pelita.anak.amaine

Laporan Kunjungan ke Panti Rehabilitasi Narkoba di Setui, Banda Aceh

Posted on: April 8, 2010

Laporan Kunjungan Tanggal 26 Juni 2009

Pada kunjungan kedua dari mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran. Hadir separuh dari mahasiswa psikologi angkatan 2008. Dari nomor urut 1 sampai 37 didampingi 2 Asisten Dosen, Ibu winda dan Ibu Uskur. Dan tepat pukul setengah sepuluh pagi itu sudah berkumpul di depan terminal lama, Setui. Tepat pukul sepuluh pula kami semua tiba di tempat yang kami tuju, yaitu Rehabilitasi Narkotika milik Yayasan Permata Hati Kita, belakang terminal Setui, Banda Aceh.

Setiba disana, kami dipandu oleh seorang psikolog, yang kami disapa Ka’ Ayu, yang didampingi beberapa staf, yang dulunya mantan pecandu narkoba, tetapi kini sudah bekerja dan mengabdi sebagai staff training.

Kemudian kami dipandu untuk masuk dan dipersilahkan duduk di sebuah ruangan. Dan kami duduk bersama 9 pecandu yang 7 diantaranya masih dalam tahap pengobatan, dan 2 dari mereka sedang menjalani tahap menjadi seorang staff training.

Rumoh Geutanyoe Tempat Rehabilitasi Milik Yayasan Permata Hati Kita berdiri tahun 2007. Dan sekarang sudah dihuni 49 orang pecandu yang berasal dari berbagai tempat dari penjuru Nanggroe Aceh Darussalam.

Jadwal yang telah diatur oleh staff Pembina pecandu di Rumoh Geutanyoe adalah sebagai berikut:

Bangun pagi pukul 5.30 pagi, kemudian melaksanakan sholat subuh. Pukul 07.30 setiap pecandu membuat jurnal pagi, yaitu tentang kegiatan yang akan dilakukan dan telah dilakukan kemarin, serta perasaan yang mereka rasakan pada saat bangun pagi ini, kegiatan ini disebut juga membuat jurnal pagi.  Kemudian sarapan. Dan mereka diwajibkan untuk membersihkan kamar, serta tempat tinggal hunian mereka. Setelah itu, kemudian masuk tahap terapi yang dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama pukul 10.00 sampai 11.30. Sesi kedua pukul 14.00 sampai pukul 15.30. Kedua sesi itu untuk melihat perspektif – perspektif penanganan psikologis untuk pecandu. Sesi ini disebut juga treatment, treatment yang dilakukan di Rumoh Geutanyoe, Pure Psikologis, tidak menggunakan obat – obatan dalam pemulihan dan pencegahan narkotika para pecandu.Pada sore harinya mereka dibiasakan untuk berolahraga.

Saat awal pecandu datang ke pusat rehab ini, mereka ditempatkan di ruang isolasi yang terletak di Lantai 2 gedung rehabalitasi, yang bertujuan untuk detoxsifikasi obat, yaitu selama seminggu, paling lama satu setengah minggu pecandu ditempatkan di sana, tergantung kondisi candu, dan jenis obat yang mereka candukan. Biasanya, saat masa detoxsifkasi obat, tidak ada nafsu makan, dan keringat keluar bercucuran karena menahan rasa sakit, yang 7x rasa sakitnya dari sakit gigi dicampur sakit kepala, canda yang diungkapkan oleh mantan pecandu yang sudah menjadi staff training di Rumah Geutanyoe dan menjadi Voluenteer di yayasan AYOMI, Ateuk Pahlawan.

Setelah dinyatakan aman kemudian mereka dipindahkan ke rumah yang sudah disiapkan kamar rapi untuk ditempati. Dan keadaan kamar para pecandu di sana, sangatlah ditata rapih, ruang makan, kamar mandi dan dapur bersih terawat. Satu kamar dihuni 4 orang. Ada 2 tempat tidur bertingkat. 2 lemari. Dan dilengkapi tempat kain kotor dan kain bersih untuk masing – masing orang. Serta tidak lupa dilengkapi pengharum ruangan di tiap – tiap kamar. Suasana di kamar di tata senyaman dan seindah mungkin. Semua itu bertujuan agar para pecandu yang sedang menjalani masa pemulihan dan pengobatan di Rumoh Geutanyoe betah, dan merasa seperti di rumah sendiri.

Asal usul kedatangan para pecandu ke pusat rehabilitasi ini berbeda – beda. Dari 9 orang pecandu yang bersedia berbagi pengalaman dengan kami. Hanya 2 orang diantara mereka yang datang ke pusat rehab karena keinginan untuk sembuh dari diri sendiri. Ada seorang pecandu yang terpaksa harus dibohongi dulu saat di bawa ke pusat rehab. Dengan alasan diajak lari pagi, pecandu satunya lagi dengan alasan orang tua sakit di Banda Aceh oleh keluarganya. Dan tiba – tiba saja diajak ke pusat rehab di bawa ke Lantai 2. Dan di kunci di ruang isolasi. Tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.

Ada 1 pasien yang sudah sempat di RSJ-kan, dan dirawat beberapa lama disana, dan diberi suntikan serta obat – obatan untuk orang penderita gangguan jiwa, sehingga keadaan pecandu tersebut sekarang sangat memprihatinkan. Bicaranya tersendat – sendat, suaranya kecil, dan mengalami kesulitan dalam berpikir dan berbicara.

Di pusat rehabilitasi ini, mereka ditekankan untuk menjalani pola hidup sehat, yaitu pola hidup orang normal, awalnya memang sulit, tetapi dari pengalaman yang diceritakan para pecandu, mereka akhirnya terbiasa, dan merasa nyaman tinggal di pusat rehab. Mereka saling mendukung satu sama lain, begitu juga dengan para staff dan psikolog yang menangani mereka, yang kebetulan satu – satunya psikolog perempuan di rumah rehab tersebut, yang kami temui. Rumoh Geutanyoe hanya menampung para pecandu laki – laki. Karena tidak memungkinkan bila digabung dengan pecandu wanita, karena juga sarana tempat tidak tersedia.

Para pecandu diberi rokok 6 batang/hari. Pemberian rokok mengingat mereka langsung putus obat sejak datang ke pusat rehab, maka rokok bisa membantu sedikit dalam rasa ketersiksaan mereka terhadap putus obat. Tetapi rokok tidak diberikan saat pasien sakau pada awal masa detoksifikasi di ruang isolasi.

Asal mula para pecandu beralih ke narkoba karena mereka tidak mempunyai konsep dan pola hidup yang jelas, orang tua kurang peduli dengan perkembangan mereka. Ada juga yang menggunakan narkoba pada saat masa konflik di Aceh, GAM-RI. Mereka mengenal narkoba sebagian besar pada masa remaja, yaitu SMP sampai menginjak umur 20 an. Mereka mengenal narkoba yaitu dari teman – teman mereka, teman sekolah maupun teman biasa bermain di lingkungan rumah, ada juga dari hanya sekedar coba – coba, sampai mengajak orang lain untuk menggunakan narkoba. Ada 1 dari mantan pecandu yang sekarang sudah menjadi staff training, yang dia mengetahui narkoba dari keluarganya sendiri, saudara – saudaranya banyak menggunakan narkoba, bahkan saat dia sudah tidak menggunakan narkoba lagi, sepupunya malah OD (over dosis) akibat narkoba.

Dari yang diceritakan teman – teman pecandu, sebagian besar dari mereka menggunakan ganja, karena alasan mudah di dapat. Jenis lain seperti pil koplo, minuman keras, minuman steb, bahkan ada pecandu yang sudah mencoba berbagai jenis obat – obatan psikotropika. Hal itu ia lakukan karena sulit mencari jenis obat yang biasa dikonsumsi, jadi kalau sudah sakau, obat apapun yang ia temukan, asal bisa menjadi pengganjal sementara, juga ia konsumsi. Ada juga yang menghirup lem cap kambing. Karena sudah tidak bisa menemukan lagi jenis narkoba apapun disekitarnya.

Uang untuk membeli narkoba, awalnya dari uang jajan sekolah, meminta paksa dari orang tua, saudara, teman dan pacar, sampai menjual barang – barang milik pribadi seperti pakaian, peralatan musik, peralatan sekolah, motor, sampai peralatan milik keluarga. Dan ada juga yang sampai mencuri uang di lemari pakaian orang tua. Apa saja dilakukan demi bisa menebus narkoba dengan sejumlah uang.

Saat seorang sudah menjadi pecandu, mereka sudah tidak peduli lagi dengan keadaan keluarga mereka, menarik diri dari sekolah. Berteriak – teriak sendiri di kamar, bermasalah dengan teman dan keluarga. Mereka hanya fokus dengan narkoba. Tujuan mereka menggunakan narkoba, yaitu awalnya karena ingin melupakan segala masalah yang mereka hadapi, tetapi saat mereka sudah sangat – sangat tergantung dengan narkoba. Dan tidak tau harus menjual apalagi untuk mendapatkan narkoba. Di saat itulah mereka menyesali perbuatan mereka selama ini. Dan menyadari bahwa narkoba tidak menyelesaikan masalah mereka, malah menimbun masalah, dan membuat mereka terpuruk tidak berdaya.

Memang ada usaha untuk berhenti dari ketergantungan terhadap narkoba, dengan mengurangi masa pemakaian, dan kadar pemakaian. Tetapi keadaan lingkungan yang tidak mendukung, bisa memicu penggunaan lagi, kata salah seorang pecandu.

Kesan para pecandu terhadap kehadiran kami disana, mereka sangat senang dan menyambut hangat, mereka pun sangat ingin berbagi dan di dengar. Kehadiran mereka masih dianggap dan kehadiran mereka masih bisa diterima. Bukan menjadi sosok yang disisihkan, tetapi sosok yang dirangkul dan perlu perlakuan khusus. Untuk bisa bergabung dan diterima lagi di masyarakat awam.

Keakraban terjalin diantara kami dengan para pecandu, pecandu yang sedang diobati. Ini terlihat di salah satunya pada pada saat sesi pertanyaan berlangsung. Di akhir pertemuan. Kami berdoa bersama – sama dan dipandu oleh staff training dengan saling bergenggaman tangan satu sama lain. Diakhir kunjungan, kami dipersilahkan untuk melihat – lihat rumah dan ruang – ruang yang ada di pusat rehab itu satu persatu, dan dipandu oleh seorang staff training mantan pecandu dulunya. Tidak lupa acara foto bersama, mahasiswa, asisten dosen, psikolog, dan staff training, dan pecandu. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • pelitanakamaine: berbagi aja ni :) tugas di kuliahan syp tau ad yg perlu mdh2n berguna
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Categories

Archives

%d bloggers like this: