pelita.anak.amaine

Metode Belajar Student Learning Centre

Posted on: April 8, 2010

Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan / menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat siswa belajar. Bukan sebagai tokoh sentral dengan menghabiskan 80% waktunya digunakan untuk transfer ilmu secara konvensional yang masih mewarnai  LPT di Indonesia.

Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Banyak inovasi pendidikan yang dikembangkan, SPICES diantaranya, Student-centered Learning, Problem Based, Integrated Curriculum, Community Oriented, Elective Program dan Systematic. SPICES merupakan elemen yang sangat penting dan pelaksanaannya memerlukan kontribusi yang arif dari semua pihak yang terkait di dalam proses pendidikan.

Usaha yang biasa ditempuh, dengan mengubah paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Siswa memperoleh kesempatan membangun sendiri pengetahuannya sehingga akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning) dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu siswa.

Penerapan SLC (Student Center Learning) dapat dimulai dengan penetapan atau pengubahan tujuan pembelajaran, siswa mengintergrasikan hal yang baru di dapat, dengan pengetahuan yang telah dimiliki, dapat terjadi pada diri individu siswa maupun sebagai makhluk sosial, pengalaman sendiri maupun pengalaman dari orang lain dan melakukan interaksi sosial yang kolaboratif dalam proses pembelajaran.

Transformasi peranan guru sebagai fasilitator, bukan sebagai sumber pengetahuan yang dijadikan pusat kegiatan pembelajaran dari suatu mata pelajaran, Guru menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru sebagai indikator, konsultan (penasihat), encourage (pendorong semangat), observer dan evaluator (penilai dan peninjau aktivitas siswa).

Hal yang perlu diperhatikan guru dalam kontribusinya dalam SLC, dalam pengartian sumber belajar, diantaranya, bagaimana sumber belajar dimanfaatkan oleh siswa maupun mahasiswa sebagai teknologi dan mesin, tutor, pengubah perilaku, pemotivasi belajar, sebagai alat berpikir dan memecahkan masalah.

Guru juga harus memahami prinsip psikologis dalam pembelajaran berpusat pada siswa, agar memahami prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ada 5 faktor yang penting, diantaranya. (a) Faktor Metakognitif dan kognitif yang menggambarkan bagaimana siswa berpikir dan mengingat serta penggambaran faktor yang terlibat dalam proses pembentukan makna informasi dan pengalaman.  (b) Faktor Afektif yang menggambarkan keyakinan, emosi dan motivasi mempengaruhi cara siswa menerima situasi pembelajaran, seberapa banyak siswa belajar, dan usaha yang dilakukan untuk mengikuti pembelajaran. Kondisi emosi, keyakinan tentang kompetensi pribadi, harapan terhadap kesuksesan, minat pribadi dan tujuan belajar, semua itu mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar.  (c) Faktor Perkembangan yang menggambarkan bahwa kondisi fisik, intelektual, emosioanal dan sosial dipengaruhi oleh genetik yang unik dan faktor lingkungan.  (d) Faktor Pribadi dan sosial yang menggambarkan bagaimana orang lain berperan dalam proses pembelajaran dan cara orang belajar dalam kelompok. Prinsip ini mencerminkan bagaiman aseseorang saling belajar dan dapat saling mendorong dan saling berbagi perspektif individual. (e) Faktor Perbedaan Individual yang menggambarkan bagaimana latar belakang individu yang unik dan kapasitas masing – masing berpengaruh dalam pembelajaran. Prinsip ini membantu menjelaskan megapa individu mempelajari sesuatu yang berbeda, dan dengan cara yang berbeda pula.

Guru yang sudah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung menciptakan suasana kelas yang hangat, mendukung, sehingga siswa menyukai guru. Siswa diminta mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat yang berguna untuk mengembangkan ketrampilan hidup siswa. Guru meminta siswa mengerjakan hal yang terbaik yang mereka dapat lakukan, guru memberi kepedulian, sehingga mengetahui pekerjaan itu akan dievaluasi dan ditingkatkan kualitasnya

Dalam SLC juga, pengubahan paradigma  manfaat dari suatu sumber belajar harus dilakukan. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika ada interaksi antara siswa dengan sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). Seperti buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT), maupun sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization). Seperti pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain.  Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat melalui multi-metode dan multi-media.

Peranan penting sumber belajar itu diantaranya, menjadi fondasi dasar dalam pembelajaran lebih lanjut, untuk mengejar perubahan, mempercepat laju belajar, memberi kesempatan pemelajar untuk belajar sesuai dengan kemampuannya, sarana mengembangkan ketrampilan belajar dan membangun kemampuan asesmen atas tingkat pemahaman (meta cognitive skills) dari proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai, penguasaan atas tujuan suatu mata pelajaran sejauh mana, mencakup juga kemampuan soft skill (karya tulis dan portofolio).

Materi dan model penyampaian pembelajaran dalam SCL secara lengkap meliputi 3 aspek, yaitu (a) isi ilmu pengetahuan (IPTEK), (b) sikap mental dan etika yang dikembangkan, dan (c) nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada para mahasiswa. Di dalam proses SCL terdapat hubungan “tarik-menarik” antara learner support dan learner control. Hubungan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Adapun metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan SLC meliputi : 1) Metode kerja kelompok yaitu dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama. 2) Metode karya wisata (study tour) siswa dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat – tempat tertentu dengan maksud mempelajari obyek belajar yang terjadi ditempat itu. 3) Metode penemuan (discovery learning) mementingkan pembelajaran perseorangan, manipulasi obyek, melakukan percobaan, sebelum sampai ke generalisasi. Mengutamakan cara belajar siswa aktif (CBSA). 4) Metode eksperimen penyajian bahan pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu pertanyaan atau hipotesis yang dipelajari. 5) Metode pengajaran unit pembelajaran dimana siswa dan guru mengarahkan segala kegiatannya pada suatu pemecahan masalah yang dipelajari. 6) Metode pengajaran dengan modul pembelajaran yang membicarakan satu satuan konsep tungggal mata pelajaran, merupakan salah satu bentuk dari bentuk – bentuk belajar mandiri.

Metode lain yang menuntut partisipasi aktif siswa (a) Berbagi Informasi dengan bertukar gagasan atau ide, saling kooperatif, melakukan kolaborasi, membentuk diskusi kelompok, diskusi panel, mengikuti simposium dan seminar. (b) Belajar dari pengalaman dengan cara simulasi, bermain peran, permainan, dan melakukan kelompok temu, (c) Pembelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara studi kasus, tutorial dan lokakarya.

Tetapi, diskusi yang dikelola dengan landasan pembelajaran berpusat pada siswa ternyata juga memiliki kelemahan, karena jalannya diskusi yang lebih sering didominasi oleh siswa partisipan yang pandai, topik diskusi sering menyimpang dari pembahasan masalah, sehingga pertukaran pikiran menjadi asal-asalan dan bertele-tele, diskusi juga biasanya banyak memboroskan waktu, sehingga tidak sejalan dengan prinsip efisiensi.

Model SCL yang sudah berkembang, diantaranya PBL (Problem Based Learning), CTL menggunakan metode inquery terbimbing dan metode Drill and Practice, Cooperative Learning, diantaranya STAD, Jigsaw (model tim ahli), TGT (Team Games Tournament), dan model TAI, yang terdiiri dari komponen kelompok, tes, materi, kelompok belajar, penilaian dan pengakuan tim, mengajar kelompok dan lembar kerja.

Di Indonesia, salah satu universitas terkemuka seperti UGM, telah menerapkan kegiatan SLC sebagai Renstra (Rencana Strategis) tahun 2002-2007, dan terealisasi tahun 2004, impelementasinya ada yang bersifat individual (dosen), kelompok (teaching team), dan institusional (Jurusan, Fakultas). Adapun tahap sosialisasi erangkum dalam kegiatan pelatihan, yaitu pelatihan Student Assesment sebagai integral dari SCL, pelatihan Tutorial pelaksanaan monitoring, dan evaluasi proses.

Salah satu spesifikasi model dan pengembangan dari SLC, yaitu PBL, Problem Based Learning, metode belajar yang berbasis masalah, kasus atau masalah sebagai pemicu mendorong proses belajar dan mengintegrasikan hal baru. dalam PBL, masalah yang diberikan, yaitu masalah yang dihadapi saat menjalankan profesi. Sehingga dapat dijadikan aspek penguatan relevansi terhadap kebutuhan mahasiswa kelak. Unsyiah juga sudah menerapkan PBL di Fakultas Kedokteran pada program studi Pendidikan Dokter, Kedokteran Gigi dan akan menyusul juga di prodi Psikologi.

Banyak model lain dari pengembangan dari SLC, contoh lain, Modifikasi Metode Kooperatif (salah satu dari anggota yang dianggap mampu dapat membantu kelompoknya hingga berhasil), Student Team Achevment Divisions (STAD) dan Team Assisted Individualization (TAI) dengan memperhatikan Emotional Quotient Siswa dalam praktikum, dan melihat keberhasilan metode tersebut dari prestasi belajar pada materi pokok penuntasan. STAD cocok digunakan dalam materi perhitungan yang perlu pemahaman konsep yang berhubungan dengan materi sebelumnya. Metode TAI, pembelajaran secara kelompok dimana siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten dan membantu secara individual siswa yang kurang mampu dalam kelompok. Sehingga memotivasi para siswa untuk saling membantu. EQ di kedua metode ini berperan dalam pencapaian prestasi. Karena tingkat EQ yang berbeda pada tiap siswa.

Fakta penerapan SLC di lapangan (Dikutip dari Sitepu (2008:14) menemukan bahwa, pemanfaatan aneka sumber belajar di sekolah masih belum sesuai harapan. Walau pendidik mengaku mengetahui konsep belajar yang menuntut penggunaan berbagai sumber belajar, proses pembelajaran masih berpusat pada pendidik.

Hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi hambatan penerapan SLC diperlukan kearifan dari para penentu kebijakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah modus norma dan modus operasional, norma ekstrinsik dan intrinsik, sumber daya manusia (mahasiswa, dosen, pegawai non-dosen), keanekaragaman sikap mental dan etika profesi, serta kebersamaan dalam keyakinan, kebanggaan, semangat, gairah, dan komitmen. Untuk meminimalisasi kendala implementasi inovasi maka strategi inovasi dan manajemen di LPT harus berpegangan pada konsep harmonizing reality and idealism. Konsep ini dapat dijabarkan sebagai kombinasi strategi top-down, bottom-up, dan inside-out selama proses difusi untuk mencapai koherensi, kolegialitas dan kepemilikan.

Kesimpulan, SCL merupakan salah satu pembelajaran yang lebih menekankan pada siswanya.Disini siswa dituntut untuk aktif dan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Metode yang lazim digunakan, metode kerja kelompok, karya wisata, penemuan, eksperimen, pengajaran unit, dan pengajaran dengan modul. Metode lain yang menuntut partisipasi aktif siswa, information sharing, simulation, role playing, focus group discussion, case study, tutorial dan lokakarya. Ada 5 faktor psikologis perlu diperhatikan guru, diantaranya. (a) Faktor Metakognitif dan kognitif. (b) Faktor Afektif (c) Faktor Perkembangan (d) Faktor Pribadi dan Sosial (e) Faktor Perbedaan Individual. Guru yang sudah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung menciptakan suasana kelas yang mendukung, siswa diminta mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat, guru meminta siswa mengerjakan hal yang terbaik yang mereka dapat lakukan. Sumber belajar dalam SLC ada 2 menurut asalnya, dirancang (learning resources by design) dan sumber belajar yang sudah tersedia. Peranan penting sumber belajar itu diantaranya, menjadi fondasi dasar dalam pembelajaran lebih lanjut, sarana mengembangkan ketrampilan belajar dan membangun kemampuan, penguasaan atas tujuan suatu mata pelajaran sejauh mana, mencakup juga kemampuan soft skill. 3 aspek penyampaian SLC, (a) isi ilmu pengetahuan (IPTEK), (b) sikap mental dan etika yang dikembangkan, dan (c) nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada para mahasiswa. Di dalam proses SCL terdapat hubungan “tarik-menarik” antara learner support dan learner control.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • pelitanakamaine: berbagi aja ni :) tugas di kuliahan syp tau ad yg perlu mdh2n berguna
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Categories

Archives

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: