul. Berupa: Statistik, tabel, grafik, dan dikaitkan dengan hipotesis.

Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Dengan ekstraksi, tema, generalisasi dari fakta; mengorganisir data utk  gambaran yg koheren dan konsisten

7 Konsep: Dlm bentuk variabel yg berbeda Dlm bentuk tema, motif, generalisasi, taksonomi
8 Ukuran: diciptakan sistematik sebelum data terkumpul Diciptakan sementara (ad hoc), sangat spesifik bg peneliti
9 Data: Angka, dari pengukuran yang teliti Kata/ kalimat dari dokumen, observasi, transkrip
10 Teori: Kausal, deduktif Kausal dan non kausal, induktif
11 Prosedur: Baku, sering eplikasi Khusus, replikasi jarang

Berdasarkan Williams (1988), ada  5 pandangan dasar perbedaan antara pendekatan kuantitatif (istilah Williams dengan kuantitatif positivistik) dan kualitatif. 5 dasar pandangan tersebut, sifat realitas, interaksi peneliti dan obyek penelitiannya, posibilitas generalisasi dan posibilitas kausal dan peranan nilai.

1.  Pandangan sifat realitas, pendekatan kuantitatif melihat realitas sebagai tunggal, konkrit, teramati, dan dapat difragmentasi. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat realitas ganda (majemuk), hasil konstruksi dalam pengertian holistik. Itulah sebabnya peneliti kuantitatif lebih spesifik, percaya langsung pada sang obyek generalis, meragukan dan mencari fenomena selanjutnya pada sang obyek realitas.

2. Pandangan interaksi antara peneliti dengan obyek penelitiannya, pendekatan kuantitatif melihat sebagai independen, dualistik bahkan mekanistik. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat sebagai proses interaktif, tidak terpisahkan bahkan partisipatif. Itulah  sebabnya penelitian kuantitatif agak memisahkan antara si peneliti sebagai subyek pelaku aktif dan obyek penelitian sebagai obyek pelaku pasif dan dapat dibebani aneka model penelitian oleh si peneliti. Sebaliknya dalam pendekatan kualitatif ada substitusi situasi dan mutual experience, bersama-sama di suatu medan (arena) nan tak terpisahkan yang sangat mutual dan tumpang tindih.

3.  Pandangan posibilitas generalis, pendekatan kuantitatif bebas dari ikatan konteks dan waktu  (nomothetic statements), sedang pendekatan kualitatif terikat dari ikatan konteks dan waktu (idiographic statements). Itulah sebabnya peneliti kuantitatif dapat dikenai atau dibebani dengan percobaan tertentu, lalu diukur hasilnya (ada macam-macam jenis eksperimen).  Sebaliknya peneliti kualitatif lebih menerjunkan diri dalam riak gelombang gejolak obyek penelitian dan terbenam di dalamnya. Ini agar dia menjadi mengerti, memahami, dan menghayati (verstehen) pada obyek penelitiannya.

4. Pandangan posibilitas kausal, pendekatan kuantitatif selalu memisahkan antara sebab riil temporal simultan yang mendahuluinya sebelum akhirnya melahirkan akibat-akibatnya. Sebaliknya pendekatan kualitatif selalu mustahilkan usaha memisahkan sebab dengan akibat, apalagi secara simultan. Sebab dan akibat adalah nebula yang Pantha Rhei (mengalir kontinyu terus menerus). Itulah sebabnya pendekatan kuantitatif selalu on line process, satu arah, mulai dari awal sebab, proses, dan akhirnya akibat. Sebaliknya pendekatan kualitatif selalu  on cyclus process,  kontinyu dan banyak arah, suatu  interaksi yang dipetakan dan masing-masing berupa sebab dan akibat sebagai kutub-kutubnya. Proses sebab akibat adalah suatu kelanjutan dari proses sistem model atau paradigma tertentu.

5. Pandangan peranan nilai, pendekatan kuantitatif melihat segala sesuatu bebas nilai, obyektif dan harus seperti  apa adanya. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat segala sesuatu tidak pernah bebas nilai, termasuk si peneliti sendiri yang subyektif. Itulah sebabnya penelitian kuantitatif selalu mendaku bahwa penelitian yang terbaik ialah yang obyektif, jujur, netral, dan  apa adanya, dan yang terpenting kebal terhadap nilai-nilai di sekitar suatu obyek penelitian.  Penelitian kualitatif memustahilkan hal ini.  Hasil pengamatan jenis penelitian, analisa datang dan sekalian hasil penelitian tidak lepas (konstektual) dengan era, geografi, budaya dan aliran-aliran nilai yang berpengaruh di situ.  Peranan nilai hendak dilihat dengan totalitas eksistensialnya.

PENDEKATAN KUANTITATIF

Biasa digunakan pada penelitian dalam ilmu-ilmu sosial, selama ini mengenal dua paradigma dalam mendekati masalah. Paradigma ini membantu peneliti dalam memahami tentang fenomena sosial, bagaimana ilmu pengetahuan dapat terbentuk, dan apa yang mempengaruhi masalah, pemecahannya, serta kriteria dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukan (Creswell, 1994). Paradigma pertama adalah positivisme dan kedua adalah fenomenologis (Taylor & Bogdan, 1984; Dooley, 1984; Orford, 1992). Paradigma pertama, pemahaman tentang permasalahan sosial didasari pada pengujian teori yang disusun dari berbagai variabel, pengukuran yang melibatkan angka-angka, dan dianalisa menggunakan prosedur statistik. Paradigma ini konsisten dengan apa yang disebut pendekatan kuantitatif, dengan tujuan untuk meramalkan generalisasi suatu teori.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam metode kuantitaif: observasi, wawancara, kuesioner, skala sikap.

Substansi Proses Penelitian kuantitatif: perumusan dan penentuan masalah yang akan diteliti, mendesain model penelitian, mendesain instrumen pengumpulan data, pengumpulan data, mengolah dan menganalisis data hasil, desain laporan hasi penelitian

Hal yang perlu diperhatikan pada rancangan penelitian kuantitatif: pemilihan topik dan merumuskan pertanyaan penelitian, melakukan penelusuran dan pembahasan teori, mebuat struktur rancangan penelitian.

Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Kuantitatif: Kelebihan, data akurat, hasil dapat dibuktikan, objektif, hemat waktu, dapat dikaitkan generalisasi. Kelemahan, data dapat di manipulasi, terlalu banyak sampel, peneliti tidak terjun langsung.

PENDEKATAN KUALITITATIF

Pada penelitian kualitatif, peneliti berusaha memahami subyek dari kerangka berpikirnya sendiri (Taylor & Bogdan, 1984, Creswell, 1994).  Dengan demikian, yang penting adalah pengalaman, pendapat, perasaan dan pengetahuan partisipan (Patton, 1990).  Oleh karena itu, semua perspektif menjadi bernilai bagi peneliti.  Peneliti tidak melihat benar atau salah, namun semua data penting.  Pendekatan ini sering disebut juga sebagai pendekatan yang humanistik, karena peneliti tidak kehilangan sisi kemanusiaan dari suatu kehidupan sosial.  Peneliti tidak dibatasi lagi oleh angka-angka, perhitungan statistik, variabel-variabel yang mengurangi nilai keunikan individual (Taylor & Bogdan, 1984). Field research: dimulai dgn tanpa tanpa ada formulasi ide/topik, peneliti memilih lokasi/site, beriteraksi dengan obyek, mencatat secara harian. Historical-comparative research: menguji dengan cara membandingka fakta sejarah. Hampir selalu deskriptif (what).

Asumsi-asumsi dasar pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian, Creswell (1994): 1. Tidak mementingkan angka, atau kuantifikasi fenomena. Diasosiasikan dengan kumpulan dan analisa data yang berupa kata-kata atau observasi langsung terhadap tingkah laku. Jadi fokusnya adalah lebih pada interpretasi daripada kuantifikasi (Cassel & Symon, 1994; Patton, 1994). 2. Tidak memaksakan klasifikasi awal yang kaku pada sekumpulan data (Cassel & Symon, 1994). 3. Responden adalah partisipan yang bukan hanya sekedar obyek dari kecurigaan ilmiah. Responden mengambil sikap yang lebih proaktif dalam proses penelitian (Cassel & Symon, 1994). 4. Sangat menerima subyektifitas, sehingga yang bernilai adalah perspektif partisipan dan interpretasinya terhadap situasi (Cassel & Symon, 1994). 5. Memungkinkan fleksibilitas dalam proses penelitian. Respon terhadap konseptualisasi individu tentang dirinya berhubungan dengan kemungkinan untuk merumuskan hipotesa baru dan mengubah hipotesa lama sejalan dengan kemajuan penelitian. Intervensi peneliti dapat berubah-ubah sejalan dengan perubahan sifat konteks situasi (Cassel & Symon, 1994; Strauss, 1987; Taylor & Bogdan, 1984). 6. Proses penelitian dilihat sebagai proses sosial yang sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang diambil peneliti seiring dengan perkembangan penelitian (Cassel & Symon, 1994). 7. Penelitian kualitatif lebih tertarik pada arti (meaning), yaitu bagaimana partisipan menghayati hidupnya, pengalamannya, dan cara mereka  mengekspresikannya (Creswell. 1994; Patton 1990). 8. Peneliti kualitatif terlibat secara aktif dalam pengumpulan data, yaitu secara fisik menemui partisipan, lingkungannya, serta institusi tempatnya berada, dalam suatu situasi yang alamiah (Creswell,1994; Cassel & Symon, 1994; Patton, 1990). 9. Penelitian kualitatif adalah penelitian deskriptif, dimana peneliti lebih tertarik dengan proses, arti dan pemahaman tentang pengalaman serta penghayatan subyektif partisipan (Creswell, 1994; Patton, 1990).

Dalam Creswell (1994) disebutkan empat jenis penelitian dalam pendekatan kualitatif: 1. Etnografi : dalam penelitian ini yang dipelajari adalah kelompok budaya dalam konteks natural selama periode tertentu, 2. Grounded Theory : yang diupayakan dalam penelitian ini adalah menyimpulkan suatu teori dengan menggunakan tahap-tahap pengumpulan data dan saling menghubungkan antara kategori informasi. Karateristik dari jenis ini adalah pembandingan antar data dari berbagai kategori dan penggunaan sampel yang berbeda dari kelompok populasi untuk memaksimalkan persamaan dan perbedaannya. 3. Studi Kasus : yang digali adalah entitas tunggal atau fenomena (&ldquo;kasus&rdquo;) dari suatu masa tertentu dan aktivitas (bisa berupa program, kejadian, proses, institusi atau kelompok sosial), serta mengumpulkan detil informasi dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama kasus itu terjadi. 4. Studi Fenomenologi : dalam penelitian ini yang diteliti adalah pengalaman manusia melalui deskripsi dari orang yang menjadi partisipan penelitian, sehingga peneliti dapat memahami pengalaman hidup partisipan.

Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Kualitatif: Kelebihan. pendekatan lebih mudah, praktis, tidak butuh alat ukur, terlibat secara interpersonal, hasil komprehensif, holistik, data tidak bisa direkayasa, subjek sediki, kelemahan: membutuhkan waktu yang relatif lama, membutuhkan tenaga yang banyak, datanya belum tentu akurat, sulit di generalisasi, terikat pada satu konteks sosial

Penelitian kualitatif yang lain seperti: biografi yaitu studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip.

II. RAGAM PENELITIAN (Bungin, 2006)

No Penggolongan Ragam
1 Data 1. Kuantitatif, 2. Kualitatif
2 Tujuan 1. Eksplorasi, 2. Pengembangan, 3. Verifikasi
3 Pendekatan 1. Longitudinal, 2. Cross Sectional, 3. Kuantitatif/Kualitatif, 4. Survai, 5. Assessment, 6. Evaluasi, 7. Action Research
4 Tempat 1. Library, 2. Laboratorium, 3. Field  (kancah)
5 Bidang Ilmu 1. Kelautan, 2. Perkotaan, 3. Arsitektur, 4. Pengembangan Wilayah, dsb
6 Taraf 1. Deskriptif, 2. Eksplanatif
7 Saat

terjadinya variabel

1. Historis, 2. Ekspos Facto, 3. Eksperimen
8 Aplikasi 1. Ilmu murni, 2. Ilmu Terapan (applied sc)

Ragam penelitian yaitu:

1. Menurut Manfaat di Bidang ilmu, hasil / alasan yang diperoleh

Dapat dibedakan, ilmu dasar dan ilmu terapan. Termasuk kelompok  ilmu/murni (basic research): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan fundamental; mendukung atau menolak teori ilmu pengetahuan baru. Ilmu yang dikembangkan di fakultas-fakultas MIPA (Mathematika, Fisika, Kimia, Geofosika), Biologi, dan Geografi. Ilmu-ilmu dasar dikembangkan lewat penelitian yang biasa. Kelompok ilmu terapan penelitian terapan (applied research): mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien, menghasilkan ilmu-ilmu terapan: memecahkan persoalan khusus dan nyata di masyarakat, sering deskriptif, kekuatannya pada pemakaian praktis, kurang publikasi, lebih pada pengambilan keputusan, implikasi segera, sering kontroversial, menimbulkan konflik, misinterpretasi, misal ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu teknologi pertanian. Penelitian terapan (misalnya di bidang fisika bangunan) dilakukan dengan memanfaatkan ilmu dasar (misal: fisika). .

2. Menurut Pembentukan Ilmu

Ilmu dapat dibentuk lewat penelitian induktif atau penelitian deduktif. Diterangkan secara sederhana, penelitian induktif adalah penelitian yang menghasilkan teori atau hipotesis, sedangkan penelitian deduktif merupakan penelitian yang menguji (mengetes) teori atau hipotesis (Buckley dkk., 1976: 21).

3. Menurut Bentuk data (kuantitatif atau kualitatif)

Berupa data kuantitatif atau data kualitatif. Data kuantitatif diartikan sebagai data yang berupa angka yang dapat diolah dengan matematika atau statistik, sedangkan data kualitatif adalah sebaliknya (yaitu: datanya bukan berupa angka yang dapat diolah dengan matematika atau statistik).

4. Menurut Paradigma Keilmuan

Menurut Muhajir (1990), terdapat tiga macam paradigma keilmuan yang berkaitan dengan penelitian, yaitu: (1) positivisme, (2) rasionalisme, dan (3) fenomenologi.

5. Menurut Strategi (Opini, Empiris, Arsip, Logika internal)

a. Penelitian Opini

Bila peneliti mencari pandangan atau persepsi orang-orang terhadap suatu permasalahan, maka ia melakukan penelitian opini. Orang-orang tersebut dapat merupakan kelompok atau perorangan (jadi domain-nya dapat berupa kelompok atau individual).

b. Penelitian Empiris

c. Penelitian Kearsipan

“Arsip”, dalam hal ini, diartikan sebagai rekaman fakta yang disimpan. Kita bedakan tiga tipe arsip, yaitu: (1) primer, (2) sekunder, dan (3) fisik.

d. Penelitian Analitis

Terdapat problema penelitian yang tidak dapat dipecahkan dengan penelitian opini, empiris atau kearsipan. Penelitian analitis mendasarkan diri pada filsafat atau logika.

6. Menurut Arikunto (1998: 9-10))

a. Ditinjau dari tujuan: eksploratif, development research, verifikatif

b. Berdasar cara pendekatan (dimensi) waktu: longitudinal, cross sectional

a. Penelitian dengan pendekatan longitudinal (satu obyek penelitian dilihat bergerak sejalan dengan waktu), terbagi 3:

1.  penelitian kecenderungan :penelitian terhadap gejala yang sama pada waktu yang berbeda tetapi responden dan informan berbeda

2. penelitia panel : penelitian terhadap gejala yang sama pada waktu yang berbeda tetapi responden dan informan sama

3. penelitian kohort : penelitian terhadap gejala yang sama pada waktu yang berbeda tetapi responden dan informan memiliki karakteristik sama

b. Penelitian dengan pendekatan penampang-silang (cross-sectional—yaitu banyak obyek penelitian dilihat pada satu waktu yang sama).

c. Berdasar bidang ilmu: pendidikan, sains, multidisiplin, teknik, dsb

  1. Berdasarkan tempat: laboratorium, perpustakaan, lapangan (Gunarya (1985:72))
  2. Bedasarkan eksperiman: eksperimental dan non eksperimental
  3. Berdasar strategi: eksploratori, evaluasi, frekuensi
  4. Berdasar daerah penelitian: historis,studi kasus, survai
  5. Berdasarkan waktu: cross sectional, panel studi, longitudinal
  6. Berdasarkan data: primer, sekunder
  7. Cara analisis: kualitatif dan kuantitatif

7. Menurut Suryabrata (1983: 15-64)

1. Historis (membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif), 2. Deskriptif (membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu), 3. Perkembangan (menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu), 4. Kasus/Lapangan (mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu obyek), 5. Korelasional (mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasar koefisien korelasi), 6. Eksperimental sungguhan (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali), 7. Eksperimental semu (mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian), 8. Kausal-komparatif (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen—dilakukan denganpengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding), 9. Tindakan (mengembangkan ketrampilan baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya).

8. Menurut Bentuk Permasalahan

.

9. Menurut Isi secara garis besar atau Secara Tujuan (Singarimbun, 1997:3)

a. Eksploratif:  Menjawab what questions, menggunakan kualitatif data, lebih terbuka untuk mengungkapkan fakta dan isu. Tujuan riset eksploratif: Familier dengan fakta dasar, komunitas, concerned involved, mengembangkan a well-grounded mental picture, mengembangkan ide dan teori tentative, menentukan kelayakan riset lanjutan, merumuskan pertanyaan penelitian dan isu, mengembangkan teknik dan sense of direction for future reserach

b. Explanatory-confirmatory: Why questions, dibangun di atas exploratory & descriptive research, menjelaskan lebih jauh alasan sesuatu terjadi. Tujuan explanatory-confirmatory: menentukan akurasi suatu prinsip teori, mencari penjelasan yang lebih baik, melanjutkan ilmu pengetahuan  tentang underlying process, menghubungkan isu-isu berbeda dalam pernyataan umum, membangun & mengelaborasi teori shg menjadi lengkap, mengembangkan teori baru /prinsip ke issu baru, memberikan kenyataan utk mendukung penjelasan

c. Deskriptif: menguraikan secara detail situasi, setting sosial, hubungan, berfokus pada how and who questions, menggunakan semua teknik pengumpulan data. Tujuan: membuat profil akurat, menguraikan proses, mekanisme, hubungan, memberikan gambaran verbal / numerik, mencari informasi utk mendorong penjelasan baru , menyajikan info, ltr belakang dasar, atau konteks, menciptakan ketegori, rangkaian langkah, tipe, menjelaskan urutan, rangkaian langkah, steps, dokumen yg menjelaskan kontradiksi dgn prior belief.

10. Menurut Metode (Singarimbun, 1997:5-7)

1. eksperimen; 2. evaluasi (action research, terapan) grounded research analisis data sekunder

11. Menurut proses menjadi teori (Fawcett & Downs 1992:11)

1. deskriptif riset, 2. eksplanatori riset,  3. prediktif riset.

12. Menurut Pengumpulan Data dan Teknik yang Digunakan

1. Experiment Research (Penelitian Percobaan) : dilakukan perubahan (ada

perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti yaitu dari data primer, 2. Survey Research (penelitian Survey): Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti (data primer), mengumpulkan data langsung dan Menanyakan pada masyarakat dan menggunakan kuisener, 3. Content analysis: teknik menguji informasi, content terhadap bahan yang tertulis (sekunder), 4. Existing statistics: menggunakan hasil statistik (data sekunder), 5. Lapangan, 6. Analisis wacana, 7. Perbandingan sejarah.

14.  Menurut Bidang yang diteliti

1. Penelitian Sosial: Secara khusus meneliti bidang sosial : ekonomi, pendidikan, hukum dsb; 2.   Penelitian Eksakta<:Secara khusus meneliti bidang eksakta : Kimia, Fisika, Teknik; dsb;

15.  Menurut Tempat Penelitian

1. Field Research (Penelitian Lapangan / Kancah): langsung di lapangan; 2. Library Research (Penelitian Kepustakaan) : Dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya; 3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium) : dilaksanakan pada tempat tertentu / lab , biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;

16. Menurut Keilmiahan

1. Penelitian Ilmiah: Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah / meyakinkan. 2.      Penelitian non ilmiah :  Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.

17.  Menurut Spesialisasi Bidang (ilmu) garapan

Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll;

18.  Menurut hadirnya variabel (ubahan)

Variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yangd itatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yangd ilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan / menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.

III. PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :

Garis besar :

a. Pembuatan rancangan; b. Pelaksanaan penelitian; c.Pembuatan laporan penelitian

Bagan arus kegiatan penelitian

  1. Identifikasi masalah (bacaan, seminar, pernyataan pemegang otoritas, pengamatan sepintas, pengalaman pribadi, perasaan intuitif), Pemilihan (dipertimbangkan dari arah masalahnya dan juga dari arah si peneliti) dan Perumusan Masalah (hendaknya dirummuskan dalam bentuk kalimat tanya, padat dan jelas, memberi petunjuk tentang pengumpulan datanya; penguraian latar belakang masalah.
  2. Studi Pendahuluan, Penelaahan Kepustakaan; studi eksploratoris, mencari informasi;
  3. Menyusun Landasan Teori dan Perumusan Hipotesis; sebagai tempat berpijak.
  4. Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian : sangat emenentukan variabel apa, objeknmya apa, subjeknya apa, sumber datanya di mana;
  5. Identifikasi, Klasifikasi (variabel nominal, ordinal, interval dan ratio)dan Pemberian Definisi – definisi variabel dan Menentukan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh dari mana?
  6. Pemilihan atau Pengembangan Alat Pengambil Data, untuk alat buatan sendiri, harus melakukan uju coba terlebih dahulu.
  7. Menentukan dan menyusun Rancangan Penelitian; apa jenis data, dari mana diperoleh? Observasi, interview, kuesioner?
  8. Penentuan Sampel, kesimpulan penelitian mengenai sample, akan digeneralisasikan dengan populasi.
  9. Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
  10. Analisis data dan Mengolah data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya, melakukan tabulasi
  11. Interpretasi Hasil Analisis dan Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
  12. Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan / menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat siswa belajar. Bukan sebagai tokoh sentral dengan menghabiskan 80% waktunya digunakan untuk transfer ilmu secara konvensional yang masih mewarnai  LPT di Indonesia.

Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Banyak inovasi pendidikan yang dikembangkan, SPICES diantaranya, Student-centered Learning, Problem Based, Integrated Curriculum, Community Oriented, Elective Program dan Systematic. SPICES merupakan elemen yang sangat penting dan pelaksanaannya memerlukan kontribusi yang arif dari semua pihak yang terkait di dalam proses pendidikan.

Usaha yang biasa ditempuh, dengan mengubah paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Siswa memperoleh kesempatan membangun sendiri pengetahuannya sehingga akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning) dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu siswa.

Penerapan SLC (Student Center Learning) dapat dimulai dengan penetapan atau pengubahan tujuan pembelajaran, siswa mengintergrasikan hal yang baru di dapat, dengan pengetahuan yang telah dimiliki, dapat terjadi pada diri individu siswa maupun sebagai makhluk sosial, pengalaman sendiri maupun pengalaman dari orang lain dan melakukan interaksi sosial yang kolaboratif dalam proses pembelajaran.

Transformasi peranan guru sebagai fasilitator, bukan sebagai sumber pengetahuan yang dijadikan pusat kegiatan pembelajaran dari suatu mata pelajaran, Guru menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru sebagai indikator, konsultan (penasihat), encourage (pendorong semangat), observer dan evaluator (penilai dan peninjau aktivitas siswa).

Hal yang perlu diperhatikan guru dalam kontribusinya dalam SLC, dalam pengartian sumber belajar, diantaranya, bagaimana sumber belajar dimanfaatkan oleh siswa maupun mahasiswa sebagai teknologi dan mesin, tutor, pengubah perilaku, pemotivasi belajar, sebagai alat berpikir dan memecahkan masalah.

Guru juga harus memahami prinsip psikologis dalam pembelajaran berpusat pada siswa, agar memahami prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ada 5 faktor yang penting, diantaranya. (a) Faktor Metakognitif dan kognitif yang menggambarkan bagaimana siswa berpikir dan mengingat serta penggambaran faktor yang terlibat dalam proses pembentukan makna informasi dan pengalaman.  (b) Faktor Afektif yang menggambarkan keyakinan, emosi dan motivasi mempengaruhi cara siswa menerima situasi pembelajaran, seberapa banyak siswa belajar, dan usaha yang dilakukan untuk mengikuti pembelajaran. Kondisi emosi, keyakinan tentang kompetensi pribadi, harapan terhadap kesuksesan, minat pribadi dan tujuan belajar, semua itu mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar.  (c) Faktor Perkembangan yang menggambarkan bahwa kondisi fisik, intelektual, emosioanal dan sosial dipengaruhi oleh genetik yang unik dan faktor lingkungan.  (d) Faktor Pribadi dan sosial yang menggambarkan bagaimana orang lain berperan dalam proses pembelajaran dan cara orang belajar dalam kelompok. Prinsip ini mencerminkan bagaiman aseseorang saling belajar dan dapat saling mendorong dan saling berbagi perspektif individual. (e) Faktor Perbedaan Individual yang menggambarkan bagaimana latar belakang individu yang unik dan kapasitas masing – masing berpengaruh dalam pembelajaran. Prinsip ini membantu menjelaskan megapa individu mempelajari sesuatu yang berbeda, dan dengan cara yang berbeda pula.

Guru yang sudah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung menciptakan suasana kelas yang hangat, mendukung, sehingga siswa menyukai guru. Siswa diminta mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat yang berguna untuk mengembangkan ketrampilan hidup siswa. Guru meminta siswa mengerjakan hal yang terbaik yang mereka dapat lakukan, guru memberi kepedulian, sehingga mengetahui pekerjaan itu akan dievaluasi dan ditingkatkan kualitasnya

Dalam SLC juga, pengubahan paradigma  manfaat dari suatu sumber belajar harus dilakukan. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika ada interaksi antara siswa dengan sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). Seperti buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT), maupun sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization). Seperti pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain.  Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat melalui multi-metode dan multi-media.

Peranan penting sumber belajar itu diantaranya, menjadi fondasi dasar dalam pembelajaran lebih lanjut, untuk mengejar perubahan, mempercepat laju belajar, memberi kesempatan pemelajar untuk belajar sesuai dengan kemampuannya, sarana mengembangkan ketrampilan belajar dan membangun kemampuan asesmen atas tingkat pemahaman (meta cognitive skills) dari proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai, penguasaan atas tujuan suatu mata pelajaran sejauh mana, mencakup juga kemampuan soft skill (karya tulis dan portofolio).

Materi dan model penyampaian pembelajaran dalam SCL secara lengkap meliputi 3 aspek, yaitu (a) isi ilmu pengetahuan (IPTEK), (b) sikap mental dan etika yang dikembangkan, dan (c) nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada para mahasiswa. Di dalam proses SCL terdapat hubungan “tarik-menarik” antara learner support dan learner control. Hubungan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Adapun metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan SLC meliputi : 1) Metode kerja kelompok yaitu dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama. 2) Metode karya wisata (study tour) siswa dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat – tempat tertentu dengan maksud mempelajari obyek belajar yang terjadi ditempat itu. 3) Metode penemuan (discovery learning) mementingkan pembelajaran perseorangan, manipulasi obyek, melakukan percobaan, sebelum sampai ke generalisasi. Mengutamakan cara belajar siswa aktif (CBSA). 4) Metode eksperimen penyajian bahan pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu pertanyaan atau hipotesis yang dipelajari. 5) Metode pengajaran unit pembelajaran dimana siswa dan guru mengarahkan segala kegiatannya pada suatu pemecahan masalah yang dipelajari. 6) Metode pengajaran dengan modul pembelajaran yang membicarakan satu satuan konsep tungggal mata pelajaran, merupakan salah satu bentuk dari bentuk – bentuk belajar mandiri.

Metode lain yang menuntut partisipasi aktif siswa (a) Berbagi Informasi dengan bertukar gagasan atau ide, saling kooperatif, melakukan kolaborasi, membentuk diskusi kelompok, diskusi panel, mengikuti simposium dan seminar. (b) Belajar dari pengalaman dengan cara simulasi, bermain peran, permainan, dan melakukan kelompok temu, (c) Pembelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara studi kasus, tutorial dan lokakarya.

Tetapi, diskusi yang dikelola dengan landasan pembelajaran berpusat pada siswa ternyata juga memiliki kelemahan, karena jalannya diskusi yang lebih sering didominasi oleh siswa partisipan yang pandai, topik diskusi sering menyimpang dari pembahasan masalah, sehingga pertukaran pikiran menjadi asal-asalan dan bertele-tele, diskusi juga biasanya banyak memboroskan waktu, sehingga tidak sejalan dengan prinsip efisiensi.

Model SCL yang sudah berkembang, diantaranya PBL (Problem Based Learning), CTL menggunakan metode inquery terbimbing dan metode Drill and Practice, Cooperative Learning, diantaranya STAD, Jigsaw (model tim ahli), TGT (Team Games Tournament), dan model TAI, yang terdiiri dari komponen kelompok, tes, materi, kelompok belajar, penilaian dan pengakuan tim, mengajar kelompok dan lembar kerja.

Di Indonesia, salah satu universitas terkemuka seperti UGM, telah menerapkan kegiatan SLC sebagai Renstra (Rencana Strategis) tahun 2002-2007, dan terealisasi tahun 2004, impelementasinya ada yang bersifat individual (dosen), kelompok (teaching team), dan institusional (Jurusan, Fakultas). Adapun tahap sosialisasi erangkum dalam kegiatan pelatihan, yaitu pelatihan Student Assesment sebagai integral dari SCL, pelatihan Tutorial pelaksanaan monitoring, dan evaluasi proses.

Salah satu spesifikasi model dan pengembangan dari SLC, yaitu PBL, Problem Based Learning, metode belajar yang berbasis masalah, kasus atau masalah sebagai pemicu mendorong proses belajar dan mengintegrasikan hal baru. dalam PBL, masalah yang diberikan, yaitu masalah yang dihadapi saat menjalankan profesi. Sehingga dapat dijadikan aspek penguatan relevansi terhadap kebutuhan mahasiswa kelak. Unsyiah juga sudah menerapkan PBL di Fakultas Kedokteran pada program studi Pendidikan Dokter, Kedokteran Gigi dan akan menyusul juga di prodi Psikologi.

Banyak model lain dari pengembangan dari SLC, contoh lain, Modifikasi Metode Kooperatif (salah satu dari anggota yang dianggap mampu dapat membantu kelompoknya hingga berhasil), Student Team Achevment Divisions (STAD) dan Team Assisted Individualization (TAI) dengan memperhatikan Emotional Quotient Siswa dalam praktikum, dan melihat keberhasilan metode tersebut dari prestasi belajar pada materi pokok penuntasan. STAD cocok digunakan dalam materi perhitungan yang perlu pemahaman konsep yang berhubungan dengan materi sebelumnya. Metode TAI, pembelajaran secara kelompok dimana siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten dan membantu secara individual siswa yang kurang mampu dalam kelompok. Sehingga memotivasi para siswa untuk saling membantu. EQ di kedua metode ini berperan dalam pencapaian prestasi. Karena tingkat EQ yang berbeda pada tiap siswa.

Fakta penerapan SLC di lapangan (Dikutip dari Sitepu (2008:14) menemukan bahwa, pemanfaatan aneka sumber belajar di sekolah masih belum sesuai harapan. Walau pendidik mengaku mengetahui konsep belajar yang menuntut penggunaan berbagai sumber belajar, proses pembelajaran masih berpusat pada pendidik.

Hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi hambatan penerapan SLC diperlukan kearifan dari para penentu kebijakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah modus norma dan modus operasional, norma ekstrinsik dan intrinsik, sumber daya manusia (mahasiswa, dosen, pegawai non-dosen), keanekaragaman sikap mental dan etika profesi, serta kebersamaan dalam keyakinan, kebanggaan, semangat, gairah, dan komitmen. Untuk meminimalisasi kendala implementasi inovasi maka strategi inovasi dan manajemen di LPT harus berpegangan pada konsep harmonizing reality and idealism. Konsep ini dapat dijabarkan sebagai kombinasi strategi top-down, bottom-up, dan inside-out selama proses difusi untuk mencapai koherensi, kolegialitas dan kepemilikan.

Kesimpulan, SCL merupakan salah satu pembelajaran yang lebih menekankan pada siswanya.Disini siswa dituntut untuk aktif dan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Metode yang lazim digunakan, metode kerja kelompok, karya wisata, penemuan, eksperimen, pengajaran unit, dan pengajaran dengan modul. Metode lain yang menuntut partisipasi aktif siswa, information sharing, simulation, role playing, focus group discussion, case study, tutorial dan lokakarya. Ada 5 faktor psikologis perlu diperhatikan guru, diantaranya. (a) Faktor Metakognitif dan kognitif. (b) Faktor Afektif (c) Faktor Perkembangan (d) Faktor Pribadi dan Sosial (e) Faktor Perbedaan Individual. Guru yang sudah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung menciptakan suasana kelas yang mendukung, siswa diminta mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat, guru meminta siswa mengerjakan hal yang terbaik yang mereka dapat lakukan. Sumber belajar dalam SLC ada 2 menurut asalnya, dirancang (learning resources by design) dan sumber belajar yang sudah tersedia. Peranan penting sumber belajar itu diantaranya, menjadi fondasi dasar dalam pembelajaran lebih lanjut, sarana mengembangkan ketrampilan belajar dan membangun kemampuan, penguasaan atas tujuan suatu mata pelajaran sejauh mana, mencakup juga kemampuan soft skill. 3 aspek penyampaian SLC, (a) isi ilmu pengetahuan (IPTEK), (b) sikap mental dan etika yang dikembangkan, dan (c) nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada para mahasiswa. Di dalam proses SCL terdapat hubungan “tarik-menarik” antara learner support dan learner control.


  • pelitanakamaine: berbagi aja ni :) tugas di kuliahan syp tau ad yg perlu mdh2n berguna
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Categories

Archives

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.