pelita.anak.amaine

Psikofarmakologi Exercise

Posted on: April 8, 2010

1. Jelaskan tentang farmakokinetik (absorbsi, distribusi, biotransformasi (metabolisme) dan ekskresi)) !

Penjelasan:

Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari proses yang dilalui obat atau tahapan perjalanan obat di dalam tubuh.

Farmakokinetik dalam arti luas membahas tentang perubahan – perubahan sepanjang waktu jumlah obat dan metabolit yang tinggal di dalam berbagai komponen tubuh.

Meliputi tahap, absorbsi, distribusi, biotransformasi(metabolisme) dan ekskresi obat (eliminasi), baik pada manusia atau hewan.

Tujuannya meramalkan efek perubahan-perubahan dalam takaran, rejimen takaran, rute pemberian, dan keadaan fisiologis pada penimbunan dan disposisi obat.

2 pokok parameter farmakokinetik:

1. Bersihan (clearance)

Bersihan (clearance) yaitu ukuran kemampuan tubuh untuk menghilangkan obat (eliminasi). Terbagi:

a) Eliminasi dengan kapasitas terbatas (Capacity Limited Elimination)

Obat yang menunjukkan eliminasi dengan kemampuan terbatas. Bersihan bervariasi tergantung konsentrasi obat yang dicapai.

Misalnya: fenitoin, etanol.

b) Eliminasi tergantung aliran darah (Flow Dependent Elimination)

Eliminasi obat tergantung besarnya aliran darah yang masuk ke organ eliminasi, obatnya disebut high extraction(seluruhnya dihilangkan dari darah oleh organ eliminasi).

2. volum distribusi

Volum distribusi adalah ukuran dari ruangan dalam tubuh yang tersedia untuk diisi obat.

Efek obat menurut perjalanan waktu

1) efek segera (immediate effects)

Umunya efek obat berhubungan langsung dengan konsentrasi plasma. Obat yang memiliki waktu paruh pendek dapat diberikan satu kali sehari saja dan masih dapat mempertahankan efeknya selama satu hari.

2) efek lambat (delayed effect)

Efek obat yang tertunda lebih lama khususnya obat yang memerlukan waktu beberapa jam atau beberapa hari sebelum efek terlihat karena pembalikan yang lambat daripada suatu subtansi fisiologik yang diperlukan untuk ekspresi efek obat tersebut.

3) efek kumulatif

Toksinitas ginjal dari antibiotik aminoglikosida lebih besar dibandingkan dengan dosis intermiten.

Tahap Farkamakonitik

1. Absorbsi Obat

Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian ke dalam aliran darah, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses, pemberian obat harus mencapai bioavaibilitas yang menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik, karena beberapa jenis obat dimetabolisme oleh enzim didinding usus pada pemberian oral atau dihati pada lintasan pertamanya. Ada beberapa obat yang berikatan kuat dengan protein sehingga menunda lewatnya ke jaringan sekitarnya.

Faktor terkait-pasien yang mempengaruhi absorbsi obat

a. Faktor Biologis:

  • pH saluran cerna,
  • sekresi cairan lambung,
  • gerakan saluran cerna (gerakan peristaltik dari duodenum),
  • waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus,
  • serta aliran (perfusi) darah dan banyaknya pembuluh darah pada tempat absorpsi.
  1. Faktor fisiologik lain
  • Umur,
  • Makanan,
  • Adanya interaksi obat dengan senyawa lain,
  • Adanya penyakit tertentu,
  • Adanya pori – pori,
  • Jumlah luas permukaan absorbsi, karena banyaknya vili dan mikrovili yang ada di daerah duodenum dan usus halus, maka usus mempunyai luas permukaan kira-kira 1000 kali luas permukaan lambung, sehingga absorbsi obat melalui usus lebih efisien, dan sifat kapiler membran sel juga mempengaruhi.

Bioavailabilitas suatu obat mempengaruhi daya terapetik, aktivitas klinik, dan aktivitas toksik obat.

Efek biovaliabilitas obat dipengaruhi oleh:

  1. kuantitatif,
  2. data kinetika obat,
  3. hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh dengan intensitas efek yang ditimbulkannya,
  4. daerah kerja efektif obat (therapeutic window) dapat ditentukan

Kecepatan dan efisiensi absorbsi tergantung pada cara pemberian.

Faktor-faktor terkait-obat yang mempengaruhi absorbsi, melalui transpor obat dari saluran cerna:

a. Bentuk sediaan

Secara tidak langsung mempengaruhi intensitas respon biologis obat.

b. Sifat Kimia dan Fisika Obat

  • Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi kekuatan dan proses absorpsi obat.
  • Bentuk kristal atau polimorfi.
  • Kelarutan dalam lemak atau air,
  • Derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi.
  • Absorpsi lebih mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.

c. Sifat fisiokimia obat

  • Ukuran partikel,
  • Luas permukaan efektif obat,
  • Bentuk geometrik,
  • Bentuk kima obat, yaitu garam, asam, atau basa, serta bentuk anhidrous,
  • Polimorf obat,
  • Konstanta disasosiasi,
  • Kelarutan (lipofilisitas),
  • Stabilitas obat,
  • Keadaan ionisasi,
  • Berat molekul,
  • Formulasi (larutan atau tablet).
  • Obat – obatan yang kecil, tak terionisasi, larut dalam lemak menembus membran plasma paling mudah.

Kerugian pemberian melalui oral adalah ada obat yang dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien koma.

Adapun faktor- faktor yang dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat pada pemberian oral, antara lain :

a. Faktor Obat

  • Sifat- sifat fisikokimia seperti stabilitas pH lambung, stabilitas terhadap enzim pencernaan serta stabilitas terhadap flora usus.
  • Formulasi obat seperti keadaan fisik obat baik ukuran partikel maupun bentuk kristsl/ bubuk dll.

b. Faktor Penderita

  • pH saluran cerna
  • Fungsi empedu
  • Kecepatan pengosongan lambung dari mulai motilitas usus
  • Adanya sisa makanan
  • Bentuk tubuh
  • Aktivitas fisik sampai
  • Stress yang dialami pasien.
  • Perubahan perfusi saluran cerna
  • Adanya gangguan pada fungsi normal mukosa usus

Untuk intravena, absorbsi sempurna yaitu dosis total obat seluruhnya mencapai sirkulasi sistemik (biovaliabilitas).

Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus halus pada pemberian oral atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ tersebut (Metabolisme/eliminasi lintas pertama/eliminasi parasistemik). Eliminasi lintas pertama dapat dihindari dengan cara pemberian parenteral, seublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan.

Keuntungan pemberian intravena (IV):

Tidak mengalami absorpsi tetapi langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara capat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita.

Kerugiannya adalah mudah tercapai efek toksik karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, dan obat tidak dapat ditarik kembali.

Keuntungan pemberian obat secara parenteral, yaitu:

(1) efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral;

(2) dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah;

(3) sangat berguna dalam keadaan darurat.

Kerugiannya antara lain dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, sulit dilakukan oleh pasien sendiri, dan kurang ekonomis.

Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama.

Injeksi intramuskular (IM) atau suntikkan melalui otot, kecepatan dan kelengkapan absorpsinya dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air. Absorpsi lebih cepat terjadi di deltoid atau vastus lateralis daripada di gluteus maksimus.

Injeksi intraperitoneal atau injeksi pada rongga perut tidak dilakukan untuk manusia karena ada bahaya infeksi dan adesi yang terlalu besar.

Pemberian secara injeksi intravena menghasilkan efek yang tercepat, karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Efek lebih lambat diperoleh dengan injeksi intramuskular, dan lebih lambat lagi dengan injeksi subkutan karena obat harus melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah.

Transpor obat dari saluran cerna

1. Difusi pasif

Tenaga penggerak difusi pasif dari suatu obat adalah perbedaan konsentrasi yang melewati suatu membran yang memisahkan dua kompartemen tubuh, obat bergerak dari konsentrasi tinggi, ke konsetrasi rendah.

Tidak melibatkan suatu karier, karena tidak ada titik jenuh, dan kurang menunjukkan spesifikasi struktural.

Sebagian besar obat masuk ke dalam tubuh dengan mekanisme seperti ini.

Obat yang larut dalam lemak mudah bergerak menembus kebanyakan membran biologi, sedangkan obat yamg larut dalam air menembus membran sel melalui saluran aqua.

2. Difusi/transpor Aktif

Cara masuk obat ini melibatkan protein karier terutama yang terentang pada membran sel.

Sejumlah kecil obat yang strukturnya mirip, di transpor secara aktif melewati membran sel.

Transpor aktif tergantung energi dan dijalankan oleh hidrolisis adenosin trifosfat, yang mampu melawan concentration-gradient, yaitu dari bagian konsentrasi rendah, ke konsentrasi lebih tinggi, yang menunjukkan proses titik jenuh suatu kecepatan maksimum pada kadar substrat yang tinggi ketika ikatan enzim tersebut sudah  maksimal.

3. Kanal Aqueus(Aqueus Channel)

Obat – obat hidrolifik kecil (<200 mw) berdifusi sesuai gradien konsentrasi melalui kanal-kanal aqueus(pori-pori).

4. Difusi Fasilitasi

Obat terikat dengan pembawa melalui mekanisme nonkovalen.

Obat – obat yang secara kimiawi bersaing mengikat pembawa.

Ketersediaan hayati

Ketersediaan hayati adalah fraksi obat yang diberikan mencapai sirkulasi sistemik dalam suatu bentuk yang secara kimiawi berubah.

Misalnya, jika 100 mg obat diberikan per oral dan 70 mg dari obat ini diabsorbsi dalam bentuk tidak berubah, maka ketersediaan hayatinya 70%.

Faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati:

1. metabolisme first pass pada hati,

2. kelarutan obat,

3. tidak stabil secara kimiawi,

4. sifat formulasi obat.

Bioekuivalen: menunjukkan ketersedian hayati yang sebanding dan mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam waktu yang sama.

Bio-inkuvalen: dua obat terkait dengan perbedaan ketersediaan hayati yang signifikan.

Ekuivalen terapeutik: dua obat yang sama mempunyai efikasi dan keamanan yang sebanding (efektivitas klinis sering tergantung pada konsentrasi maksimum obat dalam serum dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai konsentrasi puncak setelah pemberian obat tersebut, oleh karena itu, dua obat yang bioekuivalen bisa juga tidak ekuivalen secara terapeutik).

B. Distribusi Obat

Setelah diabsorpsi obat akan didistribusi secara reversible keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah dan masuk ke intersitium (cairan ekstrasel) dan sel – sel jaringan, karena selain tergantung dari aliran darah, permeabilitas kapiler, derajat ikatan obat tersebut dengan protein plasma atau jaringan, dan hidrofobisitas.

Distribusi obat dapat dibedakan menjadi 2 fase berdasarkan penyebaran didalam tubuh, yaitu :

1. Distribusi fase pertama

Terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik, seperti jantung, hati, ginjal dan otak.

2. Distribusi fase kedua

Mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ pada fase pertama, misalnya pada otot, visera, kulit dan jaringan lemak.

Faktor yang mempengaruhi distribusi obat:

1. Aliran darah

Kecepatan kapiler jaringan sangat bervariasi, akibat distribusi output jantung yang tidak sama ke berbagai organ. Aliran darah ke otak, hati dan ginjal lebih besar daripada aliran ke otot rangka, jaringan adiposa tetap aliran darahnya lebih sedikit.

2. Permeabilitas Kapiler

a) struktur kapiler

Struktur kapiler bersifat kontinu dan tidak ada celah sempit antara sel – sel endhotel. Berlawanan dengan hati dan limpa, bagian besar dari membrane basalis terlihat disebabkan oleh kapiler yang terputus – putus dan protein plasma yang besar dapat melewati celah tersebut.

Sawar darah otak (blood-brain barrier): untuk masuk ke otak, obat harus melewati sel endhotel kapiler sistem saraf pusat (CNS) atau di transport secara aktif.

Obat yang larut dalam lipid mempenetrasi ke dalam SSP, karena dapat melarut dalam membran dari sel endhotel, obat – obat yang terionisasi atau yang polar umumnya tidak dapat masuk ke otak, yang tidak memiliki celah sempit. Sel – sel endhotel kapiler di otak yang tersusun rapat ini membentuk sawar darah otak.

b) Struktur obat

Sifat kimia obat sangat mempengaruhi kemampuannya untuk menembus membran sel.

Obat hidrofobik punya distribusi electron uniform dan tidak bermuatan mudah bergerak melewati kebanyakan membrane biologik. Obat dapat larut dalam membrane lipid dan karena itu menembus permukaan sel.

Obat hidrolifik yang punya distribusi electron non-uniform atau muatan positif atau negatif tidak mudah menembus membran sel dan harus pergi melalui celah sempit.

3. Pengikatan Obat – obat Pada Protein

Albumin plasma adalah protein pengikat obat yang utama dan bisa bertindak sebagai reservoir obat, misalnya ketika konsentrasi obat bebas berkurang disebabkan eliminasi oleh metabolisme atau ekskresi obat terikat akan berdiasosiasi dari pritein tersebut. Ini mempertahankan konsentrasi obat bebas sebagai suatu fraksi tetap dari seluruh obat di dalam plasma.

4. Depot penyimpanan

obat-obatan lipofilik, seperti tiopental yang bersifat sedatif, berakumulasi dalam lemak. Obat ini dibebaskan secara perlahan dari penyimpanan lemak. Jadi, orang gemuk dapat sedasi lebih lama dari pada orang kurus yang diberikan dosis tipental yang sama.

Obat pengikat kalsium, seperti antibiotik tetrasiklin, berakumulasi dalam tulang dan gigi.

C. Biotransformasi (metabolisme) Obat

Biotransformasi atau lebih dikenal dengan metabolisme obat, adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim.

Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar atau lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak, sehigga lebih mudah diekskresi melalui ginjal.

Hati adalah tempat metabolisme obat, tetapi obat tertentu bisa mengalami biotransformasi di dalam jaringan lain (beberapa obat diberikan dalam bentuk senyawa tidak aktif (pro-drug) dan harus dimetabolisme menjadi senyawa aktifnya).

Kinetik dari metabolisme terbagi 2:

1. Kinetik First-Order

Sebagian besar transformasi obat di katalisis oleh enzim.

Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dibedakan berdasar letak dalam sel, yaitu Enzim Mikrosom terdapat dalam reticulum endoplasma halus dan Enzim Non Mikrosom.

Kedua Enzim Mikrosom dan Enzim Non Mikrosom, aktifitasnya ditentukan oleh faktor genetik, sehingga kecepatan metabolisme obat antar individu bervariasi.

2. Kinetik zero-order

Enzim mengalami kejenuhan oleh suatu konsentrasi obat bebas yang tinggi dan kecepatan metabolisme tetap konstan sepanjang waktu.

Reaksi Metabolisme Obat: ginjal tidak dapat mengeliminasi obat yang lipofilik karena obat tersebut menembus membran sel dan diabsorbsi kembali dalam tubulus distal. Obat yang larut dalam lipid pertama-tama harus di metabolisme dalam hati yang menggunakan dua set reaksi, disebut fase I dan fase II.

Reaksi metabolik dapat mengubah: obat yang aktig menjadi kurang aktif atau tidak aktif, dan prodrug.

D. Ekskresi Obat

Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar lebih cepat diekskresi daripada obat larut lemak, kecuali yang melalui paru.

Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting dan ekskresi disini resultante dari 3 proses:

1. Filtrasi di glomerulus

Semua zat yang lebih kecil dari albumin melalui celah antarsel endotelnya sehingga semua obat yang tidak terikat protein plasma mengalami filtrasi.

2. Sekresi aktif di tubuli proksimal

Asam dan basa organik, disekresi aktif melalui sistem transport.

Asam organik seperti: penisilin, probenesid, salisilat, konyugat, glukeronid, dan asam urat.

Basa organik seperti: neostigmin, kolin, histamine.

Untuk zat-zat endogen seperti asam urat, sistem transportnya berlangsung dua arah, sekresi dan reabsorbsi).

3. Reabsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal

Untuk membentuk ion-ion, untuk obat elektrolit lemah, proses reabsorbsi bergantung pH lumen tubuli yang menentukan derajat ionisasi.

Mekanisme ekskresi obat rentan terhadap gangguan dalam ginjal seperti:

  • toksin
  • obat-obat lain
  • keadaan penyakit
  • terjadinya toksisitas yang diinduksi oleh zat – zat kimia.

Ekskresi obat juga terjadi melalui:

  • keringat,
  • liur (dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu),
  • air mata,
  • air susu, dan
  • rambut (dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik).

Aplikasi Farmakokinetika:

1. Bidang farmakologi

Farmakokinetika dapat  menerangkan mekanisme kerja suatu obat dalam tubuh, khususnya untuk mengetahui senyawa yang mana yang sebenarnya bekerja dalam tubuh; apakah senyawa asalnya, metabolitnya atau kedua-duanya. Data kinetika obat dalam tubuh sangat penting untuk menentukan hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh dengan intensitas efek yang ditimbulkannya. Dengan demikian daerah kerja efektif obat (therapeutic window) dapat ditentukan.

2. Bidang farmasi klinik

a)       Untuk memilih route pemberian obat yang paling tepat.

b)       Dengan cara identifikasi farmakokinetika dapat dihitung aturan dosis yang tepat untuk setiap individu (dosage regimen individualization).

c)       Data farmakokiketika suatu obat diperlukan dalam penyusunan aturan dosis yang rasional.

d)       Dapat membantu menerangkan mekanisme interaksi obat, baik antara obat dengan obat maupun antara obat dengan makanan atau minuman.

3. Bidang toksikologi

Farmakokinetika dapat membantu menemukan sebab-sebab terjadinya efek toksik dari pemakaian suatu obat.

2. Jelaskan tentang Farmakodinamik !

Jawaban:

Pengertian Farmakodinamik

Farmakodinamik adalah cabang ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya.

Tujuan mempelajari, meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spectrum efek dan respon yang terjadi.

Mekanisme kerja obat, efek obat timbul karena interaksi obat dengan respetor pada suatu sel organisme, yang mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respon khas untuk obat tersebut.

Obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh.

Obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada.

Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai ligan endogen (hormon, neurotransmiter). Subtansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tudak punya aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis disebut antagonis. Contoh obat/zat agonis kuat: morfin, meperidin, fentanil, heroin. Agonis sedang: propoksifen, kodein. Campuran agonis-antagonis: pentasozin, buprenorfin. Agonis: nalokson dan naltrekson.

Reseptor obat

1. konsep reseptor

a) reseptor lebih menentukan hubungan kuantitatif antara dosis atau konsentrasi obat dan efek-efek farmakologi,

b) reseptor bertanggung jawab terhadap selektivitas kerja obat,

c) reseptor merupakan tempat kerja antagonis farmakologik.

2. Fungsi reseptor obat menurut urutan kekompleksannya

a) Fungsinya sebagai faktor penentu (determinasi) terhadap hubungan kuantitatif antara konsentrasi obat dan respon farmakologik,

b) fungsinya sebagai protein regulator dan chemical signaling mechanism, yang memberikan target untuk obat-obat penting,

c) fungsi sebagai elemen utama dalam terapeutik dan efek toksik obat pada penderita.

3. Sifat kimia

Komponen yang paling penting dalam reseptor obat ialah protein (mis: asetilkolinestrase, Na+, K + -ATPase, tubulin). Asam nukleat merupakan reseptor obat yang penting, misalnya untuk sitostatika.

4. Hubungan struktur-aktivitas

Perubahan dalam molekul obat, misal: sitostatika, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru.

Transmisi Sinyal Biologis: Proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler  fisiologis yang spesifik.

Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah  katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.

Interaksi Obat-Reseptor: Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah  (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan kovalen.

Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor : Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke komponen sel.

3. Jelaskan tentang penyalahgunaan obat (drug abuse), dan penanganannya!

Penjelasan:

Definisi penyalahgunaan obat

Di Amerika Serikat, istilah medis drug abuse (penyalahgunaan obat) diartikan sebagai penyelewengan fungsi dan maladaptasi, bukan ketergantungan yang disebabkan oleh penggunaan obat.

Dalam bahasa sehari-hari, penyalahgunaan obat (drug abuse) sering diartikan sebagai penggunaan obat ilegal untuk coba-coba dan untuk kesenangan penggunaan obat-obatan resmi untuk mengatasi masalah atau gejala tanpa resep dari dokter,dan penggunaan obat yang berakibat ketergantungan.

Penyalahgunaan zat atau bahan lainnya (NAPZA) yaitu penggunaan zat/obat yang dapat menyebabkan ketergantungan dan efek non-terapeutik atau non-medis pada individu sendiri sehingga menimbulkan masalah pada kesehatan fisik / mental, atau kesejahteraan orang lain. NAPZA adalah bahan/zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan /psikologi seseorang (pikiran,perasaan, perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.  Intoksikasi obat adalah perubahan fungsi-fungsi fisiologis, psikologis, emosi, kecerdasan, dan lain-lain akibat penggunaan dosis obat yang berlebihan.

Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu pola penggunaan yang bersifat patologis, yang menyebabkan remaja mengalami sakit yang cukup berat dan berbagai macam kesulitan, tetapi tidak mampu menghentikannya. Ketergantungan zat adiktif adalah suatu kondisi cukup berat ditandai dengan adanya ketergantungn fisik yaitu toleransi dan sindroma putus zat.

Gangguan penggunaan zat adiktif adalah suatu penyimpangan perilaku yang disebabkan oleh penggunaan zat adiktif yang bekerja pada susunan saraf pusat yang mempengaruhi tingkah laku, memori alam perasaan, proses pikir anak dan remaja sehingga mengganggu fungsi social dan pendidikannya. Gangguan penggunaan zat ini terdiri dari : penyalahgunaan dan ketergantungan zat.

Klasifikasi Zat yang disalahgunakan

Klasifikasi Zat yang disalahgunakan dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :

  1. Narkotik

Menurut UU RI No 22 / 1997 yang disebut narkotika adalah: Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan

  • Golongan I : Heroin / putauw, ganja atau kanabis,       marijuana, kokain
    • Golongan II : Morfin, petidin
    • Golongan III : Kodein
  1. Psikotropika

Psikotropika adalah merupakan suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Menurut UU RI No 5 / 1997 adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada SSP yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

  • Golongan I : Ektasi
  • Golongan II : Amfetamin, metilfenidat atau ritalin
  • Golongan III : Fentobarbital, flunitrazepam
  • Golongan IV : Diazepam, klordiazepoxide, nitrazepam ( pil BK, pil koplo)

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindromaketergantungan digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Psikotropika golongan I : yaitu psikotropika yang tidak digunakan untuk tujuan pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat
2. Psikotropika golongan II : yaitu psikotropika yang berkhasiat terapi tetapi dapat menimbulkan ketergantungan.

3. Psikotropika golongan III : yaitu psikotropika dengan efek ketergantungannya sedang dari kelompok hipnotik sedatif.

4. Psikotropika golongan IV : yaitu psikotropika yang efek ketergantungannya ringan.

  1. Zat adiktif

Bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika.

  • Minuman beralkohol
  • Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap
    • Tembakau/rokok

Proses terjadinya ketergantungan obat

  • Proses ini dipengaruhi oleh zat kimia yang terkandung dalam obat, efek obat,
  • Kepribadian pengguna obat dan kondisi lainnya, seperti faktor keturunan dan tekanan sosial.
  • Perkembangan dari pemakaian coba-coba menjadi penggunaan yang sekali-sekali dan kemudian menjadi toleransi dan ketergantungan

Faktor Risiko Penyebab Penyalahgunaan Zat

Beberapa faktor yang menyebabkan penyalahgunaan zat di kalangan remaja antara lain:

1. Faktor risiko genetik

Apabila orang tua atau saudara kembar laki-laki pengguna obat terlarang,

2. Faktor kepribadian dan perilaku

Beberapa keadaan psikopatologik misalnya ansietas, perilaku menyimpang, kepribadian antisosial, gangguan afektif atau attention deficit  disorders/hyperactivity telah diketahui merupakan faktor risiko. Penyandang kelainan ini seringkali menggunakan obat untuk mengurangi gejala psikiatrik (self medication hypothesis). Kurangnya rasa percaya diri dan perilaku mencari risiko juga berpengaruh,

3. Faktor lingkungan.

Lingkungan rumah dan sekolah merupakan lingkungan terdekat dari remaja. Anak yang mempunyai orang tua dengan kepribadian antisosial lebih berisiko. Kemampuan orang tua untuk mengasuh anak juga menentukan faktor risiko, terutama pada masa adolesen, saat anak mencari jati dirinya. Keluarga yang terlalu kaya, terlalu miskin, atau keluarga yang tidak mempunyai norma yang jelas juga berpengaruh. Anak tidak menyukai sekolahnya, tidak mempunyai teman banyak atau berkawan dengan pengguna, tidak aktif mengikuti aktivitas ekstrakurikulum, sering membolos, dan lain-lain,

4. Faktor kawan

Misalnya berkawan dengan perokok, pengguna narkotika, dengan kelompok yang menganggap bahwa penggunaan narkotika adalah hal biasa, berkawan dengan teman yang mempunyai kepribadian dan perilaku buruk sehingga sering melakukan kekerasan dan melawan hukum,

5. Faktor protektif

Membuat seseorang cenderung tidak menggunakan obat, misalnya intelegensi yang tinggi, adanya penilaian untuk kesehatan dan pencapaian tujuan, sekolah yang baik, hubungan antar keluarga yang erat, dan orang tua yang sangat berminat membantu anak.

Faktor pendukung Penyalahgunaan Zat

1. Faktor biologis
a. Genetic: tendensi keluarga
b. Infeksi pada organ otak
c. Penyakit kronis

2. Faktor psikologis
a. Gangguan kepribadian: anti sosial (resiko relatif 19,9%)
b. Harga diri rendah: depresi (resiko relatif: 18,8%), faktor social, ekonomi.
c. Disfungsi keluarga
d. Orang/ remaja yang memiliki perasaan tidak aman
e. Orang/ remaja yang memiliki ketrampilan pemecahan masalah yang menyimpang
f. Orang/ remaja yang mengalami gangguan idetitas diri, kecenderungan homoseksual, krisis identitas, menggunakan zat untuk menyatakan kejantanannya.
g. Rasa bermusuhan dengan orang tua

3. Faktor social cultural
a. Masyarakat yang ambivalensi tentang penggunaan dan penyalahgunaan zatadiktif: ganja, alkohol
b. Norma kebudayaan
c. Adiktif untuk upacara adat
d. Lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah yang terdapat banyak pengedar (mudah didapat: resiko relatif 80 %)
e. Persepsi masyarakat terhadap pengunaan zat
f. Remaja yang lari dari rumah
g. Remaja dengan perilaku penyimpangan seksual dini
h. Orang/ remaja yang terkait dengan tindakan kriminal

4. Stressor presipitasi
1. Pernyataan untuk mandiri dan dan membutuhkan teman sebaya sebagai pengakuan ( resiko relatif untuk terlibat NAZA: 81,3%)
2. Sebagai prinsip kesenangan, menghindari sakit/stress
3. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang berarti
4. Diasingkan oleh lingkungan: rumah, teman-teman
5. Kompleksitas dari kehidupan modern

3. Faktor kontribusi ( resiko relatif 7,9% terlibat penyalah gunaan NAZA)

Seseorang yang berada dalam disfungsi keluarga akan tertekan, dan ketertekanan itu dapat merupakan faktor penyerta bagi dirinya terlibat dalam penyalahgunaan / ketergantungan NAZA, kondisi keluarga yang tidak baik itu adalah :
1. Keluarga yang tidak utuh : orang tua meninggal, orang tua cerai, dll
2. Kesibukan orang tua
3. Hubungan interpersonal dalam keluarga tidak baik

Motivasi melakukan penyalahgunaan obat-obatan

Motivasi:

(1) Ada orang-orang yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan rasa tertekan (stres dan ketegangan hidup).

(2) Ada orang-orang yang bertujuan untuk sekadar mendapatkan perasaan nyaman, menyenangkan.

(3) Ada orang-orang yang memakainya untuk lari dari realita dan tanggung jawab kehidupan.

Sebab-sebabnya:

(1) Faktor-faktor Sosial dan Kebudayaan: Sikap masyarakat dan lingkungan terhadap obat-obatan sangat menentukan gejala ini

(2) Faktor-faktor Pendidikan dan Lingkungan: memanjakan, melindungi mereka secara berlebih-lebihan, tidak mengizinkan mereka untuk mandiri, tidak pernah melatih mereka menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan mereka sendiri dan memberi contoh bahwa obat-obatan dapat diminum dengan penuh kebebasan, apa saja yang kita mau tanpa resep dokter.

Akibat:

(1) Habituation: kebiasaan buruk yang menggantungkan diri pada jenis obat-obatan tertentu dalam bentuk ketergantungan secara psikis. Dalam hal ini penyetopan akan menimbulkan efek-efek kejiwaan seperti misalnya, merasa seolah-olah tidak pernah sembuh. Sehingga akhirnya, ia akan memakai obat itu lagi meskipun dosisnya tidak pernah bertambah besar.

(2) Addiction (kecanduan), Pemakaian heroin, morfin, dsb., biasanya mengakibatkan kecanduan. Kecanduan itu ditandai dengan beberapa gejala seperti: Tolerance (toleransi), yaitu kebutuhan akan dosis yang semakin lama semakin besar. Withdrawal (reaksi kemerosotan kondisi fisik), karena pengurangan dosis atau penyetopan pemakaian obat-obatan pada orang-orang yang sudah kecanduan akan mengakibatkan munculnya gejala-gejala withdrawal, yaitu seperti misalnya keringat dingin, sakit kepala, gemetaran, tidak bisa tidur, mau muntah, dsb.

Cara Pakai Narkotika

Narkotika dapat dipakai dengan berbagai cara. Beberapa dapat dimasukkan lewat mulut dan disuntik. Jenis lainnya dipakai dalam bentuk dihisap seperti rokok dan dihisap melalui hidung secara langsung.

Karakteristik pengguna narkoba

Karakteristik pengguna narkoba, berdasarkan hasil penelitian di AS: terhadap 69 responden pria:

(1) Karakteristik pasien persentase terbesar: berumur 16-25 tahun, belum menikah, pendidikan tamat SLP atau SLA dan berstatus pelajar/mahasiswa.

(2) Lingkungan keluarga pasien persentase terbesar: tinggal dengan orang tua, jumlah anak 3-5 orang, keadaan ekonominya tinggi, komunikasi dalam keluarga sedang atau buruk, keluarga tidak rukun, pelaksanaan ibadah sedang, dan kebiasaan merokok/minuman keras/menggunakan obat dalam keluarga sedang.

(3) Pasien persentase terbesar empunyai “konflik” dengan lingkungan keluarga, kemudian melarikan diri dari konflik tersebut dengan menyalahguna-0kan obat karena ingin tahu/mencoba, membeli obat dengan uang jajan dari orang tuanya dan orang tua baru mengetahui anaknya menyalahgunakan obat setelah 1-3 tahun.

(4) Lingkungan pemaparan obat persentase terbesar adalah lingkungan informal di kota besar (ibukota propinsi).

(5) Obat yang disalahgunakan persentase terbesar psikotropik dan ganja serta penggunaannya tidak terpisahkan dari minuman keras, karena Peraturan Menteri Kesehatan tentang minuman keras belum terlaksana sebagaimana mestinya.

(6) Pasien persentase terbesar datang ke tempat rehabilitasi atas inisiatif orang tuanya dan belum pernah berobat sebelumnya (pasien baru).

(7) Ada perbedaan pada diagnosis, konsep pengobatan dan kriteria sembuh pasien ketergan-tungan obat secara medik dan spiritual. Secara medik, diagnosis pasien diperkuat pemeriksaan laboratorium, konsep pengobatan bersifat “suportif” jiwa, dan kriteria sembuh mempunyai ciri kepribadian matang. Secara spiritual, diagnosis berdasarkan pengakuan pasien dan “pengamatan” pembina, konsep pengobatan bersifat “rekonstruktif” jiwa dan kriteria sembuh antara lain timbulnya kesadaran untuk menjalankan ibadah dan bersikap anti terhadap obat.

(8) Metoda dan kurikulum untuk rehabilitasi pasien di setiap inabah telah dibakukan dan bersumber dari ajaran Islam dengan pendekataan tasauf.

Karakter Seorang Pecandu

  • Merasa rendah diri,
  • tidak dewasa,
  • mudah frustasi
  • kesulitan dalam menyelesaikan masalah pribadi
  • kesulitan dalam berhubungan dengan lawan jenisnya
  • mencoba untuk lari dari kenyataan yang digambarkan sebagai ketakutan, penarikan diri dan depresi
  • Beberapa pecandu memiliki riwayat percobaan bunuh diri atau melukai dirinya sendiri
  • digambarkan sebagai pribadi yang tergantung
  • memerlukan dukungan dalam membina hubungan
  • memiliki kesulitan menjaga diri mereka sendiri
  • ekspresi seksual yang tak terkendali

Tanda-tanda dini anak yang telah menggunakan narkotika

Tanda-tanda dini anak yang telah menggunakan narkotika dapat dilihat dari beberapa hal antara lain :

1. anak menjadi pemurung dan penyendiri
2. wajah anak pucat dan kuyu
3. terdapat bau aneh yang tidak biasa di kamar anak
4. matanya berair dan tangannya gemetar
5. nafasnya tersengal dan susah tidur
6. badannya lesu dan selalu gelisah
7. anak menjadi mudah tersinggung, marah, suka menantang orang tua
8. suka membolos sekolah dengan alasan tidak jelas

Tingkah laku
1. Tingkah laku klien pengguna zat sedatif hipnotik
a. Menurunnya sifat menahan diri
b. Jalan tidak stabil, koordinasi motorik kurang
c. Bicara cadel, bertele-tele
d. Sering datang ke dokter untuk minta resep
e. Kurang perhatian
f. Sangat gembira, berdiam, (depresi), dan kadang bersikap bermusuhan
g. Gangguan dalam daya pertimbangan
h. Dalam keadaan yang over dosis, kesadaran menurun, koma dan dapat menimbulkan kematian.
i. Meningkatkan rasa percaya diri
2. Tingkah laku klien pengguna ganja
a. Kontrol didi menurun bahkan hilang
b. Menurunnya motivasi perubahan diri
c. Ephoria ringan
3. Tingkah laku klien pengguna alcohol
a. Sikap bermusuhan
b. Kadang bersikap murung, berdiam
c. Kontrol diri menurun
d. Suara keras, bicara cadel,dan kacau
e. Agresi
f. Minum alcohol pagi hari atau tidak kenal waktu
g. Partisipasi di lingkungan social kurang
h. Daya pertimbangan menurun
i. Koordinasi motorik terganggu, akibat cenerung mendapat kecelakaan
j. Dalam keadaan over dosis, kesadaran menurun bahkan sampai koma.
4. Tingkah laku klien pengguna opioda
a. Terkantuk-kantuk
b. Bicara cadel
c. Koordinasi motorik terganggu
d. Acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian
e. Perilaku manipulatif, untuk mendapatkan zat adiktif
f. Kontrol diri kurang
5. Tingkah laku klien pengguna kokain
a. Hiperaktif
b. Euphoria, agitasi, dan sampai agitasi
c. Iritabilitas
d. Halusinasi dan waham
e. Kewaspadaan yang berlebihan
f. Sangat tegang
g. Gelisah, insomnia
h. Tampak membesar –besarkan sesuatu
i. Dalam keadaan over dosis: kejang, delirium, dan paranoid
6. Tingkah laku klien pengguna halusinogen
a. tingkah laku tidak dapat diramalkan
b. Tingkah laku merusak diri sendiri
c. Halusinasi, ilusi
d. Distorsi (gangguan dalam penilaian, waktu dan jarak)
e. Sikap merasa diri benar
f. Kewaspadaan meningkat
g. Depersonalisasi
h. Pengalaman yang gaib/ ajaib

Efek pemakaian psikotropika

Zat atau obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku,

1. timbulnya halusinasi (mengkhayal),

2. ilusi,

3. gangguan cara berpikir,

4. perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.

5. Pemakaian Psikotropika yang berlangsung lama menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai macam penyakit serta kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang bahkan menimbulkan kematian.

Efek Pemakaian Narkoba

Efek narkoba itu sangat banyak sekali. Beberapa diantaranya adalah, Orang yang menggunakan narkoba dapat kecanduan atau ketagihan. Orang tersebut akan berusaha bagaimana caranya agar dapat memperoleh narkoba kembali, meskipun melalui cara-cara kriminal. Mata orang tersebut akan merah. Bibir mereka menjadi kecoklatan, bahkan daya tahan tubuh mereka akan turun. Ketika daya tahan tubuh mereka turun, mereka mudah sekali terserang poenyakit. Tubuh mereka akan menjadi kurus kering, dan kurang semangat.

Diluar bahaya yang ditimbulkan karena kecerobohan atau penggunaan berlebihan, narkotika juga dapat menimbulkan bahaya infeksi, tertular penyakit dan overdosis. Komplikasi ditimbulkan karena pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Hepatitis dan AIDS adalah penyakit yang umum ditularkan melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril sesama pengguna narkotika.

Rentang respon penggunaan zat adiktif

1. Penggunaan zat adiktif secara eksperimental ialah:
Kondisi penggunaan pada taraf awal, disebabkan rasa ingin tahu, ingin memiliki pengalaman yang baru, atau sering dikatakan taraf coba- coba.

2. Penggunaan zat adiktif secara rekreasional ialah:
Menguunakan zat od saat berkumpul bersama-sama dengan teman sebaya, yang bertujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya.

3. Penggunaan zat adiktif secara situasional ialah:
Orang yang menggunakan zat mempunyai tujuan tertentu secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri, seringkali penggunaan zat ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapinya. Biasanya digunakan pada saat sedang konflik, stress, frustasi.

4. Penyalahgunaan zat adiktif ialah: Penggunaan zat yang sudah bersifat patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan, dan terjadi penyimpangan perilaku dan mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan social dan pendidikan.

5. Ketergantungan zat adiktif ialah: Penggunaan zat yang cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma putus zat. Yang dimaksud sindroma putus zat adalah suatu kondisi dimana orang yang biasa menggunakan secara rutin, pada dosis tertentu berhenti menggunakan atau menurunkan jumlah zat yang biasa digunakan, sehingga menimbulkan gejala pemutusan zat.

Peran orang lain dalam penyalahgunaan obat

  • Anggota keluarga atau teman-teman bisa berkelakukan seakan-akan mengijinkan sang pecandu melanjutkan penyalahgunan obatnya atau alkohol; orang-orang ini disebut kodipenden (juga disebut pemberi ijin).
  • Pecandu yang hamil seringkali tidak mengakui pada dokter atau perawatnya bahwa ia menggunakan alkohol dan obat-obatan. Janin tersebut bisa mengalami ketergantungan secara fisik. Bayi yang selamat dari gejala putus obat bisa mendapat banyak masalah lainnya.

Gejala Klinis

Gejala Klinis: gejala klinis yang dapat terjadi pada pengguna substance abuse sangat tergantung dari golongan zat yang dipakai yaitu:

(1) Golongan Depresan (Downer)

Berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.

(2) Golongan Stimulan (Upper)

Merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi lebih aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain

(3) Golongan Halusinogen

Menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis, misal:  (Kanabis /ganja), LSD, Mescalin.

Secara umum gejala klinis yang akan nampak:

(1) Perubahan Fisik, Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo, apatis, mengantuk, agresif, curiga. Bila kelebihan dosis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal. Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang, kesadaran menurun. Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terdapat bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik).

(2) Perubahan Sikap dan Perilaku, misalnya : Prestasi sekolah menurun, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk dikelas atau tempat kerja. Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, mengompas, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup dan penuh rahasia.

Adiksi obat adalah gangguan kronis yang ditandai dengan peningkatan penggunaan obat meskipun terjadi kerusakan fisik, psikologis maupun sosial pada pengguna. Ketergantungan psikologis adalah keinginan untuk mengkonsumsi obat untuk memperoleh efek positif atau menghindari efek negatif akibat tidak mengkonsumsinya.

Contoh: Alkohol, Narkotik, Hipnotik (obat tidur), Benzodiazepin
(obat anti-cemas), Amfetamin, Metamfetamin, Metilelendioksimetamfetamin
(MDMA, ekstasi, Adam), Kokain, 2,5-dimetoksi-4-metilamfetamin (DOM,STP), Fensiklidin (PCP, debu malaikat).

Ketergantungan fisik adalah adaptasi fisiologis terhadap obat yang ditandai dengan timbulnya toleransi terhadap efek obat dan sindroma putus obat bila dihentikan. Contohnya: Inhalan

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang sebagian besar pemeriksaan laboratorium tergantung dari kemungkinan target organ yang terkena efek dari zat/obat yang dipakai (contoh: gangguan fungsi liver, kelainan hematologi). Pemeriksaan rambut, saliva, urin , dan darah dapat dilakukan untuk mengetahui apakah remaja tersebut menggunakan obat/zat tersebut tetapi pemeriksaan urin untuk penyalahgunaan zat lebih dapat membatu karena lebih cepat hasilnya walaupun false positif atau negatif kadang terjadi.

Pencegahan Drug Abuse

Populasi yang berbeda memerlukan tindakan pencegahan yang berbeda pula. Pembagian metode pencegahan  adalah sebagai berikut:

(1) Pencegahan universal, ditujukan untuk populasi umum baik untuk keluarga maupun anak.

(2) Pencegahan selektif, ditujukan bagi keluarga dan anak dengan risiko tinggi. Risiko tersebut  dapat  berupa risiko demografis, lingkungan psiko-sosial dan biologis.

(3)Pencegahan terindikasi, ditujukan terhadap kasus yang mengalami berbagai faktor risiko dalam suatu keluarga yang disfungsional.

Dengan menggunakan alat Skrining penyalahgunaan zat pada remaja dalam bentuk kuesener seperti CRAFFT screening test yang cukup sederhana dan relevan dapat untuk mengenali risiko terjadinya penyalahgunaan zat/obat.

Diagnosis

Berdasarkan DSM IV dibedakan antara substance abuse dengan Substance dependent.

Substance abuse / penyalahgunaan zat: suatu pola maladaptasi dari penggunaan zat yang membawa kearah gangguan klinis yang bermakna sebagai akibat dari satu atau lebih dari hal dibawah ini yang timbul dalam periode 12 bulan, yaitu: Penggunaan obat secara berkala yang menyebabkan orang tersebut gagal melaksanaan tugas di lingkungan pekerjaan, sekolah atau di rumah, Pada situasi dimana hal tersebut dapat membahayakan fisiknya, Yang berkaitan dengan masalah legalsasi, Terus menerus dan orang tersebut mempunyai masalah interpersonal dan social sementara atau menetap, yang dicetuskan kembali efek zat tersebut.

Substance dependent/ketergantungan zat: suatu pola maladaptasi  dari penyalahgunaan zat yang membawa kepada gangguan klinis yang bermakna ,  sebagai  akibat dari tiga atau lebih hal dibawah ini yang terjadi kapan saja dalam periode 12 bulan yang sama, yaitu:

(1)Toleransi

Peningkatan kebutuhan yang bermakna untuk mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan, Tidak adanya reaksi yang bermakna dengan penggunaan berkelanjutan dalam jumlah yang sama.

(2) Withdrawal

Adanya karakteristik sindroma ketergantungan, Zat yang sama atau berkaita digunakan untuk menghilangkan atau mencegah gejala yang timbul.

(3) Zat yang sering digunakan dalam jumlah lebih besar atau over dosis dalam jangka waktu yang lebih singkat.

(4) Terdapat keinginan untuk memutus atau mengontrol substance abuse tetapi usaha itu gagal.

(5) Jangka waktu yang lama dibutuhkan dalam usaha untuk sembuh dari efek substance abuse.

(6) Aktivitas social, pekerjaan atau rekreasi menjadi terhenti atau berkurang karena pemakaian zat itu.

(7) Pemakaian zat tersebut tetap dilanjutkan walaupun terdapat masalah fisik sementara atau menetap, atau masalah psikologis yang disebabkan zat tersebut.

Penanganan Drug Abuse dalam masyarakat

(1) Melihat kompleknya penyebab penyalahgunaan obat, maka penanganannya memerlukan langkah-langkah preventif, kuratif, represif dan rehabilitasi secara serempak, dimana tanggung jawab usaha preventif lebih dititik beratkan kepada orang tuanya.

(2) Penyuluhan untuk pencegahan penyalahgunaan obat perlu melibatkan unsur agama, karena ternyata penyalahguna obat umumnya orang yang tidak melaksanakan ibadah ritual.

(3) Ditjen POM dan Kanwil Depkes meningkatkan pengawasan distribusi dan penjualan obat-obat psikotropik di PBF, apotek dan toko obat, serta melaksanakan Permenkes tentang minuman keras.

(4) Dalam upaya rehabilitasi pasien, RSKO hendaknya meningkatkan kegiatan keagamaan dan Inabah meningkatkan variasi olahraga.

(5) Dalam upaya rehabilitasi pasien, Inabah perlu bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk pengobatan komplikasi medik yang menyertai ketergantungan obat.

(6) Perlu penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efektifitas/efisiensi perawatan pasien ketergantungan obat antara RSKO dengan Inabah, serta efektifitas dan efisiensi pasien gangguan kejiwaan antara RSJ dengan Inabah.

Tata Laksana Terapi dan rehabilitasi

Dengan tujuan:

(1) Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA. Tujuan ini tergolong sangat ideal, namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan ini. Rehabilitasi ini diberikan terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal.

(2) Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah “clean” maka ia disebut “slip”. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan ia memang telah dibekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programe, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps.

(3) Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini,abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.

Tahap penanganan secara umum:

  • Penanganan kegawatan : tatalaksana ABC  (airway, brathing, circulation),
  • Pemberian antidotum,
  • Detoksifikasi: pemutusan segera (abrupt withdrawal) ,
  • Simptomatik, dan substitusi,
  • Terapi rumatan penyalahgunaan: Psikoterapi individu dan Psikoterapi kelompok,
  • Rehabilitasi: di rumah / keluarga  dan di institusi/lembaga

Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan diri yang biasa digunakan:
1. denial dari masalah
2. proyeksi merupakan tingkah laku untuk melepaskan diri dari tanggung jawab
3. Disosiasi merupakan proses dari penggunaan zat adiktif

Berbagai Pendekatan dalam Penanganan Penggunaan Zat dan Penanganan Ketergantungan Zat

1. Pendekatan Biologis

a. Detoksifikasi adalah menuju hidup bersih, yang biasa dilakukan dalam ringkup rumah sakit untuk memberikan dukungan kepada orang yang putus obat zat adiktif secara aman. Detoksifikasi dilakukan dengan konseling perilaku dan kemungkinan penggunaan obat terapeutik. Obat yang sering digunakan seperti: Disulfram (nama merek antabuse), Antidepresan.

b. Terapi Pengganti Rokok, menggunakan obat anti perokok tanpa dasar nikotin, sebuah antidepresan yang disebut bupropion (nama dagang zyban).

c. Program pemantapan metadon, mengurangi ketagihan heroin dan membantu mencegah gejala tidak menyenangkan yang menyertai putus obat. Obat lain yang digunakan, buprenorfin, yang menghasilkan lebih sedikit sedatif. Untuk hasil terbaik, obat – obatan dapat dikombinasikan penggunaannya dengan konseling psikologis dan rehabilitasi psikososial.

d. Nalokson dan Naltrekson, Nalokson adalah obat yang mencegah rasa melayang yang dihasilkan heroin dan opioid lainnya, membantu menghindari kambuh setelah putus obat. Natrelkeson, memblokir rasa melayang dari alkohol juga dari opioid.

2. Penanganan Peka Budaya Budaya untuk Alkoholisme

Program yang memperhatikan semua sisi kehidupan manusia, termasuk ras, identitas, dan budaya, yang menghargai kebanggaan etnik dan membantu orang bertahan terhadap godaan untuk mengatasi tekanan dengan bahan kimia.

3. Kelompok Pendukung Nonprofesional

Orang awam yang biasa menangani ketergantungan zat, orang seperti ini sering memiliki atau pernah memiliki masalah yang sama. Sebagai contoh, pertemuan kelompok self-help, Alcoholic Anonymous, Narcotics Anonymous, dan Cocaine Anonymous. Kelompok ini menyerukan absitenensi dan memberi kesempatan bagi anggota untuk mendiskusikan perasaan dan pengalaman mereka dalam lingkup kelompok pendukung. Anggota kelompok yang lebih berpengalaman membantu dan mendukung anggota baru selama periode krisis atau masa potensial untuk kambuh.

4. pendekatan Residential

Pendeketan melibatkan perawatan di rumah sakit atau tempat terapi.

5. Pendekatan Psikodinamika

Terapi yang berfokus pada penyalahgunaan atau ketergantungan zat dinilai sebagai tipe terapi tidak mendalam. Diasumsikan jika konflik pada masa lalu dapat diatasi, perilaku penyalahgunaan juga akan digantikan oleh bentuk yang lebih matang dari pemenuhan kepuasan yang dicari.

6. Pendekatan Behavioral, fokus pada modifikasi perilaku penyalahguna dan dependen, penyalahguna dapat belajar untuk mengubah perilaku mereka saat dihadapkan dengan godaan. Terapi self control yang sering digunakan, ada 3 komponen:

1. isyarat antesden, atau stimuli (A) yang memicu penyalahgunaan

2. Perilaku penyalahgunaan (B) itu sendiri, dan

3. Konsekuensi hukuman atau penguatan (C) yang mempertahankan atau mencegah penyalahgunaan.

Aversive Conditioning, stimulus yang menyakitkan atau menolak (aversive) dipasangkan dengan penyalahgunaan zat atau stimulus yang berhubungan dengan penyalahgunaan untuk membuat penyalahgunaan kurang menarik. Dalam kasus masalah minum, rasa minuman beralkohol yang berbeda biasanya dipasangkan dengan zat kimia yang menyebabkan mual dan muntah atau dengan kejutan listrik.

7. Pelatihan ketrampilan sosial, pelatihan ketrampilan sosial membantu orang mengembangkan respons interpersonal yang efektif dalam situasi sosial yang memicu penyalahgunaan zat.

8. Pelatihan Pencegahan Kambuh, membantu orang dengan masalah penyalahgunaan zat mengatasi situasi beresiko tinggi dan mencegah tergelincir untuk menjadi kambuh total.
4. sebutkan penggolongan obat psikofarmaka (psikotropik)!

Jawaban:

Menurut Depkes (2000), jenis obat psikofarmaka adalah :
1) Clorpromazine (CPZ, Largactile)

2) Haloperidol (Haldol, Serenace)

3) Trihexiphenidyl (THP, Artane, Tremin)

Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang pemberantasan peredaran narkotika dan psikotropika, tahun 1988 tersebut maka psikotropika dapat digolongkan sebagai berikut : (didahului dengan nama International dan nama kimia diletakkan dalam tanda kurung)

Psikotropika golongan I
* Broloamfetamine atau DOB ((±)-4-bromo-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine)
* Cathinone ((x)-(S)-2-aminopropiophenone)
* DET (3-[2-(diethylamino)ethyl]indole)
* DMA ( (±)-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine )
* DMHP ( 3-(1,2-dimethylheptyl)-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-olo )
* DMT ( 3-[2-(dimethylamino)ethyl]indole)
* DOET ( (±)-4-ethyl-2,5-dimethoxy-alpha-phenethylamine)
* Eticyclidine – PCE ( N-ethyl-1-phenylcyclohexylamine )
* Etrytamine ( 3-(2-aminobutyl)indole )
* Lysergide – LSD, LSD-25 (9,10-didehydro-N,N-diethyl-6-methylergoline-8beta-carboxamide)
* MDMA ((±)-N,alpha-dimethyl-3,4-(methylene-dioxy)phenethylamine)
* Mescaline (3,4,5-trimethoxyphenethylamine)
* Methcathinone ( 2-(methylamino)-1-phenylpropan-1-one )
* 4-methylaminorex ( (±)-cis-2-amino-4-methyl-5-phenyl-2-oxazoline )
* MMDA (2-methoxy-alpha-methyl-4,5-(methylenedioxy)phenethylamine)
* N-ethyl MDA ((±)-N-ethyl-alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethylamine)
* N-hydroxy MDA ((±)-N-[alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethyl]hydroxylamine)
* Parahexyl (3-hexyl-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H-dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
* PMA (p-methoxy-alpha-methylphenethylamine)
* Psilocine, psilotsin (3-[2-(dimethylamino)ethyl] indol-4-ol)
* Psilocybine (3-[2-(dimethylamino)ethyl]indol-4-yl dihydrogen phosphate)
* Rolicyclidine – PHP,PCPY ( 1-(1-phenylcyclohexyl)pyrrolidine )
* STP, DOM (2,5-dimethoxy-alpha,4-dimethylphenethylamine)
* Tenamfetamine – MDA (alpha-methyl-3,4-(methylenedioxy)phenethylamine)
* Tenocyclidine – TCP (1-[1-(2-thienyl)cyclohexyl]piperidine)
* Tetrahydrocannabinol
* TMA ((±)-3,4,5-trimethoxy-alpha-methylphenethylamine)

Psikotropika golongan II
* Amphetamine ((±)-alpha-methylphenethylamine)
* Dexamphetamine ((+)-alpha-methylphenethylamine)
* Fenetylline (7-[2-[(alpha-methylphenethyl)amino] ethyl]theophylline)
* Levamphetamine ((x)-(R)-alpha-methylphenethylamine)
* Levomethampheta-mine ((x)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Mecloqualone (3-(o-chlorophenyl)-2-methyl-4(3H)- quinazolinone)
* Methamphetamine ((+)-(S)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Methamphetamineracemate ((±)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Methaqualone (2-methyl-3-o-tolyl-4(3H)-quinazolinone)
* Methylphenidate (Methyl alpha-phenyl-2-piperidineacetate)
* Phencyclidine – PCP (1-(1-phenylcyclohexyl)piperidine)
* Phenmetrazine (3-methyl-2-phenylmorpholine)
* Secobarbital (5-allyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)
* Dronabinol atau delta-9-tetrahydro-cannabinol ((6aR,10aR)-6a,7,8,10a-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-3-pentyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
* Zipeprol (alpha-(alpha-methoxybenzyl)-4-(beta-methoxyphenethyl)-1-piperazineethanol)

Psikotropika golongan III
* Amobarbital (5-ethyl-5-isopentylbarbituric acid)
* Buprenorphine (2l-cyclopropyl-7-alpha-[(S)-1-hydroxy-1,2,2-trimethylpropyl]-6,14- endo-ethano-6,7,8,14-tetrahydrooripavine)
* Butalbital (5-allyl-5-isobutylbarbituric acid)
* Cathine / norpseudo-ephedrine ((+)-(R)-alpha-[(R)-1-aminoethyl]benzyl alcohol)
* Cyclobarbital (5-(1-cyclohexen-1-yl)-5-ethylbarbituric acid)
* Flunitrazepam (5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-7-nitro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Glutethimide (2-ethyl-2-phenylglutarimide)
* Pentazocine ((2R*,6R*,11R*)-1,2,3,4,5,6-hexahydro-6,11-dimethyl-3-(3-methyl-2-butenyl)-2,6-methano-3-benzazocin-8-ol)
* Pentobarbital (5-ethyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)

Psikotropika golongan IV
* Allobarbital (5,5-diallylbarbituric acid)
* Alprazolam (8-chloro-1-methyl-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
* Amfepramone (diethylpropion 2-(diethylamino)propiophenone)
* Aminorex (2-amino-5-phenyl-2-oxazoline)
* Barbital (5,5-diethylbarbituric acid)
* Benzfetamine (N-benzyl-N,alpha-dimethylphenethylamine)
* Bromazepam (7-bromo-1,3-dihydro-5-(2-pyridyl)-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Butobarbital (5-butyl-5-ethylbarbituric acid)
* Brotizolam (2-bromo-4-(o-chlorophenyl)-9-methyl-6H-thieno[3,2-f]-s-triazolo[4,3-a][1,4]diazepine)
* Camazepam (7-chloro-1,3-dihydro-3-hydroxy-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4 benzodiazepin-2-one dimethylcarbamate (ester))
* Chlordiazepoxide (7-chloro-2-(methylamino)-5-phenyl-3H-1,4-benzodiazepine-4-oxide)
* Clobazam (7-chloro-1-methyl-5-phenyl-1H-1,5-benzodiazepine-2,4(3H,5H)-dione)
* Clonazepam (5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-7-nitro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Clorazepate (7-chloro-2,3-dihydro-2-oxo-5-phenyl-1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylic acid)
* Clotiazepam (5-(o-chlorophenyl)-7-ethyl-1,3-dihydro-1-methyl-2H-thieno [2,3-e] -1,4-diazepin-2-one)
* Cloxazolam (10-chloro-11o-chlorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydro-oxazolo- [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
* Delorazepam (7-chloro-5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Diazepam (7-chloro-1,3-dihydro-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Estazolam (8-chloro-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
* Ethchlorvynol (1-chloro-3-ethyl-1-penten-4-yn-3-ol)
* Ethinamate (1-ethynylcyclohexanolcarbamate)
* Ethyl loflazepate (ethyl 7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-2,3-dihydro-2-oxo-1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylate)
* Etil Amfetamine / N-ethylampetamine (N-ethyl-alpha-methylphenethylamine)
* Fencamfamin (N-ethyl-3-phenyl-2-norborananamine)
* Fenproporex ((±)-3-[(alpha-methylphenylethyl)amino]propionitrile)
* Fludiazepam (7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Flurazepam (7-chloro-1-[2-(diethylamino)ethyl]-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Halazepam (7-chloro-1,3-dihydro-5-phenyl-1-(2,2,2-trifluoroethyl)-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
* Haloxazolam (10-bromo-11o-fluorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydrooxazolo [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
* Ketazolam (11-chloro-8,12b-dihydro-2,8-dimethyl-12b-phenyl-4H-[1,3]oxazino[3,2-d][1,4]benzodiazepine-4,7(6H)-dione)
* Lefetamine – SPA ((x)-N,N-dimethyl-1,2-diphenylethylamine)

Penggolongan berdasarkan rumus kimiawi:

  1. kelompok fenotiazine
  2. kelompok buspiron
  3. kelompok trisiklik/tetrasiklik/SSRI

Penggolongan berdasarkan efek yang diharapkan

  1. anti psikotik

Konvensional (lama): fenotiazine (chlorpromazine), piperazine (trifluoperazine), definibutylpiperidine (pimezode), piperidine (thioridazine), butyrophenone (haloperidol).

Novel (modern): benzisoxadole (resperidone), dibenzodiazepine (clozapine), dibenzothiazepine (quetiapine) dan thienobenzodiazepine (olanzapine).

Antipsikosis Tipikal (FGA): low potency > klorpromazine, tioridazine, mesoridazine, high potency > perfenazine, thiotixene, loxapin, molindon, haloperidol, flufenazine, trifuloperazine.

Antipsikosis Atipikal (SGA), antagonis reseptor 5-HT, blokade dopamine rendah: klozapin, olanzapin, quetiapine, ziprasidon, aripiprazol, risperidon.

Fenotiazine: Klorpromazine, trifulopromazine, tioridazine, flufenazine, plokroperazine, trifuoloperazine.

Thioxantine: Klorprotiksen, thiotiksen.

Dihidroindolon: Molindon

Dibenzoksazepin: loksapin (loxitane).

Dibenzodiazepine: Klozapin (Clozaril).

Butirofenon: Haloperidol (Haldol).

Difenibutilfiferidin: Pimozid (orap)

  1. anti cemas (anti ansietas dan hipnotik)
    1. barbiturat: fenobarbital, alprazolam
    2. benzodiazepine: klordiazepoksid, oksazepam, diazepam, untuk hipnotik (lorazepam dan temazepam).
    3. Non benzodiazepine: meprobomate, buspirone.
    4. Beta adrenergic blocker: propanolol dan atenolol.
    5. anti depresi
      1. Antidepresi trisiklik: imipramin, amitripilin, doksepin, klmipramin, desipramin, nortriptilin, amoksapin, proptriptilin, klomipramin.
      2. Antidepresi Tetrasiklik: maproptiline, mianserin, amozapine.
      3. Antidepresi generasi II: desimipramin, trazodone, bupropion, amoksapin, maprotilin
      4. Antidepresi generasi III: venlafaxine, nefazodone (duloxetine, mirtazepine
      5. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs): fluoksetin, fluvoksamin, paroksetin, sertralin.
      6. MAOI: Moklobamid.
      7. Penghambat Monoamin Oksidase dan anti depresan lain: tranilisipromin, feneizin, isokarboksazid, selegilin. Lain-lain: mianserin, maproptilin, alprazolam, dan bupropion.
      8. Anti depresi Atypical: trazodone.
      9. anti obsesi
      10. anti panik
      11. anti mania:

Mania akut: haloperidol (haldol, serenace), carbamazepin (tegretol)

Profilaksis mania: lithium carbonate (teralithe)

  1. anti insomnia:

benzodiazepine: nitrazepam, flurazepam, triazolam, estazolam

Non benzodiazepine: chloral hydrate, phenobarbital

Penggolongan berdasarkan diagnostik

  1. obat untuk delirium
  2. obat untuk demensia
  3. obat untuk skizofrenia
  4. Obat untuk Gangguan Bipolar: Litium, olanzepine, karbamazepine, valproal
  5. obat untuk gangguan cemas menyeluruh
  6. obat untuk obsesi kompulsi
  7. obat untuk gangguan somatoform
  8. obat untuk gangguan insomnia

Penggolongan berdasarkan kategori lama/baru

  1. kelompok konvensional (lama)

Contoh: chlorpromazine, trifluoperazine, amitrypiline, maproptilin, diazepam, dan clonazepam

  1. kelompok novel (baru)

Contoh: risperidone, quetiapine, kelompok selective cerotonin inhibitor, dan sertralin.

  1. Jelaskan tentang hipnotik-sedative !

Jawaban:

Hipnotik Sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung kepada dosis.
Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas, menurunkan respon terhadap rangsangan emosi dan menenangkan. Obat Hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.

Obat hipnotika dan sedatif biasanya merupakan turunan Benzodiazepin. Beberapa obat Hipnotik Sedatif dari golongan Benzodiazepin digunakan juga untuk indikasi lain, yaitu sebagai pelemas otot, antiepilepsi, antiansietas dan sebagai penginduksi anestesis.

Gb. Cara kerja obat golongan Benzodiazepine

Obat-obat Hipnotik Sedatif yang beredar di Indonesia :

  1. Flurazepam
    Flurazepam diindikasikan sebagai obat untuk mengatasi insomnia. Hasil dari uji klinik terkontrol telah menunjukkan bahwa Flurazepam menguarangi secara bermakna waktu induksi tidur, jumlah dan lama terbangun selama tidur , maupun lamanya tidur. Mula efek hipnotik rata-rata 17 menit setelah pemberian obat secara oral dan berakhir hingga 8 jam.
    Efek residu sedasi di siang hari terjadi pada sebagian besar penderita,oleh metabolit aktifnya yang masa kerjanya panjang, karena itu obat Fluarazepam cocok untuk pengobatan insomia jangka panjang dan insomnia jangka pendek yang disertai gejala ansietas di siang hari.
  2. Midazolam
    Midazolam digunakan agar pemakai menjadi mengantuk atau tidur dan  menghilangkan kecemasan sebelum pasien melakukan operasi atau untuk tujuan lainnya Midazolam kadang-kadang digunakan pada pasien di ruang ICU agar pasien menjadi pingsan. Hal ini dilakukan agar pasien yang stres menjadi kooperatif dan mempermudahkan kerja alat medis yang membantu pernafasan.
  3. Nitrazepam
    Nitrazepam bekerja dengan meningkatkan aktivitas GABA, sehingga mengurangi fungsi otak pada area tertentu. Dimana menimbulkan rasa kantuk, menghilangka rasa cemas, dan membuat otot relaksasi.Nitrazepam biasanya digunakan untuk mengobati insomnia. Nitrazepam mengurangi waktu terjaga sebelum tidur dan terbangun di malam hari, juga meningkatkan panjangnnya waktu tidur. Seperti Nitrazepam ada dalam tubuh beberapa jam, rasa kantuk bisa tetap terjadi sehari kemudian.
  4. Estazolam
    Estazolam digunakan jangka pendek untuk membantu agar mudah tidur dan tetap tidur sepanjang malam. Estazolam tersedia dalam bentuk tablet digunakan secara oral diminum sebelum atau sesudah makan. Estazolam biasanya digunakan sebelum tidur bila diperlukan.

5. Zolpidem Tartrate
Zolpidem Tartrate bukan Hipnotika dari golongan Benzodiazepin tetapi merupakan turunan dari Imidazopyridine. Zolpidem disetujui untuk penggunaan jangka pendek (biasanya dua minggu) untuk mengobati insomnia.

6. Jelaskan tentang amphetamin !

Jawaban:

Amfetamin menunjukkan efek neurologi dan klinik yang amat mirip dengan yang terjadi pada kokain.

Mekanisme kerja

Efek amfetamin secara tidak langsung pada SSP dan SSP (perifer), tergantung peningkatan kadar transmiter pada ruang sinap. Amfetamin memberikan efek ini melepaskan depot intraselular katekolamin. Karena amfetamin menghambat monoamine oksidase (MAO).

Efek pada SSP: memacu sumbu serebrospinalis keseluruhan korteks, batang otak, sambungan otak dan medula. Ini meningkatkan kesiagaan, berkurangnya keletihan, menekan nafsu makan dan insomnia. Pada dosis tinggi menyebabkan kejang.

Efek pada Saraf Simpatik: mempengaruhi sistem adrenergik, memacu respetor secara tidak langsung melalui pelepasan norepinefrin.

Penggunaan dalam terapi: bisa menimbulkan toleransi sampai efek euforia dan anoreksia dengan penggunaan kronis.

a. sindrom kurang atensi: menghilangkan beberapa masalah tingkah laku pada sinrdrom ADHD.

b. Narkolepsi: suatu penyakit dengan keinginan tidur yang luar biasa.

Farmakokinetik: diabsorbsi sempurna dalam saluran pencernaan, dimetabolisme di hati dan dikeluarkan melalui urine. Penyalahgunaan biasa digunakan melalui suntikan intravena atau merokok. Euforia berlangsung 4-6 jam atau 4-8 kali lebih lama dari efek kokain. Amfetamine menimbulkan adiksi ketergantungan dan keinginan mendapatkan obat.

Efek samping:

a. efek pusat: yang tidak diinginkan, insomnia, iritabel, lemah, pusing, gemetar, dan refleks hiperaktif. Dapat menyebabkan: konfusi, delirium, panik dan tendensi bunuh diri terutama pada pasien sakit mental. Dapat menimbulkan adiksi dan toleransi.

b. efek kadiovaskular: palpitasi, aritmia jantung, hipertensi, sakit angina, kolaps kambuh, sakit kepala, menggigil, keringat ngucur.

c. efek pada pencernaan: anoreksia, mual, muntah, kram perut dan diare.

Pengertian Amfetamin

Amfetamin adalah kelompok narkoba  yang dibuat secara sintetis dan akhir-akhir ini menjadi populer di Asia Tenggara. Amfetamin biasanya berbentuk bubuk putih, kuning atau coklat dan kristal kecil berwarna putih. Cara memakai amfetamin yang paling umum adalah dengan menghirup asapnya. Nama-nama lain: Shabu, SS, Ubas, Ice dll.Stimulan-stimulan seperti amfetamin mempengaruhi sistem saraf pusat dengan mempercepat kegiatan bahan-bahan kimia tertentu di dalam otak. Contoh stimulan lain misalnya kafein dan kokain.

Obat-obat Amphetamin

Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan amfetamin adalah:
– Amfetamin
– Metamfetamin
– Metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstasy atau Adam).

Penggunaan Amphetamin

Amfetamin bisa disalahgunakan selama bertahun-tahun atau digunakan sewaktu-waktu. Bisa terjadi ketergantungan fisik maupun ketergantungan psikis.

Beberapa amfetamin tidak digunakan untuk keperluan medis dan beberapa lainnya dibuat dan digunakan secara ilegal. Misalnya penyalahgunaan MDMA sebelumnya tersebar luas di Eropa. MDMA mempengaruhi penyerapan ulang serotonin (salah satu penghantar saraf tubuh) di otak dan diduga menjadi racun bagi sistim saraf.

Amfetamin meningkatkan kesiagaan (mengurangi kelelahan), menambah daya konsentrasi, menurunkan nafsu makan dan memperkuat penampilan fisik.
Obat ini menimbulkan perasaan nyaman atau euforia (perasaan senang yang berlebihan).

Beberapa pecandu amfetamin adalah penderita depresi dan mereka menggunakan efek peningkat-suasana hati dari amfetamin untuk mengurangi depresinya sementara waktu.

Pada atlet pelari, amfetamin bisa memperbaiki penampilan fisik, perbedaan sepersekian detik bisa menentukan siapa yang menjadi juara.
Para pengemudi truk jarak jauh menggunakan amfetamin supaya mereka tetap terjaga. Selain merangsang otak, amfetamin juga meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.

Kematian lebih mungkin terjadi jika:

- MDMA digunakan dalam ruangan hangat dengan ventilasi yang kurang
– pemakai sangat aktif secara fisik (misalnya menari dengan cepat)
– pemakai berkeringat banyak dan tidak minum sejumlah cairan yang cukup untuk menggantikan hilangnya cairan.

Orang yang memiliki kebiasaan menggunakan amfetamin beberapa kali sehari, dengan segera akan mengalami toleransi.
Jumlah yang digunakan pada akhirnya akan meningkat sampai beberapa ratus kali dosis awal.

Pada dosis tertentu, hampir semua pecandu menjadi psikostik, karena amfetamin dapat menyebabkan kecemasan hebat, paranoia dan gangguan pengertian terhadap kenyataan hidup. Reaksi psikotik meliputi halusinasi dengar dan lihat (melihat dan mendengar benda yang sebenarnya tidak ada) dan merasa sangat berkuasa. Efek tersebut bisa terjadi pada siapa saja, tetapi yang lebih rentan adalah pengguna dengan kelainan psikiatrik (misalnya skizofrenia).

Gejala yang berlawanan dengan efek amfetamin terjadi jika amfetamin secara tiba-tiba dihentikan penggunannya. Pengguna akan menjadi lelah atau mengantuk, yang bisa berlangsung selama 2-3 hari setelah penggunaan obat dihentikan. Beberapa pengguna sangat cemas dan gelisah.

Pengguna yang juga menderita depresi bisa menjadi lebih depresi jika obat ini berhenti digunakan.

Mereka menjadi cenderung ingin bunuh diri, tetapi selama beberapa hari mereka mengalami kekurangan tenaga untuk melakukan usaha bunuh diri.
Karena itu pengguna menahun perlu dirawat di rumah sakit selama timbulnya gejala putus obat.

Pada pengguna yang mengalami delusi dan halusinasi bisa diberikan obat anti-psikosa (misalnya klorpromazin), yang akan memberikan efek menenangkan dan mengurangi ketegangan. Tetapi obat anti-psikosa bisa sangat menurunkan tekanan darah.
Penyalahgunaan Amfetamin

Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan amfetamin adalah: – Amfetamin – Metamfetamin – Metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstasy atau Adam). Amfetamin bisa disalahgunakan selama bertahun-tahun atau digunakan sewaktu-waktu. Bisa terjadi ketergantungan fisik maupun ketergantungan psikis. Dulu ketergantungan terhadap amfetaamin timbul jika obat ini diresepkan untuk menurunkan berat badan, tetapi sekarang penyalahgunaan amfetamin terjadi karena penyaluran obat yang ilegal.

Amfetamin atau Amphetamine atau Alfa-Metil-Fenetilamin atau beta-fenil-isopropilamin, atau benzedrin, adalah obat golongan stimulansia (hanya dapat diperoleh dengan resep dokter) yang biasanya digunakan hanya untuk mengobati gangguan hiperaktif karena kurang perhatian atau Attention-deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada pasien dewasa dan anak-anak. Juga digunakan untuk mengobati gejala-gejala luka-luka traumatik pada otak dan gejala mengantuk pada siang hari pada kasus narkolepsi dan sindrom kelelahan kronis.

Pada awalnya, amfetamin sangat populer digunakan untuk mengurangi nafsu makan dan mengontrol berat badan. Merk dagang Amfetamin (di AS) antara lain Adderall, dan Dexedrine. Sementara di Indonesia dijual dalam kemasan injeksi dengan merk dagang generik. Obat ini juga digunakan secara ilegal sebagai obat untuk kesenangan (Recreational Club Drug) dan sebagai peningkat penampilan (menambah percaya diri atau PD). Istilah “Amftamin” sering digunakan pada campuran-campuran yang diturunkan dari Amfetamin.

pengaruh langsung pemakaian amfetamin

  • Nafsu makan berkurang.
  • Kecepatan pernafasan dan denyut jantung meningkat.
  • Pupil mata membesar.
  • Merasa nyaman; energi dan kepercayaan diri meningkat secara tidak normal.
  • Susah tidur.
  • Hiperaktif dan banyak bicara.
  • Mudah panik.
  • Mudah tersinggung, marah dan agresif.

pengaruh jangka panjang pemakaian amfetamin

  • Menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi dan penyakit.
  • Pemakai beresiko menderita kekurangan gizi.
  • Mengalami gangguan kejiwaan akibat amfetamin, termasuk diantaranya delusi, halusinasi, paranoid dan tingkah laku yang aneh.
  • Perlu meminum obat-obatan lain untuk menutupi pengaruh-pengaruh amfetamin.
  • Ketergantungan; tubuh pemakai menyesuaikan diri dengan amfetamin.

Bahaya dan akibat lain
Toleransi dan ketergantungan

Toleransi terhadap amfetamin berarti pengguna ampetamin akan tergantung dengan obat ini, dengan dosis yang semakin lama semakin tinggi untuk mendapatkan pengaruh yang sama. Narkoba ini juga menjadi kebutuhan yang utama, dalam pikiran, perasaan dan kegiatan pemakai, sehingga akan sulit untuk berhenti atau mengurangi pemakaian. Inilah yang disebut ketergantungan.

Kelebihan dosis amfetamin seringkali dicampur dengan bahan-bahan berbahaya lainnya, sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana tubuh akan bereaksi. Juga sukar untuk mengetahui dosis dari obat yang sedang dipakai. Hal ini dapat menyebabkan over dosis (OD).Over dosis amfetamin menyebabkan:

  • Denyut jantung yang tidak beraturan.
  • Serangan jantung.
  • Demam tinggi.
  • Pecahnya pembuluh-pembuluh darah di otak.
  • Kematian.

Tindak kejahatan

Pemakai seringkali terpaksa melakukan tindak kejahatan untuk menyokong ketagihan mereka pada amfetamin. Mereka mungkin mencuri uang dan barang-barang lain yang dapat mereka jual dari orangtua atau saudara-saudara mereka. Mereka juga mungkin terlibat dalam tindak kejahatan yang lebih berat yang dapat membuat mereka dipenjara atau menempatkan mereka ke dalam keadaan yang sangat berbahaya.Narkoba dan hukum
Memiliki, memakai atau menjual amfetamin secara bebas, di Indonesia merupakan pelanggaran hukum dan dapat dikenakan hukuman pidana berupa penjara dan/atau denda yang berat. Barangsiapa dihukum atas tuduhan yang berkenaan dengan narkoba akan memiliki catatan kriminal. Hal ini dapat menimbulkan masalah-masalah lain dalam hidup; dari kesulitan mendapatkan pekerjaan atau visa perjalanan sampai kesulitan mendapat kesempatan pendidikan, di dalam dan di luar negeri.

Gejala-gejala awal over dosis:

  • Kulit pucat atau membiru.
  • Hilang kesadaran.
  • Melemahnya denyut jantung.
  • Sawan.
  • Kesulitan bernapas.

Apabila Anda menemukan salah satu dari gejala  diatas, carilah pertolongan secepatnya. Meninggalkan seseorang dalam kondisi ini dapat berakibat fatal. Langkah-langkah yang dapat diambil sebelum adanya bantuan:

  • Bebaskan jalan pernafasannya (pada hidung dan mulut).
  • Baringkan dia pada sisi tubuhnya – jika terlentang, dia dapat tercekik bila muntah.
  • Periksa pernafasannya.
  • Periksa detak jantungnya.

Ciri ciri Gangguan Intoksikasi Amfetamin menurut DSM-IV-TR meliputi :

  • Perilaku tidak semestinya atau perubahan psikologis yang signifikan misalnya, euforia, hypervigilance (kewaspadaan yang berlebihan), penilaian yang terhambat, fungsi yang terhambat, selama atau tidak lama setelah menggunakan amfetamin.
  • Terdapat dua atau lebih dari tanda tanda berikut ini : detak jantung yang meningkat atau berkurang, dilatasi (pembesaran) pupil, mual, berat badan turun secara signifikan, agitasi atau perlambatan psikomotorik, kelemahan otot, kebingungan, kejang kejang atau koma.

Pada dosis rendah, amfetamin dapat menginduksi perasaan girang dan giat serta dapat mengurangi kelelahan. Anda secara harfiah merasa up (naik ke atas). Tetapi setelah periode elevasi, Anda kembali turun dan crash (jatuh), merasa depresi atau lelah. Dalam kuantitas yang cukup, stimulan dapat menimbulkan gangguan penggunaan afetamin (amphetamine use disorders).

Obat ini pada awalnya diresepkan untuk mengontrol berat badannya. Para pengemudi long haul truck, pilot dan sebagian mahasiswa yang berusaha begadang semalaman menggunakan amfetamin untuk mendapatkan energi ekstra dan agar tidak mengantuk. Amfetamin diresepkan untuk para penderita narcolepsy, gangguan tidur yang ditandai oleh perasaan mengantuk yang eksesif.

Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk intoksikasi amfetamin termasuk gejala gejalah perilaku yang signifikan seperti euforia atau afeksi yang menumpul, perubahan dalam sosiabilitas, sensitivitas interpersonal, kecemasan, ketegangan, amarah, perilaku stereotipe, penilaian yang terhambat dan fungsi sosial atau pekerjaan yang terhambat.

Selain itu, gejala gejala fisiologis muncul selama atau tidak lama setelah amfetamin atau substansi substansi terkait dicerna dan dapat meliputi perubahan detak jantung atau tekanan darah, berkeringat atau menggigil kedinginan, mual atau muntah, kehilangan berat badan, kelemahan otot, depresi pernafasan, nyeri dada, kejang kejang atau koma.

Bahaya yang terkandung dalam penggunaan amfetamin dan stimulan lainnya adalah efek efek negatifnya. Intoksikasi berat atau overdosis dapat mengakibatkan halusinasi, panik, agitasi dan delusi paranoid (Mack dan kawan kawan, 2003). Toleransi terbangun dengan cepat, yang membuatnya dua kali lipat lebih berbahaya. Withdrawal substansi ini sering mengakibatkan apati, waktu tidur yang lebih panjang, iritabilitas dan depresi.

Sebuah amfetamin yang disebut methylene dioxymethamphetamine (MDMA) yang disintesiskan untuk pertama kalinya pada 1912 di Jerman, digunakan sebagai penekan nafsu makan (Grob dan Polan, 1997). Penggunaan rekreasional dari obat ini yang sekarang biasa disebut Ecstacy, melonjak tajam pada akhir 1980an. Setelah methamphetamine, MDMA adalah club drug yang paling sering menyeret orang keruang gawat darurat rumah sakit dan telah melampaui frekuensi penggunaan LSD (Substance Abuse and Mental Health Service Administration, 2003b).

Salah seorang penggunanya mendeskripsikan efek efeknya, sangat mirip dengan speed tetapi tanpa disertai kemunduran dan Anda merasa hangat dan trippy (ringan) seperti asam, tetapi tanpa kemungkinan mengalami freaked out (perilaku yang khas pada pemakai obat bius) berat (O Hagan, 1992, hlmn. 10).

Obat ini menimbulkan kecenderungan agresif yang nyata dan tetap tinggal dalam sistem hingga waktu yang lama, lebih lama dibanding kokain, yang membuatnya sangat berbahaya (Sten dan Ellinwood, 1993). Tetapi perasaan menyenangkan dalam jangka pendek yang ditimbulkan oleh amfetamin amfetamin baru ini membuat potensi penggunanya untuk menjadi tergantung kepadanya sangat tinggi, dengan resiko mengalami berbagai masalah jangka panjang yang lebih besar pula.

Nama generic: D-pseudo epinefrin. Nama jalanan: speed, meth, crystal, uppers, whiz, dan sulphate. Bentuk: bubuk warna putih dan keabu-abuan.

Ada dua jenis amphetamine

1. MDMA (Methylene Dioxy Methamphetamin), nama lain: fantacy pils, inex, cece, cein, tidak selalu berisi MDMA karena merupakan designer drug, dicampur zat lain untuk mendapatkan efek yang diharapkan. Dikemas dalam bentuk pil atau kapsul.

2. Methamfetamin, cara penggunaanya, dalam bentuk pil di minum peroral, dalam bentuk kristal dibakar dengan menggunakan kertas aluminium foil dan asapnya dihisap (intra nasal) atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus, dalam bentuk kristal yang dilarutkan, dapat juga melalui intravena.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: