pelita.anak.amaine

Agresi, Game Melihat Efek pada Perilaku Anak, Menggunakan Landasan Teori Bandura

Posted on: April 8, 2010

Daftar isi

Cover Dalam………………………………………………………………………………………………….. i

Daftar isi………………………………………………………………………………………………………… ii

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………… iii

BAB  I    PENDAHULUAN……………………………………………………………………………… 1

BAB II    PEMBAHASAN………………………………………………………………………………… 3

2.1    Agresi……………………………………………………………………………….       3

2.1.1 Teori dan Konsep Agresi…………………………………………..       3

2.1.2 Proses Agresi……………………………………………………………       9

2.1.3 Faktor Perilaku Agresi……………………………………………….       9

2.1.4 Karakteristik Individu Mempengaruhi Agresi…………….     16

2.1.5 Bentuk – bentuk Agresi……………………………………………..     17

2.1.6 Evolusi Agresi…………………………………………………………..     18

2.2    Tayangan Televisi……………………………………………………………     18

2.2.1 Efek Televisi……………………………………………………………..     21

2.3    Analisis Ilustrasi Saat Anak Bermain……………………………….     23

2.4    Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura………………………….     25

2.4.1 Proses Kognitif Belajar……………………………………………..     26

2.4.2 Identifikasi…………………………………………………………………     27

2.4.3 Imitasi………………………………………………………………………..     28

2.4.4 Penelitian Bandura Tentang Efek Tontonan Kekerasan pada Perilaku Anak   ………………………………………………………………………………………… 29

2.5    Fenomena Lain Penyebab Perilaku Agresi pada Anak…..     34

2.5.1 Perilaku Agresif pada Anak Hobi Video Game…………     34

2.5.2 Kekerasan Game GTA………………………………………………     35

BAB III   Peran Orang Tua Dapat Meminimalisasi Efek Tontonan Kekerasan..… 39

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………. 40

1. Pengertian Agresi

Dalam psikologi dan ilmu sosial lainnya, pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Perilaku yang secara tidak sengaja menyebabkan bahaya atau sakit bukan merupakan agresi. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. Agresi tidak sama dengan ketegasan.

Agresi adalah fenomena kompleks yang terdiri dari sejumlah perilaku dari jenis yang lebih khusus. Segala bentuk perilaku yang disengaja terhadap makhluk lain dengan tujuan untuk melukainya dan orang yang dilukai tersebut berusaha untuk menghindarinya. (Baron & Byrne, 1984)

Empat masalah pokok  mencakup agresi:

    1. Agresi merupakan perilaku
    2. Ada unsur kesengajaan
    3. Sasaran makhluk hidup à manusia
    4. Ada usaha menghindar pada diri korban.

Menurut Buss, Agresi manusia tidak muncul sebagai adaptasi khusus untuk menangani masalah tertentu tetapi muncul sebuah adaptasi untuk menangani sejumlah masalah yang berkaitan untuk kelangsungan hidup manusia.

2. Bentuk-bentuk Agresi

Manusia akan cenderung melakukan perilaku agresi bila ada faktor-faktor eksternal ataupun internal yang membuat seseorang merasa terancam atau terusik ketenangannya. Setiap kondisi dan situasi, individu akan mengekspresikan perilaku agresifnya ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Buss dan Perry berpendapat bahwa ada empat bentuk pola agresi yang biasa dilakukan oleh individu, yaitu agresi fisik, verbal, kemarahan, dan kebencian.

1.Agresi fisik

Agresi yang dilakukan untuk melukai orang lain secara fisik, seperrti memukul, menendang dan lain-lain.

2.Agresi verbal

Agreesi yang dilakukan secara verbal kepada lawan, seperti mngumpat, menyebarkan cerita yang tidak menyenangkan tentang korban kepada orang lain, memaki, mengejek, membentak, dan berdebat.

3.Agresi Benci

Agresi yang semata-mata dilakukan sebagai pelampias keinginan untuk melukai, menyakiti atau agresi yang tanpa tujuan selain untuk menimbulkan efek kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.

4.Agresi instrumental

Agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu.

Moyer (1968)[1] menyajikan klasifikasi awal berupa tujuh bentuk agresi, dari sudut pandang biologis dan evolusi.

1. Agresi pemangsa: serangan terhadap mangsa oleh pemangsa.

2. Agresi antar jantan: kompetisi antara jantan dari spesies yang sama mengenai akses terhadap sumber tertentu seperti betina, dominansi, status, dsb.

3. Agresi akibat takut: agresi yang dihubungkan dengan upaya menghindari ancaman.

4. Agresi teritorial: mempertahankan suatu daerah teritorial dari para penyusup.

5. Agresi maternal: agresi dari perempuan/betina untuk melindungi anaknya dari ancaman. Ada juga agresi paternal.

6. Agresi instrumental: Agresi yang ditujukan untuk mencapai suatu tujuan. Agresi ini dianggap sebagai respon yang dipelajari terhadap suatu situasi.

3. Proses Agresi

Melalui pendekatan

1. Modelling

Hanya dengan melihat berbagai kejadian yang menstimulasi agresi, orang bisa menjadi agresif à modelling behavior (Bandura, 1973).

Proses modelling à ada hubungan emosional yang kuat antara model dengan peniru. Belajar sosial yang paling banyak berpengaruh adalah media televisi.

2. Belajar

Proses belajar untuk agresif melalui:

Reward

Kondisi                                              Penguat

Punishment

4. Jenis Agresi

Moyer (1976) mengidentifikasi setidaknya delapan berbagai jenis agresi pada hewan, yang semuanya dapat ditemukan, atau dalam bentuk lain, oleh perilaku manusia, antara lain :

1. Berkenaan dgn agresi

Contohnya pemburu untuk melacak dan membunuh binatang, seperti memburu rusa, rusa besar, rusa Amerika utara, beruang, pheasants, itik, dan geese. Lain-lain ikan untuk makanan atau olahraga.

2. Agresi Antar Jantan

Agresi yang secara tipikal dibangkitkan oleh kehadiran sesama jantan pada suatu species. Ancaman, menyerang, atau berkhidmat dengan perilaku laki-laki yang menanggapi laki-laki yang aneh. Di Amerika Serikat, 87% dari mereka ditangkap atas tuduhan pembunuhan dan aggravated penyerangan yang laki-laki.

3. Sesuatu yang Menimbulkan ketakutan bisa memunculkan agresi

Agresif perilaku yang terjadi ketika binatang adalah terkungkung. Menyerang perilaku biasanya didahului oleh upaya untuk melarikan diri. Untuk upaya penyelamatan, kriminal dan dihukum tawanan perang dalam biasanya sangat dibentengi rasa takut dan akhirnya akan muncul perilaku agresi

4. Agresi teritorial

Ancaman serangan atau perilaku bila penyusup yang ditemukan di rumah atau di wilayah pribadinya. Seorang pemilik yang menembak dan membunuh seorang penyusup kemungkinan tidak akan dikenakan biaya.
Usaha sering lebih memilih untuk membuat kesepakatan di wilayah mereka sendiri-mereka di kantor-karena mereka merasa ada di sebuah keuntungan. Negosiasi antara pihak berseteru biasanya dilakukan di wilayah netral. Ketika Reagan Presiden AS dan Uni Soviet Premier Gorbachev telah memutuskan untuk diskusi selama Perang Dingin, mereka ke Bali Islandia, dianggap sebagai sebuah negara netral oleh kedua belah pihak.

5. Agresi Ibu

Ibu akan menjaga anak-anaknya dari serangan dari luar. Bila seseorang menggoda untuk menyakiti anak-anaknya dalam bentuk apapun, ibu akan melakukan apa yang ada di kuasa untuk melindungi mereka.

6. Pemarah agresi

Perilaku Merusak diarahkan sebagai obyek dari hasil frustrasi, sakit, kerugian, atau lainnya yang termasuk bagian dari stressor. Untuk manusia, frustrasi hanya mengakibatkan agresi bila mereka yang besar dan tak terduga. Kami telah belajar untuk mengharapkan frustrations tertentu, seperti harus menunggu di baris atau duduk dalam kemacetan lalu lintas. Sakit dan kerugian sangat menarik motivasi negara. Berkowitz (1993) telah menyatakan bahwa bila perasaan negatif yang evoked, mereka sering mengakibatkan agresi mengamuk dan bahkan pada manusia. manusia harus perlu belajar lebih cepat beradaptasi reaksi.

7. Seks yang berhubungan dengan agresi

Agresif elicited oleh perilaku yang sama yang mengeluarkan stimulus seksual. Seseorang yang secara seksual excites juga dapat membuat merasa cemburu dan agresif jika, misalnya, kita melihat bahwa orang yang cintai bersama dengan orang lain. Kecemburuan terkait dengan keinginan untuk melestarikan kami di masa mendatang Genera ¬ HTI (Buss, 1994).. Verbal dapat menyertai agresi fisik seperti perasaan.

8. Agresi instrumental

Agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu.

5. Hubungan Struktur Otak, Hormon dengan Agresi

Laki-laki dan hormon Agresi Salah satu hormon utama terkait dengan agresi adalah testosterone. Dua penelitian desain telah digunakan untuk menentukan apakah testosterone menyebabkan agresi:

Karena itu akan tidak etis untuk mengurus testosteron untuk tujuan percobaan, peneliti telah mencoba untuk mengidentifikasi individu yang diberi obat-steroids-yang mengakibatkan kenaikan tingkat testosterone. Sebuah perbandingan antara berat lifters yang menggunakan steroids dengan nonsteroid pengguna berdasarkan pada Buss-Durkee permusuhan Inventarisasi menemukan bahwa pengguna steroid telah lebih tinggi dari permusuhan (Yates, Perry, & Murray, 1992).

Penelitian tentang dampak pemberian obat memberikan bukti yang lebih lanjut testosterone memainkan peranan penting dalam agresi. Reaksi agresif itu, menurut Prof. Soemarmo Markam, ahli saraf dan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dihasilkan oleh Amicdala. Ini salah satu bagian dalam system limbik pada otak manusia, yang berfungsi sebagai pusat perasaan. Bagian samping Amicdala memuat perasaan agresif, sedangkan bagian tengahnya memuat perasaan jinak. Bila seseorang mengalami tekanan psikologis terus-menerus, maka yang sering muncul adalah Amicdala bagian samping. Bagian ini menjadi dominan, sehingga orang itu bertindak agresif dan destruktif, Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan. Sebab, , sifat itu menurun hingga tiga generasi. Dan yang paling banyak mengalami adalah kalangan masyarakat strata bawah. “Hidup mereka penuh kekerasan untuk mempertahankan hidup, sehingga keturunannya menjadi agresif pula.

Sebaliknya, menurut Bruce Perry, kekerasan juga menyebabkan sistem kerja otak jadi mogok. Hormon stres tak lagi responsif, sehingga perasaan bocah itu tak lagi sensitif. Kasus ini bisa dilihat pada anak-anak yang suka menyakiti binatang. Misalnya yang dilakukan Luke Woodham. Sebelum menembak mati tiga temannya di SMU Pearl, Mississippi, Amerika Serikat, remaja ini memukuli anjingnya sampai mati. Ia kemudian membakar anjing piaraannya itu. Pendapat para ahli tersebut tak menafikan anggapan bahwa lingkungan yang buruk mempengaruhi perilaku bocah. Sebab, menurut Prof. Dadang Hawari, hal itu tak terlepas dari proses imitasi dan identifikasi yang muncul dalam perkembangan anak. “Kalau yang ditiru adalah tindak kekerasan, maka perangainya menjadi keras dan buruk.

6. Faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi pemicu perilaku agresi

Faktor yang berkaitan dengan agresi aktual:

  1. Provokasi

Seringkali agresi terjadi sebagai usaha untuk membalas agresi (counter agression). Untuk menghindari agresi, justru berusaha dengan jalan memberi perlawanan. Hal ini didasari suatu pemikiran bahwa cara bertahan paling baik adalah dengan menyerang à ujudnya bisa fisik/verbal.

  1. Kondisi aversif

Adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang ingin dihindari oleh seseorang. Menurut Berkowitz (1982) keadaan yang tidak menyenangkan sebagai salah satu faktor penyebab agresi. Alasannya adalah orang akan selalu berusaha mencari keseimbangan dengan jalan berusaha menghilangkan/ mengubah situasinya.

  1. Isyarat Agresi

Stimulus yang diasosiasikan dengan sumber frustrasi yang menyebabkan agresi (benda atau orang). Contoh: weapon effect).

  1. Kehadiran Orang lain

Kehadiran orang, terutama orang yang diperkirakan agresif, potensial untuk menumbuhkan agresi. Diasumsikan bahwa kehadiran tersebut akan berpartisipasi ikut agresi. Di lain pihak, kehadiran orang lain justru sering menghambar agresi.

Sebenarnya ada beberapa penyebab dari perilaku agresi, yaitu diantaranya sebagai berikut:

1. Amarah

Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak (Davidoff, Psikologi suatu pengantar 1991). Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi.

Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi. Ejekan, hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota seringkali saling mengejek pada saat bermain, begitu juga dengan remaja biasanya mereka mulai saling mengejek dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang diejek ikut membalas ejekan tersebut, lama kelamaan ejekan yang dilakukan semakin panjang dan terus-menerus dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi bahkan seringkali disertai kata-kata kotor dan cabul. Ejekan ini semakin lama-semakin seru karena rekan-rekan yang menjadi penonton juga ikut-ikutan memanasi situasi. Pada akhirnya bila salah satu tidak dapat menahan amarahnya maka ia mulai berupaya menyerang lawannya. Dia berusaha meraih apa saja untuk melukai lawannya. Dengan demikian berarti isyarat tindak kekerasan mulai terjadi. Bahkan pada akhirnya penontonpun tidak jarang ikut-ikutan terlibat dalam perkelahian.

2. Faktor Biologis

Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff, 1991):

a. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.

b. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.

c. Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.

3. Kesenjangan Generasi

Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak. permasalahan generation gap ini harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain agresi, masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan narkotik, kehamilan diluar nikah, seks bebas, dll.

4. Lingkungan

a. Kemiskinan. Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal ini dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di ibukota Jakarta, di perempatan jalan dalam antrian lampu merah (Traffic Light) anda biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih dari satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap di serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan resikonya anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang berani memukul pintu mobil anda jika anda tidak memberi uang, terlebih bila mereka tahu jumlah uang yang diberikan pada temannya cukup besar. Mereka juga bahkan tidak segan-segan menyerang temannya yang telah diberi uang dan berusaha merebutnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang seolah-olah biasa saja.

Bila terjadi perkelahian dipemukiman kumuh, misalnya ada pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang untuk beli minuman, maka pada saat itu anak-anak dengan mudah dapat melihat model agresi secara langsung. Model agresi ini seringkali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi-situasi yang dirasakan sangat kritis bagi pertahanan hidupnya dan ditambah dengan nalar yang belum berkembang optimal, anak-anak seringkali dengan gampang bertindak agresi misalnya dengan cara memukul, berteriak, dan mendorong orang lain sehingga terjatuh dan tersingkir dalam kompetisi sementara ia akan berhasil mencapai tujuannya. Hal yang sangat menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonomi & moneter menyebabkan pembengkakan kemiskinan yang semakin tidak terkendali. Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar dan kesulitan mengatasinya lebih kompleks.

b. Anonimitas. Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut.

Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.

c. Suhu udara yang panas. Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tapi bila musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga menjadi sepi.

Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992

5. Peran Belajar Model Kekerasan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga “games” atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan yang diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.

Model pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal ini sudah barang tentu membuat penonton akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang menyenangka dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model kekerasan dan hal ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku agresi.

Dalam suatu penelitian Aletha Stein (Davidoff, 1991) dikemukakan bahwa anak-anak yang memiliki kadar aagresi diatas normal akan lebih cenderung berlaku agresif, mereka akan bertindak keras terhadap sesama anak lain setelah menyaksikan adegan kekerasan dan meningkatkan agresi dalam kehidupan sehari-hari, dan ada kemungkinan efek ini sifatnya menetap.

Selain model dari yang di saksikan di televisi belajar model juga dapat berlangsung secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bila seorang yang sering menyaksiksikan tawuran di jalan, mereka secara langsung menyaksikan kebanggaan orang yang melakukan agresi secara langsung. Atau dalam kehidupan bila terbiasa di lingkungan rumah menyaksikan peristiwa perkelahian antar orang tua dilingkungan rumah, ayah dan ibu yang sering cekcok dan peristiwa sejenisnya , semua itu dapat memperkuat perilaku agresi yang ternyata sangat efektif bagi dirinya.

Model kekerasan juga seringkali ditampilkan dalam bentuk mainan yang dijual di toko-toko. Seringkali orang tua tidak terlalu perduli mainan apa yang di minta anak, yang penting anaknya senang dan tidak nangis lagi. Sebenarnya permainan-permainan sangat efektif dalam memperkuat perilaku agresif anak dimasa mendatang. Permainan-permainan yang mengandung unsur kekerasan yang dapat kita temui di pasaran misalnya pistol-pistolan, pedang, model mainan perang-perangan, bahkan ada mainan yang dengan model Goilotine (alat penggal kepala sebagai hukuman mati di Perancis jaman dulu). Mainan kekerasan ini bisa mempengaruhi anak karena memberikan informasi bahwa kekerasan (agresi) adalah sesuatu yang menyenangkan. Permainan lain yang sama efektifnya adalah permainan dalam video game atau play station yang juga banyak menyajikan bentuk-bentuk kekerasan sebagai suatu permainan yang mengasikkan.

6. Frustrasi

Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustrasi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi.
Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya, beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu. Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya.

Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.

7. Proses Pendisiplinan yang Keliru

Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membeci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (cth: dilarang untuk keluar main, tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka).

Dengan mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan diatas diharapkan dapat diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik dan terutama para remaja sendiri dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun agresi fisik dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Mungkin masih banyak faktor penyebab lainnya yang belum kami bahsa disini, namun setidaknya faktor-faktor diatas patut diwaspadai dan diberikan perhatian demi menciptakan rasa aman dalam masyarakat kita. Bukankah Damai Itu Indah.

7. Karakteristik Individu Mempengaruhi Agresi

Lepas dari pengamatan perilaku manusia menunjukkan bahwa manusia berbeda dalam kecenderungan mereka untuk bertindak secara agresif. Untuk menentukan apakah beberapa individu cenderung lebih terlibat dalam tindakan agresi atau mempunyai lebih banyak perasaan marah dan permusuhan. Buss dan Perry (1992) telah mengidentifikasi empat faktor atau komponen agresi yaitu agresi fisik, agresi verbal, marah, atau permusuhan. Agresi fisik dan verbal, yang melibatkan menyusahkan orang lain, mewakili instrumental komponen. Marah, yang melibatkan fisiologis terbangun, mewakili atau affec emosional. Permusuhan, yang melibatkan perasaan sakit dan akan ketidak adilan, merupakan komponen kognitif agresi (Buss & Perry, 1992).

1. Jenis Kelamin

Penelitian MacCoby & Jacklin (1974) menyimpulkan bahwa pria lebih banyak melakukan tindakan agresi yang bersifat fisik. Sedangkan menurut Watson, deBortali-Tregerthen, dan Frank (1984), wanita lebih banyak membutuhkan provokasi agar menjadi agresif. Wanita juga lebih empati terhadap korban agresi, sehingga menghambat berlaku agresif. Ternyata wanita juga lebih bisa meminimalkan perasaan jengkel.

2. Kondisi Fisik

Proses dalam tubuh mempengaruhi agresi. Dalam keadaan tidak enak kondisi tubuhnya misalnya karena kebisingan ternyata dapat memancing agresivitas (Donnerstein & Wilson, 1976).

3. Atribusi Penyebab

Individu yang sadar bahwa kemarahannya disebabkan oleh frustrasi di masa lalu, ia akan lebih rendah agresinya dibanding apabila penyebabnya adalah faktor luar saat itu. Perbedaan seperti ini antara lain mendasarkan pada hukum yang berlaku bahwa kesengajaan meminta pertanggungjawaban yang lebih tinggi.

4. Perhitungan Cost Agresi

Orang yang sadar harus mempertanggungjawabkan perbuatannya akan lebih berhati-hati dalam berbuat agresif. Dengan kata lain ia menjadi kurang agresif. Hal ini disebabkan terutama oleh adanya perhitungan berat ringannya tanggung jawab yang harus dipikul.

5. Deindividuasi

Apabila seseorang merasa identitasnya kabur atau menjadi anonimus, perasaan takutnya terhadap hukuman menjadi kecil. Dalam keadaan demikian ia menjadi lebih berani berperilaku agresi karena perhitungan cost baginya menjadi rendah.

6. Alkohol dan Obat Terlarang

Kriminalitas memang akrab dengan alkohol, demikian juga agresivitas. Menurut Moyer (1976) alkohol mempertinggi potensi agresif karena diperkirakan menekan mekanisme dalam syaraf pusat yang biasanya menghambat emosi untuk berperilaku agresif. Ada kecenderungan bahwa dengan minum alkohol orang bisa menjadi bebas, termasuk berbuat agresif, sehingga ia menjadi benar-benar agresif.

7. Media Masa

Televisi sebagai media masa seringkali menyajikan film kekerasan yang secara potensial sebagai objel modeling. Penonton usia muda lebih mudah terstimulasi oleh persoalan agresivitas daripada kelompok tua.

8. Evolusi agresi

Seperti kebanyakan perilaku lainnya, agresi dapat dilihat sebagai kemampuan yang bisa membantu binatang untuk selamat dan bereproduksi. Binatang menggunakan agresi untuk memperluas dan mempertahankan teritorial, termasuk berbagai sumber kehidupan lainnya seperti makanan, air, dan pasangan hidup. Peneliti telah berteori bahwa agresi dan kemampuan membunuh adalah hasil dari evolusi kita di masa lalu.

9. Cara-cara Mengurangi Agresi

Dalam suatu analisis mengenai perilaku agresif terdapat beberapa cara dalam mengurangi perilaku agresif dalam situasi tertentu, atau dapat belajar untuk menekan agresivitas pada dirinya. Oleh karena itu akan dijelaskan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mereduksi perilaku agresif. Adapun cara yang dapat digunakan untuk dpat mengurangi perilaku agresif, antara lain:

1.Menghukum Keadilan

Menghukum keadilan merujuk kepada kepercayaan bahwa perilaku tercela harus dihukum. Menurut menghukum keadilan, orang yang deviates perilaku dari norma (melanggar norma) harus dihukum untuk membawa perasaan jera.

2.Mengurangi frustasi

Dengan cara berfikir positif bahwa setiap permasalahan bahwa dapat diselesaikan dan tetap optimis.

3.Hambatan yang dipelajari

Dengan cara belajar mengendalikan perilaku agresif dan tidak peduli apakah diancam akan dihukum atau tidak.

4.Pengalihan

Mengekspresikan agresi terhadap sarana pengganti

5.Katarsis

Pelepasan energi dengan mengurangi rasa marah melalui pengungkapan agresi. Klasifikasi dan deskripsi gangguan kepribadian beserta tritmen-nya.

10. Berbagai Perspektif tentang penyebab perilaku agresi

1. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Bawaan

Freud (Barbara, 2005) dengan teorinya berpandangan bahwa perilaku individu didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sifat kemanusiaan, yaitu perilaku agresif itu berasal dari insting mahluk hidup yang pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam insting, yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos). Insting kehidupan terdiri atas insting reproduksi atau insting seksual dan insting- insting yang ditujukan untuk pemeliharaan hidup, sedangkan insting kematian memiliki tujuan untuk menghancurkan hidup individu (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003). Dalam teori ini perilaku agresif merupakan ekspresi dari adanya insting kematian. Insting inilah yang menjadi patokan untuk menjelaskan adanya beberapa bentuk tingkah laku agresif seperti peperangan ataupun bunuh diri. Freud (Baron dan Byrne, 2000) beranggapan bahwa insting mati yang dapat menjelaskan perilaku agresif mempunyai sifat katarsis atau pelepasan ketegangan yang dapat merugikan masyarakat.

Senada dengan pendapat di atas Ardrey (dalam Hudaniyah dan Dayakisni, 2003) mendasarkan pada teori evolusi Darwin dalam penelitiannya tentang perilaku agresif, berpendapat manusia sejak kelahirannya telah membawa killing imperativ dan dengan killing imperative ini manusia dihinggapi obsesi untuk menciptakan senjata dan menggunakan senjatanya itu untuk membunuh apabila perlu. Tetapi manusia memiliki mekanisme pengendalian kognitif yang mengimbangi “keharusan” membunuh salah satunya yaitu nurani yang memainkan peranan dalam menghambat agresi. Manusia telah diprogram (melalui evolusi) untuk mengancam, berkelahi, bahkan membunuh jika perlu untuk mempertahankan teritorialnya. Oleh karena itu terdapat keccenderungan manusia bersifat damai hanya terhadap orang lain dalam kelompoknya saja. Sebaliknya memusuhi orang di luar kelompoknya dan ingin menghancurkannya untuk mempertahankan eksistensi kelompoknya.

2. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar

Menurut teori belajar, kondisi dan tingkah laku agresif terhadap individu lain bukan bersifat instingtif, tetapi diperoleh melalui belajar. Sears, dkk (1995) menyatakan mekanisme utama yang menentukan perilaku agresif manusia adalah proses balajar masa lampau. Bayi yang baru lahir menunjukkan perasaan agresif yang sangat impulsif. Bila keinginannya tidak terpenuhi dia akan menangis keras, memukul- mukul, menghantam apa saja yang dijangkau. Pada kehidupan bayi tidak menyadari kehadiran orang lain sehingga tidak akan dapat mengganggu mereka secara sengaja. Bila bayi ini menyadari kehadiran orang lain, dia akan terus menerus melepaskan amarahnya dan mungkin mengarahkan kepada mereka. Tetapi pada masa dewasa ia akan mengendalikan dorongan impuls agresifnya secara kuat dan hanya melakukan agresi dalam keadaan tertentu.

Perkembangan ini disebabkan oleh proses belajar. Belajar melalui pengalaman coba-coba, pengajaran moral, instruksi khusus, pengalaman diri sendiri melalui pengamatan terhadap orang lain akan membantu mengajarkan cara merespon pada individu. Individu juga mempelajari bermacam- macam bentuk tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat melalui cara mempelajari akibat penampilan dari respon tersebut (Sears, dkk, 1995).

Salah seorang tokoh dalam teori belajar adalah Skinner, yang terkenal dengan teori operan conditioningnya. Menurut pendekatan pengkondisian operan ini bahwa perilaku apabila memberikan efek positif yang cenderung diulang dan sebaliknya jika memberikan efek negatif ditinggalkan (Sears, dkk, 1995). Salah satu mekanisme utama untuk memunculkan proses belajar adalah penguatan (reinforcement). Bila suatu perilaku tertentu diberi ganjaran atau hadiah (reward), kemungkinan besar individu akan cenderung mengulangi suatu perilaku tersebut di masa mendatang, tetapi jika perilaku tersebut mandapatkan hukuman (punishment) maka kecil kemungkinan akan mengulangi perilaku tersebut. Tindakan agresif biasanya merupakan reaksi yang dipelajari dan penguatan atau hadiah meningkatkan kemungkinan hal tersebut akan diulang kembali (Sears, dkk, 1995).

3. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar Sosial

Teori belajar sosial menekankan kondisi lingkungan yang membuat seseorang memperoleh dan memelihara respon-respon agresif. Asumsi dasar teori ini adalah sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas perilaku yang ditampilkan oleh individu-individu lain yang menjadi model (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003).

Motivasi individu untuk mengamati dan mengungkapkan atau mencontoh tingkah laku model akan kuat apabila model memiliki daya tarik dan memiliki efek yang menyenangkan atau mendatangkan penguatan (reinforcement). Sebaliknya, individu pengamat kurang termotivasi untuk mencontoh perilaku agresi itu tidak memiliki daya tarik dan dengan agresi yang dilakukannya si model tidak menyenangkan, efeknya negatif atau hukuman (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003).

Proses modeling menjelaskan bahwa anak mempunyai kecenderungan kuat untuk berimitasi (meniru), mudah berimitasi terhadap figur tertentu, misalnya tokoh yang terkenal, orang-orang sukses dan orang yang sangat akrab serta sering mereka temui. Figur yang paling mungkin menjadi model bagi anak adalah orangtuanya sendiri, oleh sebab itu perilaku agresif anak sangat tergantung pada cara orangtua atau orang dekat dalam memperlakukan mereka, karena perilaku orang disekitarnya dapat dipakai sebagai model yang ditirunya.

Menurut Bandura (dalam Berkowitz, 1995) dalam belajar obsevasional terdapat empat proses hubungan antara satu dengan yang lain saling berkaitan, yaitu:

Proses atensi yaitu proses individu tertarik untuk memperhatikan dan mengamati tingkahlaku model. Proses ini dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran model dan karakteristik yang dimilikinya. Model yang sering tampil dan memiliki karakteristik yang menarik akan lebih mudah mengundang perhatian dibandingkan model yang jarang tampil dan tidak menarik.

Proses retensi yaitu proses seseorang pengamat dalam menyimpan tingkahlaku yang telah diamati di dalam ingatannya.

Proses reproduksi yaitu proses seseorang pengamat menangkap ulang tingkahlaku model yang disimpan.

Proses motivasional dan penguatan yaitu tingkahlaku yang telah diamati tidak akan dilakukan apabila pengamat kurang termotivasi. Bandura percaya bahwa penguatan positif dapat memotivasi individu untuk mengungkapkan tingkahlaku tertentu. Probabilitas peniruan perilaku agresi akan semakin tinggi dengan adanya penguatan. Motivasi pengamat untuk meniru tingkahlaku agresi yang ditampilkan oleh model akan kuat apabila si model memiliki daya tarik yang kuat dan agresi yang dilakukan oleh model memperoleh akibat yang menyenangkan (efek positif), sebaliknya pengamat tidak termotivasi meniru agresi yang dilakukan apabila memperoleh akibat yang tidak menyenangkan atau hukuman.

4. Perilaku Agresif sebagai Dorongan yang Berasal dari Luar

Pandangan tentang perilaku agresif tidak berhubungan dengan insting, namun ditentukan oleh kejadian-kejadian eksternal, di mana kondisi tersebut akan menimbulkan dorongan yang kuat pada seseorang untuk memicu kemunculan perilaku agresif. Salah satu teori dari kelompok ini adalah teori frustrasi-agresi yang dipelopori oleh Dollard dkk (dalam Baron & Byrne, 2000). Teori ini menyatakan bahwa frustrasi menyebabkan berbagai kecenderungan, yang salah satunya adalah kecenderungan agresi, dan agresi timbul karena adanya frustrasi Apabila frustrasi meningkat, maka kecenderungan perilaku agresifpun akan meningkat. Kekuatan dorongan agresi yang disebabkan oleh frustrasi, tergantung besarnya kepuasan yang 1) diharapkan dan 2) tidak dapat diperoleh. Tepatnya jika orang tiba-tiba dihalangi untuk mencapai tujuannya, akan meningkatlah kecenderungannya untuk menyakiti orang lain, tergantung:

1. Tingkat kepuasan yang diharapkan

2. Seberapa jauh gagal memperoleh kepuasan

3. Seberapa sering terhalang untuk mencapai tujuan (Berkowitz, 1995).

Sears, dkk (1995) mengemukakan bahwa frustrasi adalah suatu gangguan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan, selanjutnya dikatakan bahwa salah satu prinsip dasar dalam psikologi adalah frustrasi cenderung membangkitkan perasaan agresi. Agresi selalu merupakan akibat dari frustasi dan frustasi selalu mengarah keberbagai bentuk agresi, berdasarkan teori ini dorongan untuk melakukan agresi meningkat bersamaan dengan meningkatnya frustrasi.

Dalam pandangan yang direvisi, agresi bukan satu-satunya, tetapi merupakan salah satu respon terhadap frustrasi. Individu yang frustrasi mungkin akan menarik diri dari situasi itu atau menjadi depresi. Sejauh tindakan agresif mengurangi kekuatan dorongan yang mendasarinya, tindakan itu akan bersifat menguatkan diri: kemungkinan respon agresif akan timbul mengikuti frustrasi yang dialami sebelumnya akan meningkat (Barbara, 2005)

5. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Katarsis

Tujuan perilaku agresif menurut teori ini adalah dalam rangka katarsis (pelepasan ketegangan) terhadap kompleks-kompleks terdesak dalam artian perasaan marah dapat dikurangi melalui pengungkapan agresi. Inti dari dari gagasan katarsis adalah bila seseorang merasa agresif, tindakan agresi yang dilakukannya akan mengurangi intensitas perasaannya. Hal ini pada gilirannya akan mengurangi kemungkinannya untuk bertindak agresif (Sears, 1995).

Samuel (dalam Hudaniyah dan Dayakisni, 2003) menambahkan bahwa ketegangan akan meningkat dan timbul berbagai respon dari dalam individu yaitu dengan:

Reinterpretasi, individu berusaha untuk menggunakan akal sehat atau pikirannya dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Timbul rasa marah, dimana kemarahan tersebut dapat berbentuk; upresi, individu melakukan penekanan terhadap rasa marah yang dialami. Penekanan ini dilakukan mungkin karena norma-norma masyarakat setempat atau norma keluarganya yang tidak mengijinkan untuk mengekspresikan kemarahan secara terang-terangan sehingga dapat mengakibatkan psikosomatis. Sublimasi, suatu bentuk penyaluran perasaan tegang atau kemarahan yang dapat diterima oleh masyarakat. Penyaluran ini dapat terwujud aktivitas-aktivitas kesenian, olah raga ataupun aktivitas bisnis yang mengandung  persaingan. Agresi, yaitu bentuk penyaluran yang dapat merugikan orang lain maupun diri sendiri, karena penyaluran ini bersifat mengganggu atau merusak.

Sebagai contoh yaitu  ketika seorang tiba-tiba mengklakson kita ketika mobilnya berada dibelakang kita maka kita akan marah dan pada gilirannya mobil tersebut berada di depan mobil kita, kita mengklakson balik maka kita akan merasa lega dan amarah kita akan berkurang.

11. Peran Orangtua Dapat Meminimalisasi Efek Tayangan Kekerasan

Pada gilirannya tayangan sinetron di televisi kita suatu saat akan menjadi sebuah “model” yang akan ditiru, baik oleh anak-anak maupun remaja. Tanpa adanya penjelasan yang logis kepada anak-anak, terutama anak di bawah usia, cerita dalam sinetron akan menjadi sebuah “pemodelan” yang akan ditiru dan digugu.

Dalam kondisi seperti itulah, kehadiran orangtua yang mendampingi putra-putrinya saat menonton dan turut menjelaskan logika cerita dalam sinetron merupakan sebuah langkah yang sangat bijak. Sebab, selain televisi, orangtua juga merupakan salah satu model yang menarik untuk ditiru. Orangtua merupakan model utama bagi seorang anak pada masa awal kehidupannya. Orangtua merupakan sumber penguatan dan obyek imitatif utama. Perilaku anak di masa datang sangat tergantung pada cara orangtua memperlakukan anak dan pada perilaku orangtua sendiri.

Mungkin kita-para orangtua-akan merasa kaget ketika mengetahui sebuah hasil studi yang dilakukan Michigan State University. Studi itu menunjukkan, kepada anak berusia empat dan lima tahun ditawarkan dua pilihan, yaitu berhenti menonton televisi atau tanpa bersama ayah mereka. Ternyata sepertiga dari anak-anak itu memilih lebih baik tanpa bersama ayah. Sebuah studi lain juga menunjukkan bahwa rata-rata anak umur lima tahun menghabiskan waktu hanya 25 menit dalam seminggu untuk bercengkerama dengan ayah mereka. Namun, ternyata mereka menghabiskan hampir 25 jam dalam seminggu untuk berinteraksi dan bercengkerama dengan televisi (Welch, 1987).

Mendampingi anak-anak ketika mereka berada di depan pesawat televisi, termasuk ketika menyaksikan adegan demi adegan dalam sinetron, merupakan tindakan yang bijaksana dan sebagai bentuk kasih sayang kita terhadap mereka.

12. Analisis Filsafat Mengenai Perilaku Agresi

Saya akan mengambil analaisis dari contoh kasus agresi Israel dan palestina. Aplikasi ini begitu nyata di dalam kehidupan kita, dan marak di dalam pemberitaan sehari – hari, dan entah sampai kapan akan selesai.

Dalam tatapan historis, agresi Israel dan Palestina bukanlah peristiwa yang baru melainkan sebuah peristiwa konflik lama yang belum terselesaikan. Namun peristiwa yang lama akan tetap menggurita, bahkan menjadi perbincangan publik, ketika peristiwa tersebut menjadi sebuah wacana,yang diproduk oleh pelbagai kelompok dan orang-orang muslim.

Dengan demikian tulisan ini akan difokuskan pada diskursus agresi Israel, yang cenderung memandang tindakan Israel sebagai tindakan hina, tidak manusiawi, bahkan menyebutnya sebagai laknatullah alaih. Sementara mereka mendukung Palestina bahkan berani membuka sukarelawan untuk menjadi pahlawan penyelamat atau mujahid kontemporer berperang menumpaskan Israel. Wacana inilah,yang menggelitik penulis untuk menjelajahi lautan muatan- muatan ideologis yang bersemayam di balik interpretasi kebencian terhadap agresi Israel.

Fenomena ideologis

Dalam paradigma strukturalisme, ada dua struktur yang melekat pada sebuah peristiwa agresi Israel, Palestina, yaitu surface structure yang kerapkali dipahami sebagai dasariah peristiwa,yang dalam konteks agresi dipahami sebagai pertentangan fisik,atau peperangan fisik. Struktur luar ini menampakkan bagaimana bunyi senjata saling berkumandang,rudal rudal saling memakan korban.namun dibalik itu semua ada deep structure yang melekat pada peristiwa tersebut yaitu makna ideologis yang menggerakkan terjadinya agresi yang berkepanjangan.

Dalam tatapan sejarah, agresi Israel Palestina berawal dari tahun1882 M melalui gerakan Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina sebagai keberhasilan kampanye Inggris dan Zionis yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu. Gerakan tersebut kemudian direspon oleh tokoh pribumi Palestina di yarusssalem pada tahun 1891 dengan,mengirimkan petisi kepada pemerintah Ottoman di Konstantinopel (Istambul), menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Pertentangan antara dassolen dan dassein yang dimilik oleh orang yahudi dan pribumi Palestina,bertambah dahsyat ketika peristiwa ini diperlebar kedalam wilayah kenegaraan,yang diperkuat oleh imperialisme inggris,yang mendukung gerakan Israel untuk menduduki Palestina. Singkat cerita, ternyata pertentangan kedua kubu negara tersebut masih sama sama mempertahankan luapan emosi gerakannya,yang berdampak pada peperangan dahsyat hingga saat ini.

Usaha Palestina dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya,ternyata di dorong dan didukung oleh HAMAS sebagai sebuah gerakan ideologis yang berbasis agama. Dari deskripsi sejarah di atas, dapat dikatakan bahwa agresi tersebut merupakan gerakan ideologis, yang dipelopori oleh dua aktor yaitu imperialis barat sebagai sutradara Israel, dan HAMAS sebagai sutradara Palestina. Dengan demikian, peperangan yang berkelanjutan ini bukanlah peperangan agama, melainkan perang ideologis yang saling memperebutkan kepentingan dan kekuasaan ideologinya.

Penabur Bibit Ideologi

Wacana Agresi Israel yang sampai saat ini masih berkecamuk,ternyata mengundang perhatian umat muslim untuk meresepsi wacana tersebut dan kembali untuk mewacanakannya dengan ideologi yang baru. Stuart Hall, dalam encoding dan decoding, memetakkan dua proses resepsi masyarakat terhadap sebuah wacana atau pesan-pesan ideologis yang terkandung di dalam wacana. a) conform, yaitu sebuah sikap penerimaan pesan yang dilakukan oleh masyarakat secara taken for granted. Artinya masyarakat tidak lagi berpikir tentang pesan tersebut yang penting dia mengikuti dan menerima apa adanya. Masyarakat ketika menerima wacana agresi Israel, baik dari media elektronik maupun media cetak, tidak melakukan proses berpikir mendalam, melainkan langsung mengklaim,dan berasumsi bahwa Israel telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi, karena agresi Israel banyak memakan korban. Sehingga, asumsi tersebut mengendap dalam memori dan mebuahkan kebencian terhadap Israel. b) opposited, yaitu sebuah penerimaan dan penggunaan pesan yang dilakukan untuk melakukan perlawanan terhadap pesan tersebut. Model ini kerapkali dilakukan oleh para elit, tokoh agama, kolompok keagamaan, yang memiliki kepentingan, dan bertentangan dengan wacana agresi tersebut.

Bentuk perlawanan ini, sangat bercorak ideologis dan kerapkali membawa citra citra agama,dengan imbauan imbauan emosi(emotional appeal). Model ini akan melahirkan tafsir ideologis. Misalnya bahasa jihad, untuk menjebak emosi masyarakat membenci Israel, dan tergugah untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Sehingga, berangkat dari tafsir kebencian inilah, banyak, SMS yang masuk pada penulis, baik dari kelompok keagamaan fundamentalis,bahkan akdemisi, dan ormas ormas islam yang lain, untuk mengintruksikan membaca qunut nazilah dengan harapan Allah memberikan kehinaan kepada Israel laknatullah alaih

. Berdasar pada model resepsi wacana agresi Israel yang terjadi saat ini, penulis berasumsi bahwa, wacana agresi Israel yang kembali diwacanakan oleh pelbagai umat muslim dan kelompok keagamaan yang berbasis kebencian, tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah dengan memperbanyak jumlah korban yang akan terjadi pada mujahid mujahid baru. Di sisi lain, sikap yang berdasar asumsi dan tafsir kebencian, akan membentuk bangunan emosi yang justru akan melahirkan agresi agresi baru dan berkelanjutan. Dikatakan demikian, karena agresi muncul dari luapan libido,yang kemudian didorong dan dikompori oleh realitas di luar dirinya,termasuk yang berupa citra-citra ideologis.

Untuk itu, harapan saya, hindari tafsir kebencian,dan tafsir ideologis, terhadap Israel, berikan dukungan moral terhadap kedua kontestan tersebut antara Israel dan Palestina, agar proses pertentangan tersebut bisa segera diselesaikan. Dikatakan demikan, karena penulis yakin bahwa antara Israel dan Palestina sama sama memiliki tujuan prioritas yaitu cinta akan nilai-nilai kemanusiaan. Akhir kata, bacalah sholawat agar syafaat rasul mengalir pada Israel dan Palestina,sehingga diberikan cahaya-cahaya kemanusiaan, dan kelembutan hati dan sikap,dalam menyelesaikan konflik yang semakin menggurita.

Daftar Pustaka

Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. 2007. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Baron, A. Robert dan Byrne. Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 1. 2003. Jakarta: Erlangga.

Rijal, Syamsul. Studi Filsafat Umum, dkk. Fakultas Usluhuddin, Institut Negeri Ar-Raniry: Banda Aceh

Soetardjo, Alfin Fadila Helmi. Jurnal dan Artikel Beberapa Perspektif Perilaku Agresif.

http://www.google.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: